Artikelnya lumayan lama, moga bermanfaat, maaf kalo repost. Link aslinya :
http://okto.silaban.net/2009/02/linux/linuxer-yang-kecewa/

-------------------------

Mereka yang *terjerumus* ke dunia Linux punya alasan yang berbeda – beda.
Ada yang karena tertarik saja, terpaksa (seperti saya), ingin terlihat cool
(jendela hitam itu keren po??), penasaran, cuma pengen coba – coba, dan
masih ada banyak alasan tak masuk akal lainnya.

Sebagian dari mereka ini akhirnya menjadi pengguna Linux yang militan.
Begitu semangat mempromosikan Linux. Bahkan dengan begitu semangatnya
membuat flyer tentang bodohnya *kita* selama ini memakai software bajakan,
apa akibatnya, penegasan ancaman penjara dari UU Haki, sampai masalah masuk
neraka. Silahkan tertawa, tapi saya pribadi pernah melakukannya sendirian di
kampus waktu di semester 2.

Ketika sudah jadi Linuxer-militan ini, seringkali fanatisme akan Linux
menjadi begitu *parah*. Mereka yang menggunakan software bajakan dianggap
sebagai manusia paling berdosa, pelanggar UU, bodoh, dst. Oh iya, dan
biasanya jadi anti-Microsoft.

Tak lupa para pahlawan dunia opensource pun menjadi idola mereka, seperti
Linus Torvalds, Richard Stallman, dll. Di tingkat lokal (Indonesia) pun
Linuxer-militan ini punya idola juga, seperti …, …, …, *tak usah
disebutlah.. nanti pada ge er (ha..ha..). Ya anda tahulah siapa – siapa
mereka.

Tapi dunia bagaikan runtuh, ketika Linuxer-militan ini mengetahui, para
pahlawan opensource lokal mereka juga *bersentuhan* dengan dunia
*propetiari*.. mmm.. ya maksud saya memang Windows.

Dari beberapa sumber (kadang blog si idola tersebut, atau web perusahaannya,
milis, seminar, mulut ke mulut) diketahui bahwa para idola mereka ini
ternyata sehari – hari justru menggunakan software propetiary. Ada pembuat
distro Linux lokal yang tidak menggunakan distro buatannya itu, dan kemudian
menjalin kontrak dengan Microsoft untuk bidang akademik. Ada juga yang
gencar mempromosikan Linux & open source, tetapi perusahaannya berkutat
dengan training seputar Microsoft dan software – softwarenya.

Di tingkat lebih kecil, ada anggota komunitas Linux yang justru malah
akhirnya *berpindah jalur* ke jalan tol berlogo Jendela. Ada juga anggota
komunitas yang begitu lihainya berdebat mengenai migrasi ke Linux, tetapi
ternyata di kosnya dia menggunakan Windows untuk kegiatan sehari – harinya.

Masih belum cukup. Fakta lain yang terungkap adalah perusahaan – perusahaan
lokal yang terkenal sebagai penyedia support Linux, juga menyediakan produk
& servis untuk software yang hanya jalan di Windows.

Sampai disini, ada saja Linuxer yang kecewa. DULU saya juga termasuk salah
satunya. Apalagi waktu itu saya masih begitu fanatiknya.

Lalu? Ya lambat laun sudut pandang saya yang berubah. Saya tidak menjadi
sengit. Dulu saya kecewa karena salah saya sendiri memegang konsep yang
keliru. Beruntung saya bisa sadar kesalahan saya. Sekarang kata kunci yang
saya pegang adalah, yang terbaik itu memang “menggunakan software legal”.
Terserah OS nya apa. Tetapi lebih baik lagi kalau itu memberi *efek baik*
jangka panjang. [image: ;)]

Tapi, saya sekarang bertanya – tanya, selama transisi pergantian sudut
pandang saya ini, adakah Linuxer lain yang (masih, atau baru saja)
dikecewakan (seperti halnya saya dulu)?

NOTE: Don’t get me wrong.. Tulisan ini hanya merepresentasikan bahwa di luar
sana ada para Linuxer yang sejak awal menggunakan pondasi konsep yang tidak
seharusnya. Saya sendiri butuh waktu lama untuk menyadari kekeliruan saya.



-- 
Salam,
Suwito.
http://suwito.pomalingo.net

~Keep IT Simple, Stupid

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"Balikpapan Information, Communication & Technology Community" group.
 To post to this group, send email to [email protected]
 To unsubscribe from this group, send email to 
[email protected]
 For more options, visit this group at 
http://groups.google.com/group/balikpapan-ict?hl=en-GB
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke