Dear moms...Kuncinya adalah kesabaran dan kelembutan. Dulu anak ku
kalo marah jg seperti itu. Makin aku terbawa emosi, makin dia
menjadi2. Akhirnya aku cape sendiri. Dan aku coba saat dia lg marah2,
aku balas dgn kelembutan...Akhirnya dia mulai meninggalkan
kebiasaannya itu. Memang dia tdk langsung berubahdan perlu kesabaran
dr kita utk menahan emosi. --- In [email protected],
Maya Salim Mubarak
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear All,
>
> menanggapi hal ini, aku ada sedikit pertanyaan, bagaimana kl sikap
kasar dan pemarah anak krn lingkungan sekitar? sebagai contoh anakku
albar (laki2 usia 11 bulan) sdh bisa merengek jika minta sesuatu, dan
suka teriak2, aku juga sempet heran, knp anakku tingkahnya seperti
itu yah, dan kemudian aku selidiki, ternyata dia meniru sikap teman
mainnya yg suka teriak2 dan berlaku tdk sopan terhadap org yg lebih
tua, suka menyiksa binatang dan nakal sekali dgn teman2nya. saat ini
sangat khawatir, takut anakku mengikuti sikap temannya itu! aku suka
larang dia untuk main, tp anakku menangis kl melihat temannya itu!
apa yah yg hrs aku lakukan? terima kasih
>
>
>
> ----- Original Message ----
> From: - Yusri - <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Tuesday, February 12, 2008 9:06:29 AM
> Subject: Re: [Ayahbunda-Online] fwd: ANAKKU MEMBENCIKU
>
>
> Ikut sharing, ya......
> Hal yang paling sulit dalam mendidik anak2 adalah menerapkan
DISIPLIN dan SOPAN SANTUN dengan penuh KESABARAN dan KETEGASAN tanpa
KEKERASAN.
> Seorang anak terlahir tanpa pengetahuan disiplin, sopan santun dan
ilmu pengetahuan. Yang mereka bawa sejak lahir adalah naluri. Naluri
utk menyalurkan kasih sayang, naluri utk disayang dan naluri utk
"mengcopy" semua yang dia lihat di lingkungan sekeliling dan apa yang
disuguhkan lewat tontonan.
> Semua tergantung stimulasi yang kita berikan baik langsung atau
tidak langsung.
> Dan Tuhan tidak membekali anak yang baru lahir dengan sifat
"MEMBENCI"
> Jadi saya tidak melihat anak yang marah2 atau tidak sopan pada kita
karena MEMBENCI kita.
>
> Dalam menerapkan suatu pendidikan pada anak dengan cara "terlalu"
sabar dan "terlalu" tidak sabar juga kurang baik. Terlalu sabar tanpa
sikap TEGAS akan menimbulkan masalah. Anak tidak akan memiliki rasa
HORMAT dan SEGAN terhadap kita. Sikap tidak sabar juga akan
menimbulkan masalah. Menuntut perubahan pada anak2 ke arah yang baik
butuh waktu dan proses. Dan kita wajib selalu mengingatkan berulang-
ulang.
>
> Sampai saat ini saya masih harus mengingatkan anak2 saya (usia
10thn dan 8thn) utk bersikap sopan terhadap orang yang lebih tua (org
tua, PRT, tamu yg datang, org lain yg lebih tua, dsb). Saya
mengajarkan mrk utk memberi salam, tidak memotong pembicaraan, dsb.
Dan itu harus diingatkan berulang-ulang.
>
> Kalau anak menjadi PEMARAH atau KASAR kita harus cari tahu "dari
mana dan dari siapa dia mengcopy". Apakah dari PRT, dari kawan2
bermain, atau dari tayangan TV. Soalnya akan sia2 kalau sopan santun
yang kita terapkan pada anak2 tapi sikap para PRT atau orang2
disekelilingnya dan tontonan TV tidak mendukung.
>
> Dan hal yang paling penting dalam mendidik anak2 adalah konsistensi
kita pada aturan yang sudah dikeluarkan.
> Kalau saya akan mengeluarkan peraturan/ keputusan/hukuman pada
anak2 saya harus memikirkan baik2 supaya peraturan/keputusan /hukuman
itu bisa dilaksanakan dan tidak akan dirubah/dianulir hanya dengan
tangisan atau rengekan. Peraturan/keputusan /hukuman bisa berubah
dengan catatan ada perubahan dari sikap anak2 itu sendiri.
> Contoh: kalau anak saya susah utk belajar, saya beri peringatan
tidak boleh main PS. Kalau sudah berulang2 terjadi, saya ambil
tindakan ....PS saya kunci dalam lemari. Hukuman tidak dianulir hanya
dengan rayuan, rengekan bahkan tangisan. Kalau sudah ada perubahan
pada anak2, hukuman baru dicabut.
> Sikap TEGAS seperti itu saya terapkan sejak anak2 saya kecil. Saat
masih usia 2thn, anak2 saya sering merengek minta mainan di toko.
Jika memang tidak ada perjanjian membeli mainan, walaupun anak saya
menangis berteriak pun (di toko) saya tetap tidak akan merubah
keputusan hanya karena MALU.
>
> Utk menerapkan sikap TEGAS tidak perlu dengan cara BERTERIAK.
Dengan cara halus tapi dengan nada tekanan saja, anak2 juga akan
mengerti bahwa kita tidak "main2" dengan sikap kita.
>
> Jadi kalau boleh saya simpulkan, dalam mendidik anak2 harus dengan
resep: SABAR, TEGAS dan KONSISTEN.
>
> Regards,
> YUSRI
> Sent from my BlackBerry® wireless device
>
> -----Original Message-----
> From: "Tjahjo Liniarti" <Tjahjo_liniarti@ bca.co.id>
>
> Date: Tue, 12 Feb 2008 07:06:48
> To:<Ayahbunda-Online@ yahoogroups. com>
> Subject: Re: [Ayahbunda-Online] fwd: ANAKKU MEMBENCIKU
>
>
> Ibu, kalau boleh saya kasih saran, sebaiknya Ibu mulai berusaha
untuk mengendalikan emosi Ibu dan mencoba menjadi lebih sabar
lagi....
> Kalau Ibu mau, semua pasti bisa ok....
> Karena emosi dan sabar bukan merupakan sifat dasar yang kita miliki
sejak lahir dan tumbuh selama masa pertumbuhan kita, dipengaruhi juga
oleh lingkungan dimana kita tumbuh dan berkembang, jadi kedua sifat
itu mungkin saja tidak bisa hilang karena sudah tertanam lama didalam
diri kita, namun bisa dikurangi kok....
>
> Saya juga dulu sebelum kawin dan punya anak, emosinya suka meledak-
ledak, bahkan sampai sesudah punya anak juga terkadang masih suka
emosi berlebihan, apalagi kalau di kantor lagi ada masalah kemudian
anak di rumah badung, jadinya suka kesal sendiri dan kemudian marah-
marah sampai banting pintu, bahkan di depan mertua lho....
> Tapi setelah satu anak saya meninggal, saya jadi menyesal seumur
hidup saya....
> andaikan saya tahu umur anak saya sependek itu (tidak sampai 3
tahun), saya pasti tidak akan marah-marah dengan anak saya (dulu
kalau saya kesal dengan suami atau mertua, saya terkadang suka
melampiaskan kemarahan saya ke anak saya, bukan dengan pukulan, tapi
jika anak saya badung, menjadi satu alasan bagi saya untuk
memarahinya) ....
>
> Jadi sekarang saya mencoba untuk sabar dan meredam kekesalan hati
saya di depan anak saya, sebadung apapun, saya berusaha untuk tidak
memarahinya, saya mencoba supaya nada suara saya tidak meninggi, dan
menurut saya sh, so far cukup berhasil yah....
> saya cukup membayangkan bagaimana seandainya besok Tuhan tiba-tiba
memanggil anak saya itu, sementara hari ini saya memarahinya habis-
habisan. ...
> Umumnya anak meniru sifat kita Bu, dari sejak lahir dan terbentuk
dengan melihat perilaku kita pada saat pertumbuhannya. ...
> Mudah-mudahan setelah anak Ibu melihat kesabaran Ibu dan suami,
akhirnya dia pun akan berkurang kemarahannya, dan kalaupun marah
tidak sampai ekstreme dengan membenturkan kepalanya ke tembok....
>
> Maaf kalau kepanjangan (sekalian curhat) dan jika jawabannya kurang
dapat membantu....
>
> Nini
> Mama Michelle
>
>
> ----- Original Message -----
> From: b151nk b151nk <mailto:[EMAIL PROTECTED] com>
> To: Ayahbunda-Online@ <mailto:Ayahbunda-Online@ yahoogroups. com>
yahoogroups. com
> Sent: Friday, February 08, 2008 3:17 PM
> Subject: [Ayahbunda-Online] fwd: ANAKKU MEMBENCIKU
>
> Ayah Bunda,
> Bagaimana menurut kalian kalau kasus berikut?
>
>
>
> >ANAKKU MEMBENCIKU
> >
> >Aybun, saya bingung sekali dengan anak saya yg belum genap 2
tahun. Sebagai seorang ibu, hancur hati saya kalo melihat anak saya
>kerap melawan saya dengan cara menendang, melotot, menyubit, atau
dia mengancam dirinya dengan pukul kepala atau >membenturkan kepala.
Memang suami saya orangnya sabar dan saya tidak, makanya kadang saya
kerap emosi kalau lihat anak saya >tidak menurut kepada saya. Beda
sekali dengan ayahnya yang penyabar. Sebagai info, saya sendiri bukan
anak yang dekat dengan ayah >ibu saya, jadi saya sendiri sudah
terbiasa dengan sikap ayah ibu saya yg cuek kepada saya. Anak saya
tidak saya cueki n, bahkan saya >sangat sayang kepadanya, cuma
penolakan2nya membuat hati ini sakit..
> >Tolong masukan apa yang harus saya lakukan ketika anak saya mulai
mengamuk, atau tips2 apa supaya saya sendiri sabar dan tidak
>emosional melihat tingkah anak saya.