Mbak Dewi,
Saya turut prihatin. Saya dapat merasakan apa yang dirasakan bunda saat ini. 
Sedih dan perihya. Hal yang hampir mirip pernah saya rasakan di awal 
pernikahan, apalagi waktu itu sedang hamil muda jadi terasa lebih berat.

Saya sharing pengalaman saya waktu itu ya....

Kebetulan saya buka tipe perempuan yang mau begitu saja menerima keadaan tanpa 
tahu apa penyebabnya adik-adik suami 'memusuhi' suami. Apalagi saya merasa 
mereka tidak mempunyai hak men-judge saya. Lha wong baru menikah, memangnya 
mereka tahu siapa saya sebenarnya? Lagipula bagaimana saya mau membaur kalau 
belum apa-apa sudah disambut "genderang perang".

Suami saya pun bukan orang yang peka terhadap keadaan waktu itu. Dia berusaha 
menepis situasi yang saya rasakan.

Akhirnya ketika suasana semakin memuncak saya meminta suami untuk mengumpulkan 
adik2nya berikut mertua saya. Dengan 'gagah' saya konfrontir apa yang saya 
rasakan, apalagi ada bukti2 sms kasar yang ditujukan adiknya ke saya. Saya 
klarifikasi semua penilaian mereka. Tentunya dengan nada tenang, [mencoba 
tetap] bersahabat, diplomatis tapi tegas. Saya tunjukkan ke mereka saya tidak 
lemah. Saya cukup punya bargaining power.

Setelah pertemuan, masalah bukan selesai begitu saja.  Mereka masih jaga jarak 
dan tidak bersahabat. Sehingga saya memutuskan untuk juga menjaga jarak. Meski 
saya selalu hadir pada pertemuan-pertemuan penting. Tapi sedikit mungkin saya 
melakukan kontak langsung dengan adik-adiknya. Saya juga selalu 
berusaha seakan-akan tidak ada apa-apa. Berusaha santai, meski berat dan begitu 
kuatnya saya menahan sakit hati saya.

Kuncinya waktu itu adalah saya harus mendapat dukungan suami, setiap 
perkembangan --suka tidak suka-- saya komunikasikan kepada suami. Saya pun 
membuat beberapa kompromi dengan suami. Apalagi suami saya bukan orang yang 
peduli dengan hal seperti itu. Saya bilang bahwa bila suami saya tidak dapat 
mentolerir sikap saya dan memaksa saya untuk masuk ke dalam keluarganya maka 
dia saya chalenge untuk juga bisa membuat adik-adiknya menerima saya apa adanya 
sebagaimana keluarga saya menerima mereka apa adanya. Saya banyak fokus ke anak 
saya, sehingga dapat mengalihkan perhatian saya dari masalah tersebut. Hal ini 
juga bisa membuat kita lebih santai bila berhadapan dengan keluarga suami. 
Karena saya bisa menunjukkan kepada mereka bahwa saya punya hal yang lebih 
penting untuk diurus. :p

Alhamdulillah usaha ini membuahkan hasil, sudah 2 tahun terakhir ini suasana 
membaik, meski tidak bisa dibilang terlalu akrab. Saya juga berusaha menjaga 
setiap kata-kata agar tidak memicu ketersinggungan. Jadi saya hanya bicara hal 
yang sangat ringan-ringan dan netral.

Semoga sharing saya dapat memberikan sedikit inspirasi, agar bunda tetap kuat, 
sabar, tegar, dan tak berhenti berusaha. Every dark cloud has a silver lining. 
And every rose has its thorn.

Salam maniez,
  
Widya D. Setyawati 
[email protected] 
[email protected] 
ph.: 021-31931935
http://oui-day.blogspot.com
http://masrazka.multiply.com
YM: widya.setyawati 





________________________________
From: Dewi Chandra <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thu, January 7, 2010 9:13:57 PM
Subject: [Ayahbunda-Online] Curhat RT.....sedih banget!!!!!!!!!

  
Dear all,

Aku mau curhat mengenai beban yang aku rasakan selama 4 thn an ini..
Sejak aku hamil trisemester ke-3 n sampai detik ini..suamiku "tidak suka" 
dengan keluargaku (ortu ku n adik2x ku) jadi kalau mereka datang ke rumah ku, 
suami hanya diam ...padahal ortu n adik2x adalah org2x yang suka mengajak 
ngobrol org lain.
Karena suamiku tanggapannya "dingin" saya keluargaku pun enggan ngobrol dengan 
suami.
Hal ini sangat betolak belakang bila rumah kedatangan keluarga besar dari pihak 
suami...
suami sangat2x welcome..ngobrol ngalor-ngidul. .ketawa ketiwi.
Sebetulnya bila saya tidak suka dengan mertua lebih beralasan karena
40 hari setelah saya lahiran, lutut saya terserang arthritis jadi saya tidak 
bisa untuk jongkok, kebayang stressnya saya wkt itu...tapi dalam keadaan lutut 
saya sakit...saya masih menggotong ember lumayan gede untuk memandikan baby 
saya...
Belum lagi ada kejadian, hari itu saya physiotherapy untuk lutut saya di RS, 
dan mertua akan pulang ke rumahnya (dengan alasan yg tidak masuk akal, belum 
bayar tagihan listrik)..sehabis saya dari RS, saya mampir ke bank, sebelumnya 
saya telp ke rumah mengabarkan ke mertua pr kalo saya mungkin agak telat pulang 
ke rumah krn antri di bank....Apa yang terjadi bunda...??mertua laki2x saya 
sudah menunggu di dekat pos satpam n dengan nada marah berkata" kenapa lama 
sekali"....Bermacam perasaaan berkecamuk dalam hati saya bunda semua...sedih, 
marah n kecewa.
Seharusnya saya la yang punya alasan tidak suka dengan mertua,...namun 
sebaliknya saya tidak tahu hal apa yang menyebabkan suami tidak suka dengan 
keluarga saya.
Hal ini sangat2x menyakitkan hati saya.
Ada lagi yang juga menambah sakit hati saya...setiap kali saya ke rumah 
mertua...
saya "dianggap tidak ada" jadi saya tidak diajak ngobrol...bahkan mereka 
memanggil saya pun tidak...(termasuk adik kakak suami tidak memanggil "kakak 
ipar")
padahal ortu suami n adik pr suami terus menyuruh anak saya untuk memanggil 
kakek nenek n paman/bibi.( Saya berpikir dalam hati..mereke bisa menyuruh anak 
saya memanggil org , tapi anak sendiri tidak dididik untuk memanggil org lain 
(saya)
Sebetulnya saya tidak masalah dalam hal ini..cuma merasa aneh n ortu suami 
begitu kolotnya.
Dalam semua hal suami n keluarga suami selalu menggangap mereka yang benar.
Dan yang terakhir , hari Natal lalu karena libur/cuti bersama suami mengajak ke 
rumah ortu nya (diluar kota) , 
Kejadiannya, sehabis makan malam, kami semua ada dirumah tamu..mertua laki2x 
menawarkan jeruk...pada wkt itu..posisi duduk adalah suami, saya, adik suami 
dan kakak suami...yang terjadi adalah ..mertua menawarkan jeruk itu ke suami, 
adik suami n kakak suami baru saya (jadi saya dilewatkan). Suami pun tidak 
berkata apa-apa
Malamnya kami ribut...saya teriak ke suami bahwa saya sudah tidak tahan 
lagi...saya TIDAK DIANGGAP ANAK oleh ortu mu!!suami sampai terkejut.tapi tidak 
berkata apa-apa lagi.
Anak saya nangis juga kami bertengkar, dan dia "cerita" ke ipar perempuan n 
mertua perempuan saya,kalau "mama bertengkar.. mama nanggis" tapi ipar n mertua 
saya tidak menanyakan apa-apa2x kepada saya.
Sedih sekali bunda semua...
Suami sangat sulit diajak bicara..bila diajak bicara/ditanya kenapa orang tua 
nya tidak mengganggap diri saya n mengapa suami tidak suka dengan keluarga saya 
, suami tidak pernah menjawab pertanyaan saya...n akhirnya hanya ribut n 
bertengkar tanpa penyelesaian sampai sekarang.
Maaf terlalu panjang yah cerita saya...
Bunda semua, apa menurut bunda lebih baik saya tidak usah sering datang ke 
rumah mertua (jadi datang hanya pada saat ada event tertentu saja) karena 
datang ke rumah mertua "kan tidak dianggap...mereka pun tidak menanyakan saya 
kok bila saya tidak datang...Ini saya tahu waktu saya n suami ribut waktu saya 
menolak ke rumah mertua...
Lagipula suami juga begitu, jadi ke rumah ortu saya yg hanya berjarak 2 km bila 
ada evet tertentu saja.

Sebetulnya saya sudah tidak tahan lagi bunda...
Rasanya ingin saja bercerai.... ..
Tega2xnya suami n mertua menyakiti saya spt ini...seakan- akan saya tdk punya 
ortu ...n saya harus mengikuti suami(keluarga besarnya)

Mohon advisenya yah bunda semua.dan aku minta doanya untuk dibukakan pintu hati 
suami n mertua saya.

Rgds
Dewi






 

________________________________
Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang Lebih 
Cepat hari ini! 



      

Kirim email ke