Allo Angelina,

ada satu hal yang ditekankan mamaku kepada ke-4 anaknya. Begitu kami
menikah, kami harus keluar dari rumah mama. Maksudnya ya langsung di
rumah sendiri, entah ngontrak atau syukur2 bisa langsung punya rumah
sendiri. Waktu dibilangin begitu sih kaminya iya-iya aja. Kan belum
kebayang mau menikah, karena waktu dibilangin itu pada masih sekolah
semua. Sekarang aku mengerti maksudnya.

Memang aku gak pernah ngalamin apa yang Mbak alamin. Aku memang pernah
tinggal di mertua setelah melahirkan, karena mertua pengen deket cucu
pertamanya. Syukurlah gak ada cerita macem2. Hubungan kami baik-baik
saja. Bahkan juga dengan pembantu Mama. Tapi, bagaimanapun juga,
seenak apapun juga tinggal bersama orang tua/mertua, tetep lain dengan
kalo kita di rumah sendiri. Tiap rumah pasti punya aturan dan
kebiasaan sendiri. Walaupun baik, belum tentu cocok dengan penghuni
baru rumah itu. Kalo menurut pikiran saya, walaupun kelihatannya
keadaan tenang2 saja, bisa jadi didalamnya tidak setenang itu. Setiap
ganjalan kecil, yang tidak bisa dikeluarkan (karena segan/sungkan,
malu, dll), bisa menumpuk, dan mengakibatkan konflik lain yang lebih
besar. Misalnya, ya seperti yg Mbak alami, kekesalan sama mertua/prt
mertua, tidak bisa langsung diomongkan, larinya ke suami/anak. Bisa
bayangkan apa yang aku maksud kan?

Memang aku juga gak tau ya apa alesan2 yang melatar belakangi kenapa
Mbak tinggal di rumah mertua. Tapi menurut aku, seandainya mungkin,
solusi terbaik memang segera pindah rumah. Mungkin mencari
penyelesaian dengan bicara pada yang bersangkutan bisa ditempuh, tapi
belum tentu berjalan dengan mulus, ataupun kalo berhasil, belum tentu
tidak menghasilkan ganjalan, yang justru bisa berpotensi sebagai
sumber konflik di masa yang akan datang. 

Semoga membantu ya.

Salam,
Grace

Kirim email ke