Buat mbk lisa,
Gk kok mbk lapor aja gk pake bayar. Paling sebagai ucapan terima ksh aja mgkn.
Tp itupun gk harus. Tp kalo polisinya dah narget, langsung aja liat namanya mbk
diadukan ke atasan ato ke link pengaduan di mabes polri biasanya ada via
email,sms ato tlp.
(Mg membantu ya mbk)
mayadeny Cantik
Ndanya Ata & Chika ♥
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
-----Original Message-----
From: "Andi Meilisa Damoza" <[email protected]>
Date: Wed, 28 Jan 2009 01:47:58
To: <[email protected]>
Subject: Re: [Ayahbunda-Online] hati2 modus baru penipuan
Mba Yusri,
Kalo laporin penipuan seperti itu ribet ga yah? Harus bayar ngga? Soalnya kata
temen saya, laporin ke polisi harus bayar kalo ngga ya ngga diproses secara
serius.
Bener begitu ya mba? Ada yg polisi ngga di milis? Mohon penjelasannya.
Love,
Lisa
Sent from Lisa's BlackBerry®
-----Original Message-----
From: "- Yusri -" <[email protected]>
Date: Wed, 28 Jan 2009 01:02:19
To: <[email protected]>
Subject: Re: [Ayahbunda-Online] hati2 modus baru penipuan
Dear Pak Sam
Ma'af saya bertanya. Apakah bapak sudah melaporkan hal ini pd yg berwajib?
Klu info bapak demikian lengkap, rasanya akan sangat mudah polisi menelusuri
kasus ini.
Regards,
YUSRI
email: [email protected]
YM: yusri_smpn1
Sent from my BlackBerry® wireless device
-----Original Message-----
From: sam bismo <[email protected]>
Date: Tue, 27 Jan 2009 09:46:26
To: <[email protected]>
Subject: [Ayahbunda-Online] hati2 modus baru penipuan
Dear All,
Kejadian
ini dialami papa saya. Hari senin kemarin (5 January), papa saya
menemukan satu amplo coklat di jalan (seperti amplop surat biasa) ada
tulisannya dokumen penting, dan ada nama perusahaan + nomor telpon dan
HP. Setelah dibuka, ternyata amplop itu berisi surat keterangan
kepemilikan tanah, SIUP dan cek senilai 4,7 milyar.
Sekilas terlihat surat-surat tersebut asli. Karena
merasa kasihan dengan yang kehilangan surat-surat penting tersebut,
papa saya langsung menghubungi no telpon yang ada di amplop surat tsb.
Telepon pertama dijawab dengan pengiriman SMS, katanya : Sekiranya
penyampaian anda benar, sy atas nm perusahaan ucapklan terima kasih
& jg km bersedia memberikan konpensasi uang tunai Rp.120 jt kepada
saudara, namun tentunya sy mesti cek dulu kebenarannya Jd harap anda
SMS kan No. REG yang tertera di luar amplop No. PDN yang ada pd SIUP
utk km sesuaikan.
Kemudian papa saya langsung membalas SMSnya yang diminta, yaitu menyebutkan
no. REG dan NO. PDN.
SMS kedua dibalas lagi : Laporan anda tlh sesuai,
apabila anda tdk keberata, kam mohon kesediaan anda membawa dokumen itu
ke SURABAYA di alamat perusahaan yg tertera pd SIUP. Km akan transfer
dulu Rp. 20 juta agar anda ada ongkos jalan ke SURABAYA, sisanya sy
serahkan stlh dokumen/cek tsbt sudah sy terima, demi memudahkan semua
urusan, silahkan anda SMS kan No. Rekening anda dengan lengkap utk sy
stransferkan dulu yg Rp. 20 jt. sekali lg sy ucapkan terima kasih atas
kebaikan anda.
Ada sedikit kecurigaan yang muncul dari suami saya,
(setelah sy ceritakan kejadiannya) , kenapa mesti mengantarkan ke
Surabaya ? Kalau itu dokumen penting perusahaan, kenapa ga dia aja
yang datang ke kita....... Tapi papa saya masih berfikir positif.....
... lalu papa saya mengirim SMS memberitahukan no. rekening mama saya
di BCA, karena dengan anggapan BCA banyak yang punya dan lebih mudah.
Setelah SMS ketiga ini dikirim, agak lama mendapat
balasan dari orang tersebut. Akhirnya kami dapat balasan SMS, yang
berbunyi : Keuangan sebesar Rp. 20.000.000 telah saya stranster, mohon dicek
dulu dan harap hubungi saya sebentar apabila uang sdh masuk.
Kira-kira 15 menit setelah mendapat SMS, Mama saya
langsung mengecek ATM, tetapi uang yang dimaksud belum masuk.
Kira-kira 15 menit kemudian, papa saya menelpon orang tersebut, dan
mengatakan bahwa kami belum terima transferannya. Orang tersebut
menjelaskan (yang menurut papa saya agak berbelit-belit) , kemudian,
telponnya diserahkan ke saya, jadi saya yang berbicara dengan orang
tersebut. Orang itu mengatakan bahwa seharusnya ibu langsung telpon
dia pada saat masih di ATM. Saya langsung curiga, hal seperti ini
sudah sering saya dengar dan alami, model penipuan yang secara tidak
sadar akan menuntun kita untuk mentransfer uang ke orang jahat itu.
Tetapi saya pura-pura tidak tahu, dan tetap tenang. Lalu saya tanya
kenapa demikian Pak, bukannya kalau mau transfer, tinggal transfer aja,
kalo bank nya sama kan online, pasti langsung diterima. Orang tersebut
bilang, bahwa bank perusahaan mereka bank asing, jadi ada kodek ceknya,
dia bilang, kalau ibu di ATM, akan dituntun dan diberitahukan kode
ceknya. Semakin memperkuat kecurigaan saya. Terus saya bilang, bapak
bank nya apa, dia bilang bank asing. Saya balik tanya, iya bank asing
khan ada namanya, namanya apa. Dia menyebutkan bank perusahaannya ada
BCA, Mandiri..... .(dalam hati, saya ketawa, bank asing koq BCA,
Mandiri???), saya langsung laudspeaker hp papa saya biar orang dirumah
mendengar semua....... .Nada bicara orang tersebut sudah kedengaran gak
sabar, mendengar ucapan saya yang saya bilang, ya sudah Pak, kita akan
cek lagi aja besok, kalau memang sudah ditransfer pasti sudah masuk.
Orang itu ngotot untuk saya ngecek lagi saat itu juga di ATM sambil
telpon dia, saya ga mau. Lalu orang itu bilang "ya sudah kalau ibu
tidak mau mengikuti prosedur perusahaan kami!", sambil tutup telpon
(lho koq dia yang marah....??)
Saya bilang ke papa saya, bahwa ini murni penipuan,
tapi model baru... yakni dengan menyebarkan amplop yang isinya surat
berharga palsu (seolah-olah surat tersebut terjatuh), dengan harapan
ada yang berniat baik menghubungi dia, jadi korban yang ditargetkan
mereka random, sukur-sukur bisa di jadikan korban.
Saya bersyukur, orang tua saya tidak menjadi
korban penipuan model baru ini. Dan semoga dengan saya sharing seperti ini,
tidak ada yang menjadi korban mereka.
Nama Bapak tersebut : Lum**sono T*i Sardjono (Presiden Direktur) no. HP 0813
34 940 118
Nama perusahaan : PT MI*O GR**A PA**NDO, Jl. Kertajaya Indah Timur 14 C-9,
Surabaya-Indonesia, telp (031) 3551103.
Kalau ada yang mau lihat dokumennya ada foto si bapaknya juga, saya ada,
nanti saya japri.
Mohon maaf, kalau ceritanya kepanjangan.
Thank You & Best Regards,
Sam Bismo Wicaksono