Dear Mbak Brigita, Pertama-tama, selamat ya atas kehamilan mbak Brigita. Semoga kehamilannya berjalan dengan sehat, lancar dan sukses hingga melahirkan. Amin.
Kedua, selamat juga atas keberuntungan mbak Brigita yang telah memiliki suami dengan penghasilan yang jauh dari cukup untuk kebutuhan keluarga. Kenapa saya bilang beruntung? Karena dengan situasi seperti itu, mbak Brigita, sebagai calon ibu tidak perlu susah payah bekerja membanting tulang hanya untuk menambah penghasilan keluarga. Mbak, kehadiran seorang anak dalam suatu rumah tangga itu amat sangat membahagiakan. Apalagi jika anak tersebut adalah merupakan anak pertama bagi pasangan suami dan istri. Saya sarankan, lebih baik mbak Brigita menikmati dulu masanya menjadi a career woman. Namun, setelah baby-nya lahir or menjelang kelahirannya kelak, saya sarankan lebih baik mbak Brigita menikmati masa-masa menjadi Full Time Mother. Dengan hadirnya si kecil, dengan kita menggendongnya serta menatapnya, ikatan batin kita dengan si kecil seakan bicara. Berat deh rasanya untuk ninggalin bayi kita kepada orang lain, sekalipun itu kepada mertua or orangtua kita sendiri. Rasanya, kita lebih yakin dan percaya kalau kita sendiri yang merawatnya. Percaya deh mbak, suatu saat nanti, saya yakin, setelah si kecil lahir, mbak Brigita pasti sudah tau apa yang mbak Brigita harus lakukan sebagai seorang istri dan ibu sekaligus. Mbak Brigita pastinya akan ingin lebih dekat dengan anak dan suami. Lebih ingin yang pertama tau atau bahkan yang pertama mengajarkan perkembangan si kecil, mulai dari tengkurep sampai dengan bicara dan sebagainya. Perkembangan anak itu sangat cepat loh...dan sangat indah untuk diamati. It's an unfortunate that I am a working mother. Namun demikian, saya selalu berusaha untuk selalu dekat dan untuk selalu yang mengurus Jacinda. Sebelum berangkat kerja, saya berusaha untuk mengurusnya. Mulai dari menggantikan diapers-nya, membuatkan susu formulanya, menggantikan pakaiannya, menggendongnya sejenak, mengajaknya bicara, pamit padanya untuk berangkat bekerja dsb. atau apalagi dia masih tidur, saya tidak akan pernah absen untuk menciumnya, pamit berangkat kerja padanya, dan membisikkan kata-kata yang manis ditelinganya, berharap ia tetap mengerti dan mendengarnya meskipun sedang bobo. Disela-sela waktu kerja, saya selalu menyempatkan diri untuk menelfon ke ibu mertua, menanyakan kabar Jacinda, sedang apa dia, sudah makankah belum, lalu kadang mengobrol dengan Jacinda di telfon, membiasakan dia mendengar suara maminya di telfon. Lalu pada saat pulang kantor, saya segera menggendongnya, setelah membersihkan diri terlebih dahulu. Memberinya ASI, bercanda padanya, mengganti diaper-nya, mengganti pakaiannya, menidurkannya hingga esok paginya. Dan kalau hari libur dan weekends, sayalah yang mengurusnya mulai dari A hingga Z. Ibu mertua sudah tidak megang-megang Jacinda lagi. Thank God, hingga detik ini, Jacinda sangat dekat dengan saya. Dia belum bisa tidur kalau belum ketemu saya (ketemu nenennya). Dan dia sudah mulai manja sekali dengan saya. Dan ini merupakan suatu kebahagiaan yang ngga ada duanya. Ada teman saya yang kondisinya jauh berbeda loh mbak. Anaknya baru berumur 4 bulan, tapi sudah jauh batinnya dengan ibunya. Kalo bobo maunya sama Baby Sitter, bukan sama ibunya. Mau makan, maunya cuma sama BS, ngga mau sama ibunya. Bahkan sudah tidak mau ngempeng tete ibunya lagi. Hmmm...kalau sudah begitu, pasti yang ada si ibu panik, sedih, dan ngga tau mesti gimana lagi, yang jelas segala cara pasti mereka akan tempuh supaya si kecil mau dekat lagi sama ibunya juga mau nete lagi sama ibunya. So mbak Brigita, it'd be wise for you to leave your job and to take care of your child, since you have no financial problem. Ok, hope this awakes a mother-side in you. Cheers, Jacinda's Mom 2008/4/21 brigita_pj <[EMAIL PROTECTED]>: > Dear All, > > Seneng banget deh gabung di Ayahbunda-online group ini, rasanya > pengetahuan tentang anak dan kehamilan makin bertambah dengan > sharingnya teman-teman semua. > > Kebetulan aku baru hamil jalan 2 bulan, jadi masih pada > puncak-puncaknya rasa mual apalagi pagi hari. Pasti Ibu-Ibu sudah pada > pernah ngalami kan? Kebetulan suamiku bekerja di penegeboran minyak > bumi yang mengharuskan beliau untuk pergi meninggalkan keluarga pada > waktu relatif lama, sehingga sering tidak tega melihat aku tetap > bekerja. Namun gimana ya...? Aku sendiri bingung kalau aku resign, > sayang banget dengan pekerjaan dan lingkungan kantor tapi kalau tetap > kerja, badan sering diajak susah kompromi apalagi nanti setelah si > Mungil lahir rasanya gak tega ninggalin ia sendirian karena di Jakarta > ini kami enggak ada saudara yang dekat dan kedua ortu kami masih > bekerja sehingga tidak mungkin ikut kami mensupervisi Mbak atau Suster > (kebetulan kami belum mencari suster tersebut) > > Terus terang kalau saya resign selain teman-teman dan lingkungan kerja > saya tidak kehilangan banyak, karena Pendapatan suami jauh dari cukup > untuk kebutuhan keluarga. Mohon saran atau sharingnya kalo ada yang > memiliki pengalaman yang sama. Terima kasih banyak. > > Brigita > Jakarta-Utara > > > -- Rini Sumadi Marketing and Research Consultant Control Risks Sampoerna Strategic Square South Tower, Level 23 Jl Jend Sudirman Kav 45 - 46 Jakarta 12930 Tel. 021-5772433 Fax 021-5772435 HP 0812 106 3008/0818 852 756
