Isu Lingkungan di Sekitar Kita Penulis : Bunda Zahra ([email protected])
Siapa tak 'ngeh' dengan istilah Global Warming. Buah hati kita yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak pun sudah di kenalkan dengan istilah ini di sekolahnya. Bahkan diakui atau tidak hal-hal yang terkait dengan kampanye Global Warming sempat dan masih menjadi trend. Entah itu sebagai bungkus suatu perusahaan untuk mempromosikan produknya atau sekedar thema tanpa esensi, sekedar ikut trend. Apapun motivasi setiap orang untuk ikut berkampanye global warming, walaupun mulanya hanya sekedar ikut trend, semoga itu menjadi media tumbuhnya kesadaran untuk peduli dengan lingkungan dan alam. Bijak dan efisien memanfaatkan sumber daya alam. Sekedar berbagi pengetahuan, isu yang berkaitan dengan penyelematan planet yang kita tinggali nyatanya bukan hanya Global Warming atau efek rumah kaca yang disebabkan timbunan gas CO2 yang dihasilkan bahan bakar minyak dan batu bara. Kedua masalah lingkungan ini bisa dikatakan erat kaitannya dengan keseharian Bunda, yaitu deterjen dan plastik. Deterjen Hati-hati terjebak iklan deterjen di televisi. Beberapa produk deterjen mengklaim berbusa melimpah sehingga berdaya cuci kuat, padahal tidak ada hubungan antara banyaknya busa yang dihasilkan dan daya cuci. Busa dari deterjen di hasilkan dari alkyl benzene sulfonate rantai bercabang (ABS) dan alkyl benzene sulfonate rantai lurus (LAS) yang merupakan zat aktif pada deterjen. Keduanya berfungsi menurunkan tegangan permukaan air (surfaktan) sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. ABS dan LAS mempunyai nilai batas maksimal dimana keduanya bisa melepaskan kotoran dari permukaan bahan. Biasanya hal ini bisa dilihat dari aturan pemakaian yang tertera di kemasan. Misal, satu sendok takaran deterjen untuk 1L air. Jika kita menambahkan setengah atau satu takaran lagi (dengan maksud agar daya cuci kuat) itu tidak akan berpengaruh, daya cuci akan tetap sama dengan memakai satu takaran. Yang terjadi malah busa akan semakin banyak dan proses pembilasan akan lebih banyak membutuhkan air. Ini jelas pemborosan. Bagaimana deterjen mencemari lingkungan? ABS merupakan senyawa kimia yang lebih sukar terurai secara alami di banding LAS. Beberapa negara sudah melarang peggunaan ABS tapi di Indonesia larangan ini belum ada. Alasan masih banyak digunakannya ABS karena harganya murah, stabil dan busanya lebih banyak. Air minum yang terkontaminasi limbah deterjen berpotensi sebagai salah satu penyebab penyakit kanker (karsinogenik). Karena proses penguraian deterjen akan menghasilkan sisa benzena yang apabila bereaksi dengan klor (pada pengolahan air minum atau PAM digunakan kaporit yang mengandung klor) akan membentuk senyawa klorobenzena yang bersifat karsinogenik. Sungai yang tercemari bayak limbah deterjen akan berbau busuk dan air berwarna kecoklatan. Dalam deterjen, selain ABS dan LAS digunakan juga fosfat sebagai bahan pengisi (builder). Senyawa fosfat yang mencemari sungai atau danau menyebabkan eutrofikasi (pengkayaan unsur hara yang berlebihan) hal ini ditandai dengan pertumbuhan algae dan atau eceng gondok yang tak terkendali dan kematian pada ikan (karena kekurangan oksigen). Dibeberapa negara penggunaan fosfat dalam deterjen sudah di larang dan diganti dengan senyawa yang lebih aman terhadap lingkungan. Kini, memang telah ada deterjen yang ramah lingkungan, tapi agak sulit ditemukan di pasaran karena tidak diproduksi dalam skala industri besar dan harganya sedikit lebih mahal. Tapi yang membuat produk ini belum diterima masyarakat terlebih karena produk ini sedikit berbusa. Karena perspektif yang tertanam kuat di masyarakat kita masih, busa melimpah = lebih bersih. Ini menjadi pe-er bersama untuk merubah perspektif ini. Jika kesulitan mencari deterjen ramah lingkungan, ada baiknya dari sekarang lebih bijak menggunakan deterjen, tidak terpancing iklan yang salah. Plastik Tentu ada berbagai alasan jika (akhirnya) baru sekarang pemerintah dalam hal ini Kementrian Negara Lingkungan Hidup turun tangan soal limbah plastik. Yaitu dengan dimulainya gerakan pembatasan penggunaan kantong plastik di pasar modern dan mall. Padahal beberapa negara termasuk China sudah menyatakan perang terhadap plastik. Sangsi atau denda pun diberlakukan jika terjadi pelanggaran terhadap pemakaian plastik. Ada apa dengan plastik sehingga penggunaannya harus dibatasi? Platik terbuat dari suatu rantai panjang senyawa kimia yang disebut polimer. Saking panjangnya rantai senyawa kimia plastik sehingga mempunyai berat molekul yang sangat besar. Berat molekul plastik bisa mencapai jutaan. Karena berat molekulnya yang besar ini plastik menjadi sulit untuk di pecah atau terurai oleh bakteri. Pun jika di bakar dengan api pada suhu normal plastik tetap tidak akan terurai, hanya berubah bentuk. Jadi bisa dibayangkan jika penggunaan platik tidak dibatasi, bukan tidak mungkin limbahnya bisa mencemari seluruh permukaan tanah. Akibatnya, peresapan air terhambat, mengurangi kesuburan tanah dan menyebabkan penyumbatan pada saluran pembuangan air dan ini mengakibatkan banjir. CO2 Bicara soal global warmning pastinya terkait dengan gas yang satu ini. gas ini yang memerangkap radiasi sinar matahari sehingga tidak terpantul kembali ke angkasa. Akibatnya, selain suhu bumi bertambah sehingga es di kutub mulai meleleh lalu permukaan laut naik dan suatu saat menyebabkan tenggelamnya daratan,radiasi dari sinar matahari yang berupa sinar UV pun mengancam kesehatan penduduk bumi. Salah satunya menyebabkan kanker kulit. Gas karbon dioksida selain dihasilkan dari emisi bahan bakar kendaraan bermotor juga pembakaran batu bara yang merupakan bahan bakar pada industri dan pembangkit tenaga listrik. Itu salah satu sebab efisiensi penggunaan listrik di kaitkan dengan kampanye penyelamatan bumi. Perubahan besar selalu di mulai dari hal kecil dan kesadaran untuk memulai membuat perubahan. Termasuk dalam hal menyelematkan planet kita. Mulai membawa keranjang belanja sendiri saat belanja ke pasar, tidak membuang sampah sembarangan, efisiensi penggunaan air bersih dan listrik dan masih banyak hal kecil lain yang bisa bunda tambahkan di sini. (dari berbagai sumber)
