Dear Bango Mania,

Buat teman-teman/saudara/pak Le'/Bu Le' dsb.

 

Apabila punya niatan untuk membuka usaha kuliner (Non pastry) dimana saja
dan apa saja, mungkin informasi ini bisa membantu teman-teman dalam menata /
men-design tata letak unit-unit (perlengkapan) kitchen/Dapur usaha kuliner
anda. 

Terkadang perusahaan manufacturing membuat/menata layout dengan menawarkan
produk-produk tertentu yang tentunya baik buat mereka, so .. info jasa ini bisa
dijadikan pilihan lain dalam menentukan lay out dapur/kitchen usaha kuliner 
anda. Saya sudah merasakan manfaatnya secara free, dan hanya memberikan imbalan 
seadanya.

Konsultasi ini dilakukan berdasarkan pengalaman bekerjanya pada industri
Kitchen manufacturing dan Kitchen Design Consulting.

 

Beberapa manfaat yang bisa didapatkan :

1.   
Memperoleh design lay out ktichen equipment dengan
benar sesuai flow proses pembuatan makanan.

2.   
Space ruangan untuk kitchen/dapur menjadi optimal.

3.   
Menekan Budget dengan menentukan equipment yang pas
untuk usaha kuliner anda.

4.   
Membantu pemilihan equipment yang tepat berdasarkan
ketersediaan modal awal.

5.   
Memberikan altrnatif equipment yang tepat sasaran / sesuai.

 

Silahkan menghubungi via email ke : [email protected]

Fyi : jasa yang ditawarkan ini bersifat free atau kalau
mau bayar aja semampunya lho

 

Demikian info ini, mudah-mudahan bermanfaat.

Goodluck, Wassalam

 

Note : alamat email ini mohon diikutsertakan menjadi
member bango-mania.

--- Pada Rab, 10/2/10, mediacare <[email protected]> menulis:

Dari: mediacare <[email protected]>
Judul: [bango-mania] Mengenal lebih dekat Mbak Memoria, Brand Building Manager 
Bango
Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected], "Female-Radio" <[email protected]>, 
"media-jakarta" <[email protected]>, "bizzcomm" 
<[email protected]>, [email protected]
Tanggal: Rabu, 10 Februari, 2010, 10:21 AM















 
 



  


    
      
      
      


Profil Memoria Dwi Prasita: Merintis karier 
dari pasar becek
 
Mengawali karier dari pasar ke pasar, kini wanita 
kelahiran Surabaya, 28 Oktober 1980 ini punya jabatan penting di Unilever 
Indonesia. Memor, begitu ia biasa disapa, adalah Brand Building Manager - 
Marketing Bango.

Anda kuliah di Teknik Industri, tapi sekarang bergelut di 
marketing. Bagaimana ceritanya?
 
Saya masuk Fakultas Teknik Industri UI karena tidak suka ilmu sosial dan 
bahasa. Lebih suka Matematika dan Fisika. Mau di Kedokteran, takut lihat darah. 
Akhirnya pilihannya masuk Teknik Industri yang tak hanya belajar teknik, juga 
manajemen pemasaran dan sumber daya manusia. Ternyata begitu masuk tahun 1999, 
malah belajar proses produksi, membubut, belajar mekanika, otak-atik mesin. 
Sepertinya saya salah masuk. Tapi tetap saya jalani. Apalagi setengah kelas 
isinya perempuan.

Lalu?
 
Lulus 2003 harapannya dapat kerjaan yang seru. Kebetulan Unilever Indonesia 
membuka lowongan. Dari 48 orang pendaftar yang diseleksi, hanya dua orang yang 
diterima. Saya pun memilih marketing meskipun latar belakangnya management 
marketing. Saya berharap, akan memenuhi keinginan saya punya kerjaan seru di 
marketing.
 
Awalnya, saya mengikuti management trainee. 6 bulan pertama diletakkan di 
luar marketing. Kok, ya nasib saya diletakkan di bagian sales ke pasar 
tradisional seperti warung dan toko. Padahal, teman saya ada yang ke 
supermarket. Selama sebulan jadi salesman, kerjanya boncengan dengan teman 
kerja 
cowok. Datang ke kantor, sih, pakai mobil atau dianterin tapi begitu kerja naik 
motor. Ha ha ha.

Ribet, dong?
 
Iya. Harus pakai helm dan jaket panjang. Seharian keliling lapangan dengan 
salesman, menerima order dari toko atau pasar. Tugas saya menanyakan mau pesan 
apa. Stres. Tadinya bayangan kerja enak dan keren. Apalagi teman-teman banyak 
yang kerja di bank, ber-AC dan memakai pakaian keren.
 
Ternyata pekerjaan saya bergaul dengan para pemilik toko yang hanya pakai 
kaos oblong. Keluar masuk pasar becek dan bau. Suatu ketika saya diomelin 
pemilik toko karena menginterupsi mereka saat ada transaksi. Duh, rasanya ingin 
nangis saat itu. Tapi itu pelajaran berharga bagi saya. Jangan menginterupsi 
pedagang yang sedang transaksi. Karena pembeli adalah raja.

Sempat terpikir untuk keluar?
 
Iya. Bayangin tiap hari harus ke pasar yang becek, belum lagi kalau ada 
kambing lewat. Kebetulan waktu itu dapatnya distributor Bekasi, jadi jalan ke 
pasar-pasar sekitar Bekasi. Tiap kali mau kerja, mukir, duh ke pasar itu lagi, 
deh, becek. Untungnya antara sesama teman yang ditraining suka email dan 
telepon, saling curhat. Ternyata saya lebih beruntung karena masih di Bekasi. 
Teman saya ada di Bandung, Kudus, Medan. Sementara saya, kan , masih bisa 
pulang 
ke rumah bertemu orangtua. Akhirnya, kami saling mendukung, bahwa pekerjaan 
seperti itu adalah hal biasa dan harus dijalani.

Ternyata pekerjaan itu sangat berkesan?
 
Ya, pagi-pagi harus ke distributor, satu hari bisa mendatangi 50 toko. Tiba 
saatnya makan siang bisa di mana saja, seringnya dekat pasar. Datang dengan 
rambut bagus, tapi begitu kena helm langsung rusak. Wajah jadi hitam, berdebu, 
dan rambut klimis. Lucunya, justru orangtua saya senang kalau anaknya mengalami 
kesusahan saat bekerja. Karena sesuatu yang bagus dan sukses itu tidak datang 
begitu saja. Mereka bilang cari uang itu susah, jangan mikir gampangnya 
saja.

Akhirnya jadi mengerti peran salesman sangat besar, 
dong?
 
Betul, peran mereka sangat besar menyalurkan produk Unilever ke konsumen. 
Padahal tadinya saya berpikir, konsumen langsung paham semua produk. Ternyata 
tidak. Saat di marketing saya jadi tahu bagaimana kondisi pasar, tidak semudah 
yang kita pikirkan.

Setelah itu?
 
Setelah di sales distributor 3 bulan, 3 bulan berikutnya dikasih proyek 
yang mengharuskan pergi ke daerah Purwakarta, Pluit, Pulo Mas, dan Bekasi. 
Kerjanya enggak naik motor, sudah naik mobil meski enggak bawa sendiri. Lalu, 
berturut-turut menjadi Marketing Royco, Asisten Brand Manager Royco, Asisten 
Brand Manager Bango, Asisten Regional Brand Development Manager KNORR South 
East 
Asia, dan dari 2007 sampai sekarang menjadi Brand Building Manager Marketing 
Bango.

Salah satu strategi marketing Bango, dengan mengadakan Festival 
Jajanan Bango (FJB)?
 
Ya. Ketika FJB pertama kali diadakan (2005) saya masih di Royco. Baru tahun 
kedua ikut FJB dan program teve Bango Citra Rasa Nusantara. Dua hal itu menjadi 
tugasnya marketing. Bango mempunyai misi sosial, melestarikan warisan kuliner 
Nusantara dan kesejahteraan petani kedelai hitam di Indonesia. Intinya, 
bagaimana mendayagunakan program tersebut agar sampai ke masyarakat.

Apa saja yang dipersiapkan untuk FJB?
 
Mengumpulkan pedagang kaki lima sampai restoran yang menjual makanan 
tradisional jadi satu dan memberi kesempatan pada mereka menjual makanannya. 
Sebelum event akan diberikan publikasi baik di teve, koran, tabloid, dan radio. 
Lalu para penjual seperti Ketoprak Sayur Ciragil, Soto Tangkar berkumpul di 
FJB. 
Tahun 2006 diadakan di Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung samai sekarang. 
Dari tahun ke tahun kami banyak belajar apa saja yang harus dibenahi, misalnya 
bagaimana mengurangi antrean, memastikan jualan habis, parkir mobil, pedagang 
diberi tahu agar bisa membawa dagangan cukup banyak hingga masyarakat yang 
datang kebagian.
 
Kadang yang terjadi, misalnya Rujak Cingur Surabaya yang ngulek harus 
pemiliknya langsung. Kalau ibunya sakit, ya enggak jualan. Atau Gabus Pucung, 
kalau enggak menemukan ikan gabus ya tutup, enggak bisa diganti dengan ikan 
lain. Bagi mereka semacam ada sisi emosional. Justru Bango menghargai hal 
tersebut. Ternyata begitu totalnya mereka melayani konsumen. Mereka pahlawan 
kuliner.

Sekarang banyak festival kuliner serupa. Bagaimana menjawab 
tantangan ini?
 
Masyarakat menganggap FJB sudah merupakan festival tahunan, itu bisa 
disebut kelebihan. Ada rasa penasaran, tahun depan FJB akan dibuat seperti apa. 
Kami sebenarnya ingin merangkul sebanyak mungkin pedagang tapi ada batasannya. 
Nah, jalan keluarnya, kalau mereka tidak bisa ikut FJB, bisa masuk ke program 
teve. Selain itu, bisa kami masukkan ke buku 80 warisan kuliner nusantara. Di 
tahun 2010 nanti pasti ada yang lebih seru, lihat saja nanti.
Kami juga membuka kesempatan bekerjasama dengan EO atau pemerintah lokal. 
Itu sudah menjadi cita-cita kami. Mungkin enggak festival, semacam gelaran 
jajanan, deh.

Anda sendiri sudah mencoba semua masakan di FJB?
 
Itu dia masalahnya. Padahal, FJB sejak 2006, 2008, dan 2009 saya yang 
membuat. Tapi saya belum merasakan semua masakan FJB. Kadang suka ingin 
merasakan makanan ini, tapi pas acaranya malah lupa. Hahaha.

Anda suka masak?
 
Saya penikmat makanan saja. Justru di rumah saya jadi kritikus buat ibu 
saya, tapi begitu disuruh masak, mundur teratur. Ha ha ha.

Ceritakan tentang keluarga, dong.
 
Suami saya Muhammad Togar Muliaraja Pohan (30) bekerja di bank. Saya 
memiliki seorang putri, Mairanissa Nayyara Pohan (10 bulan). Lagi 
senang-senangnya melihat perkembangan dia. Tugas ibu ternyata enggak gampang, 
ya 
harus penuh keikhlasan.

Anda sangat sibuk. Masih punya waktu memanjakan diri 
sendiri?
 
Saat hamil saya pernah dikasih tahu, manjakan diri sebelum anak lahir. 
Benar, lho, saya luluran dan potong rambut dulu. Begitu sudah jadi ibu baru, 
enggak sempat mengurus diri. Untungnya, saya masih tinggal dengan ibu.
 
Dari sekian kesibukan itu, akhirnya pilihan jatuh je tangan saya sendiri, 
meluangkan waktu untuk anak atau diri sendiri. Sampai saat ini saya masih 
curi-curi kalau ke salon, cuma diblow sebentar lalu cepat-cepat kembali ke 
rumah. Bagi saya, sangat sayang pergi meninggalkan anak. Bayangkan selama 12 
jam 
kerja, saya enggak tahu perkembangannya. Masa, begitu ada waktu luang, saya 
pergi.

Anda juga menyusui?
 
Ya sampai sekarang. Jadi gelarnya sudah S10, alias menyusui sampai 10 
bulan. Hahaha.

Noverita K. Waldan
Foto-foto: Ahmad Fadillah/Nova
 
Nova - 30 November 2009, Halaman 16
 
 


    
     

    
    


 



  











      Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke