Perlu juga diketahu oleh Cak Uban, bahwa keunikan sebuah nama untuk
produk tertentu memang sangat menguntungkan, dan menarik minat calon
konsumen. Demikian juga dengan nama Rawon Setan, misalnya. Tertnyata
nama Rawon Setan tersebut lahir dan ada bukan karena tercetus dari si
empunya warung. Melainkan konsumenlah yang memberi julukan tersebut,
dan kemudian alhasil langgeng dan menjadikan ikon tersendiri sebagai
kuliner khas di Surabaya.



Di Surabaya, ada juga Warung Cak Mis, yang ternyata dengan
kreativitasnya mengganti semua jenis nama makanan yang dia jual dengan
julukan yang aneh-aneh, seperti Nasi Bungkus diganti Sembako, Sate
Kulit Sapi diubah Krisdayanti, Sinom menjadi Mbok Nom, Dadar Jagung
jadi Pakan Doro, dan lain sebagainya. Toh justru dengan penamaan yang
aneh-aneh seperti pembelinya senantiasa berjubel. Orang yang pernah
datang ke sana selalu kangen untuk datang lagi ke warung Cak Mis di Jl
Bontoro Surabaya berkat keunikannya.



Jadi, apalah arti sebuah nama. Rasanya kalau memang belum dipatenkan
dan milik umum kok ya sah-sah saja orang mempergunakannya. Yang jelas,
semua bertendensi mulia. Tidak ada sama sekali niatan buruk mencederai
masyarakat, khususnya penikmat kuliner. Bukan demikian....?



Mau tahu sebutan menu yang dijual di warung Cak Mis? Ini dia:



    * Larangane Gus Dur (Dideh): Rp 1000/biji

    * Pakan doro (dadar jagung): Rp 750/biji

    * Krisdayanti (sate usus pedas): Rp 750/tusuk

    * Kuping Ndablek (kikil sapi bumbu merah): Rp 1500/biji

    * Kulit Landak (Sate kulit): Rp 750/tusuk

    * Cucak Rowo (sate telur puyuh): Rp 750/tusuk

    * Mbok Nom (Es Sinom): Rp 1500/gelas

    * STW (Es Teh): Rp 1000/gelas

    * Spring Bed (Martabak): Rp 1000/biji

    * Guling (Lumpia): Rp 1000/biji

    * Sembako (Nasi bungkus): Rp 3000/bungkus

    * Melarat (Ote-ote): Rp 750/biji

    * Lumpur Lapindo (Kue lumpur): Rp 1500/biji





Arohman





--- On Fri, 8/28/09, mediacare <[email protected]> wrote:

From: mediacare <[email protected]>
Subject: Re: [bango-mania] Janda Royal dan Bajingan
To: [email protected]
Date: Friday, August 28, 2009, 3:19 AM






 




    
                  


Apalah arti sebuah nama Cak Uban. Setiap orang 
bebas pakai nama apa saja, daripada meniru yang sudah ada, kan nanti malah 
dituding menjiplak?
 
Lha kalau orang mengira  Baksonya Cak Uban 
dicampur uban gimana?
 
 
 
Please add my Facebook: 
Radityo Indonesia
Mediacare Indonesia
 
 

  ----- Original Message ----- 
  From: 
  BaksoBakwan 
  Malang Cak Uban 
  To: bango-mania@ yahoogroups. com 
  
  Sent: Wednesday, August 26, 2009 10:57 
  PM
  Subject: Re: [bango-mania] Janda Royal 
  dan Bajingan
  
  
  
  
  Dear Bango Mania,
  Ya urun rembug saja, tendensinya pengusaha kuliner membuat terobosan 
  dengan nama2 yg aneh utk menggugah rasa ingin tahu orang, karena penasaran 
  jadi mampir, selama nama itu masih bersifat normal sih sah2 saja, tetapi 
kalau 
  sudah terlalu vulgar kita jadinya miris melihatnya, walaupun yang membuat 
nama 
  juga merasa bahwa itu haknya.
  Sebagai contoh kita tengok Rawon Setan, bayangkan seandainya anda sebagai 
  seorang yang beragama, membuka warung Rawon Setan, meskipun itu hanya nama, 
  bagaimana pandangan orang terhadap kata2 itu, bukankah agama apapun melarang 
  kita berkolaborasi dengan setan????? Lha kok kita menjual product dengan nama 
  Setan????
  Bagaimana menurut pendapat Bangoers yang lain?
  Jangan sampai muncul Rawon Gendruwo atau Rawon Memedi, Rawon Kuntilanak 
  dstnya.
  Sekian.
  BSD



      

Kirim email ke