Mungkin anak perlu didisplinkan kali pak. terkadang kita merasa tidak tega/ 
sayang sama anak...tetapi kalo misalnya kita tegas kepada dia sedini mungkin, 
itu akan lebih baik, walau masih kecil. memang saya belum alami ya, karena anak 
baru 6 bulanan. tetapi saya dulu kecil juga bandel. suka lari sana sini, 
manjat, lompat, dll. mama saya kewalahan. pernah membuat mama saya terjatuh 
pingsan karena mengejar saya yang suka lari2. akhirnya dari kejadian tersebut, 
mama memakai rotan kalo saya bandel. dan itu sangt membantu. tidak akan 
menimbulkan dendam dari anak ke ortu. asal memukulnya wajar & jgn terlalu 
keras. misalnya memukul kakinya (tetapi pake rotan). kalau tidak anak akan 
manja, & tidak tunduk hormat sama ortu. jaman sekarang saya pernah dengar rotan 
yang ujungnya dibuat LOVE. artinya memukul karena menga-KASIH-i. demikian 
sharing saya. semoga berguna.
  

Firman Juliansyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Anaknya sangat aktif, ibunya putus asa.
  
  
  Saya punya putra 1.5 tahun. Sangat aktif, hanya diam ketika tidur. Bulan 
oktober, November kami baru pindah ke Jakarta. Di Jakarta, kami tinggal bersama 
kakak kandung saya yang (kebetulan) menempati rumah yang cukup besar (delapan 
kamar tidur, plus ruang tengah, dapur, dan pekarangan yang luas) berlantai dua. 
Meskipun ke kakak, kami juga berusaha membiayai makan dan tinggal sewajar 
mungkin. Di sana, Anak saya sering manjat tralis jendela hingga ketinggian dua 
meter dari lantai, naik motor yang diparkir, dan segera kabur kalo pintu depan 
terbuka sedikit saja. Alhasil istri saya tertekan karena dihantui kecemasan 
atas keselamatan putra kami. Pernah saya usulkan untuk meng-hire pengasuh, 
istri saya cenderung menunda. Di luar jam kerja, saya juga selalu membantu 
segala hal a-z mengurus dan mengasuh anak. Tapi tampaknya istri saya masih saja 
dirundung kecemasan. Padahal di rumah kakak saya, ada banyak orang yang bisa 
dititipi mengasuh (barang 30 menitan).
  
  Akhirnya dia meminta izin saya untuk sementara tinggal di ibunya (mertua 
saya) di sebuah kabupaten di Jabar. Istri saya yakin hal itu akan membuat saya 
dan dia lebih dapat beristirahat. Putra kami pun akan lebih aman dan terurus. 
Saya setuju saja, apalagi mertua dan kakak ipar saya di sana sangat baik, 
pengertian, dan mendukung keputusan kami. 
  
  Sebulan sudah berjalan. Terakhir ibunya mengeluh karena merasa putus asa 
dalam mengurus putra kami. Dia seakan menyatakan ketidaksanggupannya mengurus 
putra kami. Dia merasa sudah terlalu banyak memusingkan mertua saya. Semuanya 
diungkapkan dengan ketulusan dan kesadaran, tidak ada percekcokan. Bahkan dia 
menyarankan saya untuk mencari istri lagi. Waduuh, piyye ikiĀ…?? Dia juga mau 
kembali ke Jakarta namun ingin mengontrak rumah sendiri (yang saya agendakan 
baru dua bulan lagi).
  
  Kemungkinan yang saya akan ambil adalah, istri saya tinggal di Jakarta, masih 
bersama kakak saya, dan menyewa pengasuh; baru jika istri saya betul2 butuh 
tempat sendiri, mungkin satu-dua bulan ke depan kami akan mengontrak rumah.
  
  Apa yang harus saya lakukan untuk istri saya?
  Apa yang harus saya lakukan untuk putra saya?
  
  
  Firman Juliansyah
   
    
---------------------------------
  Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.   

                         

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke