Tulisan bagus nih....

Ibu yang Galak

http://dianadji.multiply.com/journal/item/337/Ibu_yang_Galak

Saya
sedang menyusuri lorong demi lorong di sebuah supermarket ketika
terdengar tangisan seorang anak kecil dibarengi bentakan seorang ibu.
Dan sejurus saja saya sudah sedekat 3 meteran dari si ibu yang sedang
memarahi anaknya itu. Si anak, seorang laki2 kira2 berusia 3 tahun,
ditarik2 tangannya oleh si ibu yg sepertinya berusaha mengajak (agak
menyeret) si anak untuk bergerak. Si anak yang antara ngambeg, capek
dan merajuk ingin sesuatu, cuma ingin menangis sepertinya. Yang membuat
saya jadi memperhatikan kejadian itu adalah mulut si ibu yang dengan
enak dan santainya mengata-ngatai anaknya dengan kata2 kotor dari mulai
sh-- sampai fu--- you, ditambah dengan pukulan berkali2 di kaki si
anak. Saya cuma terpana mendengarnya. Antara tidak tega tapi ragu mau
ikut campur, saya cuma bisa berlalu dan berdoa supaya si anak selamat.
 Memiliki
anak terutama yg masih balita usianya sepertinya lebih menguras emosi
kita sebagai ibu. Apalagi sebagai seorang wanita, kita dihadapkan oleh
keadaan hormonal yang berubah2. Tapi sejauh apa sebetulnya seorang ibu boleh 
"galak" pada seorang anak? Dan apa maksudnya "galak" itu?
Saya ingat beberapa tahun lalu, dua putri saya sedang main di luar
halaman sebuah mesjid. Saat itu halamannya becek karena hujan
semalamnya dan ada beberapa kubangan air. Yang bermain2 di situ bukan
cuma anak2 saya saja, tapi ada anak2 kecil lainnya. Tapi melihat ini,
sebelum mereka berani main kubangan, saya sudah memanggil mereka,"Ayo,
jangan main becek! Sini semua!" Tiba2 saja ada omongan dari seorang
kenalan,"Mbak Dian galak amat. Biarkan aja lagi mereka main." Saya
langsung melihat ke arahnya dan memperhatikan dia dengan seksama.
Kemudian saya perhatikan anaknya yg kotor semua bagian jeansnya. Saya
memang meninggikan suara saya ketika memanggil anak2, tapi bukan
berteriak apalagi membentak. Jadinya saya bingung kalau seperti itu
dianggap galak. Lagipula, saya punya alasan kuat melarang anak2 main2
becek: pertama, kotor tentunya dan mereka harus masuk ke dalam mesjid
lagi; kedua, mereka kan tidak tahu kubangan air itu sedalam apa dan
berisi apa - daripada celaka kalau kejeblos, ya mesti dilarang dulu.
 Galak,
sepertinya berhubungan sekali dengan seorang ibu yang suka membentak.
Ibunda tercinta, misalnya, bukan orang yang suka membentak, tapi
mencubit dan memukul kecil kalau putri2nya susah diatur, itu pasti. Dan
tidak pernah sekalipun kami bilang kalau beliau galak. Berbeda dengan
anak2 saya yang suka memanggil saya "meany" (ini pasti maksudnya
galak). Meskipun saya dipanggil demikian biasanya kalau mereka minta
sesuatu dan saya tidak turuti. Saya tidak begitu suka main fisik,
kecuali anak2 sudah benar2 keterlaluan. Maka saya memakai suara saya
untuk memperingatkan mereka. Dan karena saya sering berada di ruangan
lain saat anak2 main2 dan membuat ribut, maka suara saya lah yang
mewakili. "Ayo, kalau mainan habis itu diberesin ya!" atau "Awas kalau
ribut! Jangan lari2 dlm apartemen!" dan sebagainya. Kenapa saya mesti
meninggikan suara saya dan sekali2 membentak? Sebab anak2 saya tipe yg
suka nyuekin kalau dikasih tahu secara halus. 
 Ibu
yang galak biasanya juga tergantung pada tingkah-polah anak2nya.
Sehalus2nya seorang ibu, begitu melihat sesuatu yang dia anggap terlalu
atau moodnya sedang tidak bagus, dia bisa berubah jadi galak. Saya
sendiri, merasa hal begini lumrah untuk mengajarkan anak2 disiplin.
Yang harus diingat adalah saat memang harus galak pada anak, jangan pernah 
memakai kata2 yg menyakitkan hatinya apalagi kata2 kotor. Saat kita misalnya 
harus memperingatkan dengan mencubit atau memukul, jangan memukul memakai alat.
Sebab dengan alat, kita tidak akan tahu seberapa keras pukulan kita itu
terhadap anak. Bayangkan dengan tangan anda memukul tangan si anak yg
dengan asyiknya mengubeg-ngubeg wc. Ketika kita memukul dengan agak
keras, tangan kita pun akan terasa sakit. Kalau memukul dengan alat,
mana bisa kita mengukur rasa sakit itu. Tapi bagaimanapun juga, usahakan 
menjauhkan memukul seorang anak.
Orang bilang kita harus bisa bersabar dan menahan amarah, meskipun pada
akhirnya teori itu lebih mudah diucapkan ketimbang melakukannya. Tapi
berusaha bersabar untuk tidak main fisik, harus selalu diingat.
 Memperhatikan
tindakan pemukulan oleh seorang ibu, ada yang berpendapat itu termasuk
mengajarkan anak tentang kekerasan. Ada juga yang berpendapat bahwa itu
termasuk penganiayaan terhadap anak. Nah, harus kita tegaskan lebih
dahulu kata demi kata yang dipakai dalam keadaan seperti ini. Sebab
'memukul' berbeda artinya dengan 'memukuli' yang berarti memukul
berkali2. Atau kalau dalam bahasa Inggris membedakan antara "hit",
"slap", atau "spank". Perhatikan juga saat seorang ibu memukul anaknya,
alasan apa dibalik itu semua. Apakah si anak memang sudah keterlaluan,
misalnya bermain2 dengan api atau pisau, atau berjalan terlalu dekat
dengan tepian sungai atau perbuatan apapun yg dianggap membahayakan.
Lucu memang sepertinya reaksi seorang ibu saat anaknya hampir celaka
adalah dengan menyakiti, dengan mencubit atau memukul. Mungkin karena
pada saat si ibu merasa takut bahaya pada anaknya, usahanya adalah
menyadarkan si anak akan bahaya itu. Dan menyadarkannya mau tidak mau
dengan mengingatkan akan sesuatu yang menyakitkan. Paling tidak,
menyakitkannya di sini lebih sederhana dibanding kalau si anak terluka
karena kena pisau atau terbakar kena api. Jangan membesar2kan hal2 kecil dan 
kemudian dengan mudahnya memukul anak. Seperti ketika anak kecelakaan dan 
ngompol di celana atau memuntahkan makanannya di karpet.
 Galak tidak sama dengan kejam.
Ketika seorang ibu memukul anaknya sekali, itu galak, tapi berkali2 si
ibu menjadi kejam. Begitu juga pada bagian apa si anak dipukul
mempengaruhi. Sewaktu seorang anak dipukul kaki atau tangannya, si ibu
sedang galak. Berbeda kalau si anak dipukul kepalanya atau wajah dan
bagian vital lainnya, si ibu menjadi kejam. Jangan menyiksa anak, karena itu 
berarti kekejaman dan sebuah penganiayaan.
Bukan suatu pekerjaan yang gampang menjadi ibu itu apalagi yang mesti
menangani anak2 yg masih balita dan harus melakukan juga pekerjaan
rumah tangga lainnya. Biasanya cap "ibu galak" dilontarkan lebih kepada
ibu rumah tangga yang mengurus anak2nya 24 jam sehari dibanding ibu yg
bekerja. Dari sini sebenarnya sudah bisa dilihat keterlibatan emosi
seorang ibu yang mesti menghadapi banyak tugas sendiri, yang bisa
dipastikan dalam letihnya bisa meningkatkan ketidaksabaran. Ibu yang galak 
bukan berarti ibu yang tidak baik.
Bagaimanapun juga, seorang ibu yang sebenarnya mementingkan anak2nya
terlebih dahulu beberapa kali baru dirinya. Sehingga sebelum
melontarkan ungkapan "galak", coba dipikir dahulu, bagaimana sikap kita
kalau dalam keadaan seperti si ibu dan mengapa demikian alasannya
menjadi "galak".
 D. Yustisia

 
Regards,
Uci mamaKavin+Ija
http://oetjipop.multiply.com




      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

Kirim email ke