Sekedar bercerita, ya....... Beberapa hari belakangan ini, saya selalu didatangi dan diminta pendapat oleh 2 kawan saya mengenai anak2 nya yang sudah ABG dan mulai pacaran. Kekhawatiran mereka standard, mereka takut anak2 mereka tidak bisa "menjaga diri" dan terjerumus dalam pergaulan bebas. Yang ujung2nya akan mengganggu masa depan mereka yang masih panjang. Saat saya mendengarkan isi SMS yang ada di hp para ABG, saya memang mengambil kesimpulan bahwa mereka sudah mengalami kedewasaan padahal belum waktunya. Kalau dibandingkan gaya pacaran zaman kita dulu dengan sekarang saja sudah berbeda, bagaimana dengan zaman anak2 kita nanti, ya.....??? Saat ini kita saling bertukar fikiran bagaimana membesarkan si kecil. Tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat kelak, jika tali silaturahmi kita tetap berjalan baik, kita akan saling bertukar fikiran tentang anak2 kita yang beranjak ABG.
Regards, YUSRI Sent from my BlackBerry® wireless device -----Original Message----- From: "- Yusri -" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Tue, 12 Feb 2008 02:06:29 To:[email protected] Subject: Re: [Ayahbunda-Online] fwd: ANAKKU MEMBENCIKU Ikut sharing, ya...... Hal yang paling sulit dalam mendidik anak2 adalah menerapkan DISIPLIN dan SOPAN SANTUN dengan penuh KESABARAN dan KETEGASAN tanpa KEKERASAN. Seorang anak terlahir tanpa pengetahuan disiplin, sopan santun dan ilmu pengetahuan. Yang mereka bawa sejak lahir adalah naluri. Naluri utk menyalurkan kasih sayang, naluri utk disayang dan naluri utk "mengcopy" semua yang dia lihat di lingkungan sekeliling dan apa yang disuguhkan lewat tontonan. Semua tergantung stimulasi yang kita berikan baik langsung atau tidak langsung. Dan Tuhan tidak membekali anak yang baru lahir dengan sifat "MEMBENCI" Jadi saya tidak melihat anak yang marah2 atau tidak sopan pada kita karena MEMBENCI kita. Dalam menerapkan suatu pendidikan pada anak dengan cara "terlalu" sabar dan "terlalu" tidak sabar juga kurang baik. Terlalu sabar tanpa sikap TEGAS akan menimbulkan masalah. Anak tidak akan memiliki rasa HORMAT dan SEGAN terhadap kita. Sikap tidak sabar juga akan menimbulkan masalah. Menuntut perubahan pada anak2 ke arah yang baik butuh waktu dan proses. Dan kita wajib selalu mengingatkan berulang-ulang. Sampai saat ini saya masih harus mengingatkan anak2 saya (usia 10thn dan 8thn) utk bersikap sopan terhadap orang yang lebih tua (org tua, PRT, tamu yg datang, org lain yg lebih tua, dsb). Saya mengajarkan mrk utk memberi salam, tidak memotong pembicaraan, dsb. Dan itu harus diingatkan berulang-ulang. Kalau anak menjadi PEMARAH atau KASAR kita harus cari tahu "dari mana dan dari siapa dia mengcopy". Apakah dari PRT, dari kawan2 bermain, atau dari tayangan TV. Soalnya akan sia2 kalau sopan santun yang kita terapkan pada anak2 tapi sikap para PRT atau orang2 disekelilingnya dan tontonan TV tidak mendukung. Dan hal yang paling penting dalam mendidik anak2 adalah konsistensi kita pada aturan yang sudah dikeluarkan. Kalau saya akan mengeluarkan peraturan/ keputusan/hukuman pada anak2 saya harus memikirkan baik2 supaya peraturan/keputusan/hukuman itu bisa dilaksanakan dan tidak akan dirubah/dianulir hanya dengan tangisan atau rengekan. Peraturan/keputusan/hukuman bisa berubah dengan catatan ada perubahan dari sikap anak2 itu sendiri. Contoh: kalau anak saya susah utk belajar, saya beri peringatan tidak boleh main PS. Kalau sudah berulang2 terjadi, saya ambil tindakan ....PS saya kunci dalam lemari. Hukuman tidak dianulir hanya dengan rayuan, rengekan bahkan tangisan. Kalau sudah ada perubahan pada anak2, hukuman baru dicabut. Sikap TEGAS seperti itu saya terapkan sejak anak2 saya kecil. Saat masih usia 2thn, anak2 saya sering merengek minta mainan di toko. Jika memang tidak ada perjanjian membeli mainan, walaupun anak saya menangis berteriak pun (di toko) saya tetap tidak akan merubah keputusan hanya karena MALU. Utk menerapkan sikap TEGAS tidak perlu dengan cara BERTERIAK. Dengan cara halus tapi dengan nada tekanan saja, anak2 juga akan mengerti bahwa kita tidak "main2" dengan sikap kita. Jadi kalau boleh saya simpulkan, dalam mendidik anak2 harus dengan resep: SABAR, TEGAS dan KONSISTEN. Regards, YUSRI Sent from my BlackBerry® wireless device -----Original Message----- From: "Tjahjo Liniarti" <Tjahjo_liniarti@ <mailto:Tjahjo_liniarti%40bca.co.id> bca.co.id> Date: Tue, 12 Feb 2008 07:06:48 To:<Ayahbunda-Online@ <mailto:Ayahbunda-Online%40yahoogroups.com> yahoogroups.com> Subject: Re: [Ayahbunda-Online] fwd: ANAKKU MEMBENCIKU Ibu, kalau boleh saya kasih saran, sebaiknya Ibu mulai berusaha untuk mengendalikan emosi Ibu dan mencoba menjadi lebih sabar lagi.... Kalau Ibu mau, semua pasti bisa ok.... Karena emosi dan sabar bukan merupakan sifat dasar yang kita miliki sejak lahir dan tumbuh selama masa pertumbuhan kita, dipengaruhi juga oleh lingkungan dimana kita tumbuh dan berkembang, jadi kedua sifat itu mungkin saja tidak bisa hilang karena sudah tertanam lama didalam diri kita, namun bisa dikurangi kok.... Saya juga dulu sebelum kawin dan punya anak, emosinya suka meledak-ledak, bahkan sampai sesudah punya anak juga terkadang masih suka emosi berlebihan, apalagi kalau di kantor lagi ada masalah kemudian anak di rumah badung, jadinya suka kesal sendiri dan kemudian marah-marah sampai banting pintu, bahkan di depan mertua lho.... Tapi setelah satu anak saya meninggal, saya jadi menyesal seumur hidup saya.... andaikan saya tahu umur anak saya sependek itu (tidak sampai 3 tahun), saya pasti tidak akan marah-marah dengan anak saya (dulu kalau saya kesal dengan suami atau mertua, saya terkadang suka melampiaskan kemarahan saya ke anak saya, bukan dengan pukulan, tapi jika anak saya badung, menjadi satu alasan bagi saya untuk memarahinya).... Jadi sekarang saya mencoba untuk sabar dan meredam kekesalan hati saya di depan anak saya, sebadung apapun, saya berusaha untuk tidak memarahinya, saya mencoba supaya nada suara saya tidak meninggi, dan menurut saya sh, so far cukup berhasil yah.... saya cukup membayangkan bagaimana seandainya besok Tuhan tiba-tiba memanggil anak saya itu, sementara hari ini saya memarahinya habis-habisan.... Umumnya anak meniru sifat kita Bu, dari sejak lahir dan terbentuk dengan melihat perilaku kita pada saat pertumbuhannya.... Mudah-mudahan setelah anak Ibu melihat kesabaran Ibu dan suami, akhirnya dia pun akan berkurang kemarahannya, dan kalaupun marah tidak sampai ekstreme dengan membenturkan kepalanya ke tembok.... Maaf kalau kepanjangan (sekalian curhat) dan jika jawabannya kurang dapat membantu.... Nini Mama Michelle ----- Original Message ----- From: b151nk b151nk <mailto:[EMAIL PROTECTED] <mailto:b151nk%40yahoo.com> com> To: Ayahbunda-Online@ <mailto:Ayahbunda-Online@ <mailto:Ayahbunda-Online%40yahoogroups.com> yahoogroups.com> yahoogroups.com Sent: Friday, February 08, 2008 3:17 PM Subject: [Ayahbunda-Online] fwd: ANAKKU MEMBENCIKU Ayah Bunda, Bagaimana menurut kalian kalau kasus berikut? >ANAKKU MEMBENCIKU > >Aybun, saya bingung sekali dengan anak saya yg belum genap 2 tahun. Sebagai >seorang ibu, hancur hati saya kalo melihat anak saya >kerap melawan saya >dengan cara menendang, melotot, menyubit, atau dia mengancam dirinya dengan >pukul kepala atau >membenturkan kepala. Memang suami saya orangnya sabar dan >saya tidak, makanya kadang saya kerap emosi kalau lihat anak saya >tidak >menurut kepada saya. Beda sekali dengan ayahnya yang penyabar. Sebagai info, >saya sendiri bukan anak yang dekat dengan ayah >ibu saya, jadi saya sendiri >sudah terbiasa dengan sikap ayah ibu saya yg cuek kepada saya. Anak saya >tidak saya cueki n, bahkan saya >sangat sayang kepadanya, cuma penolakan2nya >membuat hati ini sakit.. >Tolong masukan apa yang harus saya lakukan ketika anak saya mulai mengamuk, >atau tips2 apa supaya saya sendiri sabar dan tidak >emosional melihat tingkah >anak saya. > > ---------------- Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. <http://us.rd. <http://us.rd.yahoo.com/evt=51733/*http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ> yahoo.com/evt=51733/*http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ > ---------------- ::BCA::
