Profil Memoria Dwi Prasita: Merintis karier dari pasar becek

Mengawali karier dari pasar ke pasar, kini wanita kelahiran Surabaya, 28 
Oktober 1980 ini punya jabatan penting di Unilever Indonesia. Memor, begitu ia 
biasa disapa, adalah Brand Building Manager - Marketing Bango.

Anda kuliah di Teknik Industri, tapi sekarang bergelut di marketing. Bagaimana 
ceritanya?

Saya masuk Fakultas Teknik Industri UI karena tidak suka ilmu sosial dan 
bahasa. Lebih suka Matematika dan Fisika. Mau di Kedokteran, takut lihat darah. 
Akhirnya pilihannya masuk Teknik Industri yang tak hanya belajar teknik, juga 
manajemen pemasaran dan sumber daya manusia. Ternyata begitu masuk tahun 1999, 
malah belajar proses produksi, membubut, belajar mekanika, otak-atik mesin. 
Sepertinya saya salah masuk. Tapi tetap saya jalani. Apalagi setengah kelas 
isinya perempuan.

Lalu?

Lulus 2003 harapannya dapat kerjaan yang seru. Kebetulan Unilever Indonesia 
membuka lowongan. Dari 48 orang pendaftar yang diseleksi, hanya dua orang yang 
diterima. Saya pun memilih marketing meskipun latar belakangnya management 
marketing. Saya berharap, akan memenuhi keinginan saya punya kerjaan seru di 
marketing.

Awalnya, saya mengikuti management trainee. 6 bulan pertama diletakkan di luar 
marketing. Kok, ya nasib saya diletakkan di bagian sales ke pasar tradisional 
seperti warung dan toko. Padahal, teman saya ada yang ke supermarket. Selama 
sebulan jadi salesman, kerjanya boncengan dengan teman kerja cowok. Datang ke 
kantor, sih, pakai mobil atau dianterin tapi begitu kerja naik motor. Ha ha ha.

Ribet, dong?

Iya. Harus pakai helm dan jaket panjang. Seharian keliling lapangan dengan 
salesman, menerima order dari toko atau pasar. Tugas saya menanyakan mau pesan 
apa. Stres. Tadinya bayangan kerja enak dan keren. Apalagi teman-teman banyak 
yang kerja di bank, ber-AC dan memakai pakaian keren.

Ternyata pekerjaan saya bergaul dengan para pemilik toko yang hanya pakai kaos 
oblong. Keluar masuk pasar becek dan bau. Suatu ketika saya diomelin pemilik 
toko karena menginterupsi mereka saat ada transaksi. Duh, rasanya ingin nangis 
saat itu. Tapi itu pelajaran berharga bagi saya. Jangan menginterupsi pedagang 
yang sedang transaksi. Karena pembeli adalah raja.

Sempat terpikir untuk keluar?

Iya. Bayangin tiap hari harus ke pasar yang becek, belum lagi kalau ada kambing 
lewat. Kebetulan waktu itu dapatnya distributor Bekasi, jadi jalan ke 
pasar-pasar sekitar Bekasi. Tiap kali mau kerja, mukir, duh ke pasar itu lagi, 
deh, becek. Untungnya antara sesama teman yang ditraining suka email dan 
telepon, saling curhat. Ternyata saya lebih beruntung karena masih di Bekasi. 
Teman saya ada di Bandung, Kudus, Medan. Sementara saya, kan , masih bisa 
pulang ke rumah bertemu orangtua. Akhirnya, kami saling mendukung, bahwa 
pekerjaan seperti itu adalah hal biasa dan harus dijalani.

Ternyata pekerjaan itu sangat berkesan?

Ya, pagi-pagi harus ke distributor, satu hari bisa mendatangi 50 toko. Tiba 
saatnya makan siang bisa di mana saja, seringnya dekat pasar. Datang dengan 
rambut bagus, tapi begitu kena helm langsung rusak. Wajah jadi hitam, berdebu, 
dan rambut klimis. Lucunya, justru orangtua saya senang kalau anaknya mengalami 
kesusahan saat bekerja. Karena sesuatu yang bagus dan sukses itu tidak datang 
begitu saja. Mereka bilang cari uang itu susah, jangan mikir gampangnya saja.

Akhirnya jadi mengerti peran salesman sangat besar, dong?

Betul, peran mereka sangat besar menyalurkan produk Unilever ke konsumen. 
Padahal tadinya saya berpikir, konsumen langsung paham semua produk. Ternyata 
tidak. Saat di marketing saya jadi tahu bagaimana kondisi pasar, tidak semudah 
yang kita pikirkan.

Setelah itu?

Setelah di sales distributor 3 bulan, 3 bulan berikutnya dikasih proyek yang 
mengharuskan pergi ke daerah Purwakarta, Pluit, Pulo Mas, dan Bekasi. Kerjanya 
enggak naik motor, sudah naik mobil meski enggak bawa sendiri. Lalu, 
berturut-turut menjadi Marketing Royco, Asisten Brand Manager Royco, Asisten 
Brand Manager Bango, Asisten Regional Brand Development Manager KNORR South 
East Asia, dan dari 2007 sampai sekarang menjadi Brand Building Manager 
Marketing Bango.

Salah satu strategi marketing Bango, dengan mengadakan Festival Jajanan Bango 
(FJB)?

Ya. Ketika FJB pertama kali diadakan (2005) saya masih di Royco. Baru tahun 
kedua ikut FJB dan program teve Bango Citra Rasa Nusantara. Dua hal itu menjadi 
tugasnya marketing. Bango mempunyai misi sosial, melestarikan warisan kuliner 
Nusantara dan kesejahteraan petani kedelai hitam di Indonesia. Intinya, 
bagaimana mendayagunakan program tersebut agar sampai ke masyarakat.

Apa saja yang dipersiapkan untuk FJB?

Mengumpulkan pedagang kaki lima sampai restoran yang menjual makanan 
tradisional jadi satu dan memberi kesempatan pada mereka menjual makanannya. 
Sebelum event akan diberikan publikasi baik di teve, koran, tabloid, dan radio. 
Lalu para penjual seperti Ketoprak Sayur Ciragil, Soto Tangkar berkumpul di 
FJB. Tahun 2006 diadakan di Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung samai 
sekarang. Dari tahun ke tahun kami banyak belajar apa saja yang harus dibenahi, 
misalnya bagaimana mengurangi antrean, memastikan jualan habis, parkir mobil, 
pedagang diberi tahu agar bisa membawa dagangan cukup banyak hingga masyarakat 
yang datang kebagian.

Kadang yang terjadi, misalnya Rujak Cingur Surabaya yang ngulek harus 
pemiliknya langsung. Kalau ibunya sakit, ya enggak jualan. Atau Gabus Pucung, 
kalau enggak menemukan ikan gabus ya tutup, enggak bisa diganti dengan ikan 
lain. Bagi mereka semacam ada sisi emosional. Justru Bango menghargai hal 
tersebut. Ternyata begitu totalnya mereka melayani konsumen. Mereka pahlawan 
kuliner.

Sekarang banyak festival kuliner serupa. Bagaimana menjawab tantangan ini?

Masyarakat menganggap FJB sudah merupakan festival tahunan, itu bisa disebut 
kelebihan. Ada rasa penasaran, tahun depan FJB akan dibuat seperti apa. Kami 
sebenarnya ingin merangkul sebanyak mungkin pedagang tapi ada batasannya. Nah, 
jalan keluarnya, kalau mereka tidak bisa ikut FJB, bisa masuk ke program teve. 
Selain itu, bisa kami masukkan ke buku 80 warisan kuliner nusantara. Di tahun 
2010 nanti pasti ada yang lebih seru, lihat saja nanti.
Kami juga membuka kesempatan bekerjasama dengan EO atau pemerintah lokal. Itu 
sudah menjadi cita-cita kami. Mungkin enggak festival, semacam gelaran jajanan, 
deh.

Anda sendiri sudah mencoba semua masakan di FJB?

Itu dia masalahnya. Padahal, FJB sejak 2006, 2008, dan 2009 saya yang membuat. 
Tapi saya belum merasakan semua masakan FJB. Kadang suka ingin merasakan 
makanan ini, tapi pas acaranya malah lupa. Hahaha.

Anda suka masak?

Saya penikmat makanan saja. Justru di rumah saya jadi kritikus buat ibu saya, 
tapi begitu disuruh masak, mundur teratur. Ha ha ha.

Ceritakan tentang keluarga, dong.

Suami saya Muhammad Togar Muliaraja Pohan (30) bekerja di bank. Saya memiliki 
seorang putri, Mairanissa Nayyara Pohan (10 bulan). Lagi senang-senangnya 
melihat perkembangan dia. Tugas ibu ternyata enggak gampang, ya harus penuh 
keikhlasan.

Anda sangat sibuk. Masih punya waktu memanjakan diri sendiri?

Saat hamil saya pernah dikasih tahu, manjakan diri sebelum anak lahir. Benar, 
lho, saya luluran dan potong rambut dulu. Begitu sudah jadi ibu baru, enggak 
sempat mengurus diri. Untungnya, saya masih tinggal dengan ibu.

Dari sekian kesibukan itu, akhirnya pilihan jatuh je tangan saya sendiri, 
meluangkan waktu untuk anak atau diri sendiri. Sampai saat ini saya masih 
curi-curi kalau ke salon, cuma diblow sebentar lalu cepat-cepat kembali ke 
rumah. Bagi saya, sangat sayang pergi meninggalkan anak. Bayangkan selama 12 
jam kerja, saya enggak tahu perkembangannya. Masa, begitu ada waktu luang, saya 
pergi.

Anda juga menyusui?

Ya sampai sekarang. Jadi gelarnya sudah S10, alias menyusui sampai 10 bulan. 
Hahaha.

Noverita K. Waldan
Foto-foto: Ahmad Fadillah/Nova

Nova - 30 November 2009, Halaman 16

Kirim email ke