hihihi,biar windows saja bajakan,tapi antivirus saya tetep update tuh
mas,aman2 ajah,virus? paan tuh kekekeke,eh kita belum denger petuah dari
mbah stallman,gimana mbah?

2009/8/13 Alfa <[email protected]>

> Bagi saya sih 2-2 nya oke, namun saya cenderung pake linux karena bebas
> virus jadi produktivitas saya tidak terganggu oleh virus yang menyebalkan.
>
> Salam hangat,
> Alfa Malik
>
> *kabur mode: ON
>
> http://pestabloggger.com will come in Balikpapan
>
> 2009/8/12 Suwito Pomalingo <[email protected]>
>
>> kayaknya seru nih...
>> gimana menurut temans linuxer yg lain.. stalJeks..???
>>
>
> stalJeks jam segini masih bobo om wito...
>
>>
>> :D
>>
>> 2009/8/12 Bonie <[email protected]>
>>
>>> makanya gunakan windows xp bajakan,supaya gak fanatik hihihi,banyak yang
>>> gak bisa diafford dengan linux kok,kenapa juga harus skeptis,apalagi kalo
>>> bekerja di IT integrator masa mo maksain kalo ternyata bukan linux solusinya
>>> hehehe,hidup bajakan,maap yah ini sekedar share pengalaman dari sayah ,semua
>>> kembali ke flavor masing - masing..
>>>
>>> 2009/8/12 Suwito Pomalingo <[email protected]>
>>>
>>> Artikelnya lumayan lama, moga bermanfaat, maaf kalo repost. Link aslinya
>>>> : http://okto.silaban.net/2009/02/linux/linuxer-yang-kecewa/
>>>>
>>>> -------------------------
>>>>
>>>> Mereka yang *terjerumus* ke dunia Linux punya alasan yang berbeda –
>>>> beda. Ada yang karena tertarik saja, terpaksa (seperti saya), ingin 
>>>> terlihat
>>>> cool (jendela hitam itu keren po??), penasaran, cuma pengen coba – coba, 
>>>> dan
>>>> masih ada banyak alasan tak masuk akal lainnya.
>>>>
>>>> Sebagian dari mereka ini akhirnya menjadi pengguna Linux yang militan.
>>>> Begitu semangat mempromosikan Linux. Bahkan dengan begitu semangatnya
>>>> membuat flyer tentang bodohnya *kita* selama ini memakai software bajakan,
>>>> apa akibatnya, penegasan ancaman penjara dari UU Haki, sampai masalah masuk
>>>> neraka. Silahkan tertawa, tapi saya pribadi pernah melakukannya sendirian 
>>>> di
>>>> kampus waktu di semester 2.
>>>>
>>>> Ketika sudah jadi Linuxer-militan ini, seringkali fanatisme akan Linux
>>>> menjadi begitu *parah*. Mereka yang menggunakan software bajakan dianggap
>>>> sebagai manusia paling berdosa, pelanggar UU, bodoh, dst. Oh iya, dan
>>>> biasanya jadi anti-Microsoft.
>>>>
>>>> Tak lupa para pahlawan dunia opensource pun menjadi idola mereka,
>>>> seperti Linus Torvalds, Richard Stallman, dll. Di tingkat lokal (Indonesia)
>>>> pun Linuxer-militan ini punya idola juga, seperti …, …, …, *tak usah
>>>> disebutlah.. nanti pada ge er (ha..ha..). Ya anda tahulah siapa – siapa
>>>> mereka.
>>>>
>>>> Tapi dunia bagaikan runtuh, ketika Linuxer-militan ini mengetahui, para
>>>> pahlawan opensource lokal mereka juga *bersentuhan* dengan dunia
>>>> *propetiari*.. mmm.. ya maksud saya memang Windows.
>>>>
>>>> Dari beberapa sumber (kadang blog si idola tersebut, atau web
>>>> perusahaannya, milis, seminar, mulut ke mulut) diketahui bahwa para idola
>>>> mereka ini ternyata sehari – hari justru menggunakan software propetiary.
>>>> Ada pembuat distro Linux lokal yang tidak menggunakan distro buatannya itu,
>>>> dan kemudian menjalin kontrak dengan Microsoft untuk bidang akademik. Ada
>>>> juga yang gencar mempromosikan Linux & open source, tetapi perusahaannya
>>>> berkutat dengan training seputar Microsoft dan software – softwarenya.
>>>>
>>>> Di tingkat lebih kecil, ada anggota komunitas Linux yang justru malah
>>>> akhirnya *berpindah jalur* ke jalan tol berlogo Jendela. Ada juga anggota
>>>> komunitas yang begitu lihainya berdebat mengenai migrasi ke Linux, tetapi
>>>> ternyata di kosnya dia menggunakan Windows untuk kegiatan sehari – harinya.
>>>>
>>>> Masih belum cukup. Fakta lain yang terungkap adalah perusahaan –
>>>> perusahaan lokal yang terkenal sebagai penyedia support Linux, juga
>>>> menyediakan produk & servis untuk software yang hanya jalan di Windows.
>>>>
>>>> Sampai disini, ada saja Linuxer yang kecewa. DULU saya juga termasuk
>>>> salah satunya. Apalagi waktu itu saya masih begitu fanatiknya.
>>>>
>>>> Lalu? Ya lambat laun sudut pandang saya yang berubah. Saya tidak menjadi
>>>> sengit. Dulu saya kecewa karena salah saya sendiri memegang konsep yang
>>>> keliru. Beruntung saya bisa sadar kesalahan saya. Sekarang kata kunci yang
>>>> saya pegang adalah, yang terbaik itu memang “menggunakan software legal”.
>>>> Terserah OS nya apa. Tetapi lebih baik lagi kalau itu memberi *efek baik*
>>>> jangka panjang. [image: ;)]
>>>>
>>>> Tapi, saya sekarang bertanya – tanya, selama transisi pergantian sudut
>>>> pandang saya ini, adakah Linuxer lain yang (masih, atau baru saja)
>>>> dikecewakan (seperti halnya saya dulu)?
>>>>
>>>> NOTE: Don’t get me wrong.. Tulisan ini hanya merepresentasikan bahwa di
>>>> luar sana ada para Linuxer yang sejak awal menggunakan pondasi konsep yang
>>>> tidak seharusnya. Saya sendiri butuh waktu lama untuk menyadari kekeliruan
>>>> saya.
>>>>
>>>>
>>>>
>>>> --
>>>> Salam,
>>>> Suwito.
>>>> http://suwito.pomalingo.net
>>>>
>>>> ~Keep IT Simple, Stupid
>>>>
>>>>
>>>>
>>>
>>>
>>> --
>>> Bonie Mania The Land Of Joy And Happiness
>>>
>>>
>>>
>>
>>
>> --
>> Salam,
>> Suwito.
>> http://suwito.pomalingo.net
>>
>> ~Keep IT Simple, Stupid
>>
>>
>>
>
> >
>


-- 
Bonie Mania The Land Of Joy And Happiness

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"Balikpapan Information, Communication & Technology Community" group.
 To post to this group, send email to [email protected]
 To unsubscribe from this group, send email to 
[email protected]
 For more options, visit this group at 
http://groups.google.com/group/balikpapan-ict?hl=en-GB
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke