BERAKHIR PEKAN DENGAN DARSO
Baru Dia, Superstar Calung Sunda

"DARI Polsek Cidadap belok saja ke kanan. Tanyakan
pada tukang ojek. Malam ini saya ada di rumah jam
sepuluh," begitu kami membuat janji untuk bertemu
Darso. Dan malam itu Sabtu (6/8) berangkatlah saya ke
arah Jalan Setiabudi Bandung dan menemukan sebuah
jalan tak jauh dari Polsek Cidadap. Tukang ojek
mengatakan jauhnya kira-kira 2 kilo meter dengan jalan
menanjak. Saya jadi ngeri membayangkan bersepeda motor
menempuh jalan seperti itu, belum lagi gerimis. SMS
saya yang menanyakan apakah ia sudah ada di rumah atau
belum pun tidak juga dijawabnya.

Siang keesokan harinya saya kembali kirim SMS. Meski
ia kembali tidak menjawab, saya berangkat mencari
rumahnya, berharap ia ada di rumah. Benar saja, jalan
menuju rumahnya di Kampung Cirateun Peuntas Kab.
Bandung itu benar-benar membuat saya takut. Jalan desa
yang naik-turun berkelok-kelok dengan tanjakan dan
turunan yang curam, dengan kondisi jalan yang buruk.
Sampai di rumahnya, ia tidak ada.

Di Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) Bandung, saya
mengajak pelukis Suherman mengantar saya malam itu
kembali ke Kampung Cireteun Peuntas dengan jip
kepunyaannya. Dengan pelukis Isa Perkasa dan Agus
Bebeng kami siap berangkat. Saya kirim SMS untuk
memastikan bahwa ia ada di rumah, tapi lagi-lagi tak
dibalas. Karena ragu, malam itu kami urung berangkat.
Esoknya, saya kembali telefon janji untuk kembali
bertemu. Malam harinya kami berangkat menuju Kampung
Cirateun Peuntas. Tentu saja dengan memakai jip jalan
yang curam itu bukan lagi persoalan.

Tapi sampai di rumahnya dia masih di Bandung. Kami
dipersilakan menunggu. Sebuah rumah mungil di tepi
jalan yang menanjak. Ruang tamu penuh foto. Beberapa
foto dirinya dengan wajah dan penampilan yang lebih
mirip pemain musik rock ketimbang penyanyi calung! Tak
lama ia datang, muncul dengan memakai jas. Rambutnya
panjang model Michael Jackson. Kata Suherman, sekilas
dia kayak penyair Godi Suwarna!

Lalu dengan nada kesal ia mengatakan sebal menunggu
saya ketika kami berjanji tempo hari. Ketika saya
katakan saya ragu datang karena SMS saya tidak
dijawabnya, dengan lugunya dia bilang ,"Aing mah teu
bisa SMS!"

Itulah Darso. Bahasanya garihal (Sunda kasar), namun
akrab. Meski kami baru bertemu, tapi seakan-akan tak
ada jarak. Penyanyi calung yang lagu-lagunya begitu
akrab di kalangan rakyat jelata ini lalu berbusa-busa
memaparkan banyak persoalan. Termasuk kekesalannya
pada pemerintah yang menurutnya tidak pernah
memperhatikan apa yang sudah dilakukannya selama ini
dalam melestarikan calung.

Dalam jagat seni musik Sunda yang serba halus dan
santun, nama Calung Darso memang terkesan
termajinalkan. Entahlah, ini mungkin karena calung
sendiri memang lebih terkesan berbau musik rakyat
jelata. Tambahan kemudian Darso menyatukannya dengan
dangdut.

Awal kemunculannya di tahun 1990-an dulu dengan album
"Cucu Deui" atau ”Sarboah" memang mendatangkan banyak
kritik dan cemoohan dari sebagian kalangan seniman
karawitan. Sampai-sampai penampilannya di televisi
memakai jas menjadi omongan. Dia bahkan dianggap
merusak tata tertib seni karawitan. Tapi Darso jalan
terus, dan toh, masyarakat pun ternyata menyukainya.

"Tong kana patokan-patokanlah ayeuna mah!
langsung-langsung we! (Tak usah pake
patokan-patokanlah sekarang, langsung-langsung
saja!)," katanya.

Dia mungkin memang sejenis orang yang tak suka
basa-basi dan aturan. Tapi, karena itulah banyak juga
orang yang menganggapnya telah memberi andil besar
dalam mengangkat calung ke tataran pop Sunda. Bahkan
menurut Nano S., Darso adalah orang pertama dalam
lingkungan tradisi yang berhasil masuk ke pop Sunda
dan memberi warna. Gaya dan suaranyanya sangat khas,
gaya urang lembur. "Dia punya bakat alam yang besar.
Ibaratnya dia itu manuk leuweng. "Dia punya andil yang
besar dalam memasyarakatkan calung, 80% grup calung
yang muncul di banyak daerah menginduk pada gaya
Darso. Dia dianggap superstar! " kata Nano S.

Tapi Darso sendiri selalu mengatakan, aing mah lain
naon-naon (saya bukan apa-apa). Tentang popularitasnya
sendiri katanya itu semua berkat Mang Uko kakaknya
sebagai pencipta lagu.

"Sebenarnya saya mah bukan pemain calung, tapi
penyanyi calung!"katanya dengan suara serak, kayak
penyanyi Gito Rollies.

Berikut percakapan kami dalam bahasa Sunda yang
kemudian "disaritilawahkan" ke dalam bahasa Indonesia.

 

Bagaimana sih dulu permulaannya Anda terjun ke dalam
dunia percalungan?

Permulaannya kira-kira tahun 1962. Saya main band
dulu. Penyanyi-penyanyi seperti Tety Kadi, Lilis
Suryani itu dulu kalau nyanyi di Saparua sama band
saya diiringinya. Nama bandnya Nada Karya. Band saya
itu bersaing dengan Band Nada Kencana. Waktu pokoknya
tahun 1962 saya main band sampai jaman Gestok (Gerakan
1 Oktober tahun 1965) tea. Lalu sejak itu merintis
calung ke daerah-daerah sampai masuk acara di RRI
Bandung zaman S. Hidayat. Lalu juga dengan Baskara,
acara "Baskara Saba Desa" ke daerah-daerah. Da dulu
mah tidak ada tape recorder teh. Cuma Radio. Jadi
kalau kami maen di RRI, ya, cuma RRI saja yang
menayangkannya. Siaran langsung.

Waktu saya masih main band di Gedung Wanita di Jalan
Riau, ngewa sayah kana calung teh atuh! (Saya benci
sama calung). Begitu Gestok, saya kan ikut band di
kavaleri, banyak nyantainya. Waktu sedang ada di
daerah, iseng-iseng kami main calung. Jadi! Dan
langsung ikut acara di RRI. Dulunya iseng, tapi
sekarang mah jadi duit!

Sebelumnya Anda pernah belajar calung?

Da calung mah teu belajar! Yang membuat lagu mah Kakak
saya, Uko Hendarso. Da saya mah sebenarnya bukan
pemain calung, tapi nyanyi calung! Jadi yang merintis
dan membawa saya ke musik calung itu Mang Uko.
Lagu-lagu yang menonjol juga ciptaan dia.

Lalu dikemas jadi musik pop yah?

Iya! Tapi calungnya tidak hilang. Yang penting suara
calung itu ada. Model sekarang, bikin album, calung
itu tetap ada, cuma memang tidak di depan, hanya
mengiring.

Jadi mulai terjun ke pop itu tahun berapa?

Ya, tahun 1990-an. Kalau dulu, yah, ke calung wee!

Katanya dulu sempat ramai diperdebatkan, yah?

Ya, itu! Banyak perdebatannya. Saya maen di TVRI pake
jas sajah diomong-omong! Kalau saya pake iket dan
kampret, itu mah ciptaan zaman dulu atuh! Kenapa
sekarang kita tidak bisa menciptakan juga? Bukan
merusak, tapi mengaksesorisnya! Pernah malah dulu saya
maen degung pake kendang dangdut, itu mah bukan
merusak! Tapi menciptakan yang baru!

Jadi tradisi mah harus berubah terus, atuh?

Bukan berubah. Yang penting yang aslinya jangan
hilang! Kita harus lihat situasi massa, juga telinga
orang zaman sekarang. Beukien henteu calung hungkul?
Orang zaman dulu memang mengenang dan lebih suka
calung yang aslinya. Tapi bagimana dengan pemudanya,
mereka juga kan butuh joged? Tetep calungnya mah
bersatu! Naon ngarana teh, aborsi?!

Kolaborasi!

Yah! Kita kudu lihat situasi. Apalagi buat rekaman.
Rekaman mah kan untuk dijual, nya? Kalau untuk
didengarkan memang yang ngenah mah yang baheula. Tapi
kan sekarang model kacang! Paling banter juga tiga
bulan!

Kalau begitu nanti bisa berubah lagi, atuh?

Bisa berubah, bergantung pada selera orang. Tapi
sampai sekarang juga masih banyak orang ingin calung
yang asli, tanpa musik lain-lain. Memang enak untuk
didengar, tapi kan bukan enak untuk ditonton. Maenya
mun maen teh aing kudu ngajentul wae! Tidak mungkin
kan?

Tapi sambutan pada akang luar biasa, yah?

Saya mah blak-blakan. Bukan muji diri sendiri! Memang
luar biasa. Kenapa? Karena saya mah ingin menyenangkan
orang. Misalnya, preman di jalanan itu, saya dekati
mereka, ajak ngobrol. Mereka itu senang. Atau tukang
roda, saya ikut naek. Dia itu senang. Saya sih enak
saja, saya mah bukan naon-naon! Da aing mah, eh, saya,
berpikir daripada bergaul ke atas mending ke bawah.
Saya mah kalau maen saayana, seadanya. Saya tidak bisa
kayak orang, kalau mau manggung masuk ke kamar dan
tidak keluar-keluar! Pernah waktu main di Brimob saya
make dikawal sagala. Embung saya mah! Bebas saja
salam-salaman!

Enak yah jadi orang terkenal?

Ah, saya tidak merasa jadi orang terkenal. Sebab,
kalau kita dekati mereka itu senang. Kalau saya main
di kampung-kampung saya tidak pernah datang ke rumah
gedong. Ke rumah butut dan ngajak mereka makan
bersama. Dengan cara begitu mereka bangga dan senang.
Itu yang penting. Karena itu saya sekarang, umur sudah
60 tahun, masih banyak yang nanggap. Mungkin ini doa
dari mereka.

Jangan salah! Jadi kalau kita naek dan jadi populer,
itu jangan merasa itu hasil sendirian, kayak
penyanyi-penyanyi sekarang! Ada dukungan! Saya sendiri
sekarang ada anggota calung yang sudah meninggal, dia
itu masih punya jatah. Bukan muji sendiri, karena itu,
sampai sekarang saya masih tetap disenangi. Karena
pergaulan itulah, menyenangkan orang lain, jangan
sirik, membagi rezeki, dan jangan memakan keringat
orang lain.

Karena itu menurut saya, yang sudah terkenal-terkenal
itu cobalah banyak syukuran. Jangan merasa kita
terkenal karena hasil sendirian. Semuanya bukan juga
kepunyaan kita. Kalau kita sudah merasa memiliki, kita
pasti merasa sayang kan?! Makanya saya mah kalau
nyimpan mobil tidak pernah dikunci. Biarin saja,
semuanya punya Gusti Allah, beres! Sekarang kalau kita
terlalu berhati-hati karena takut ada yang mencuri ,
sudah mah kita dibuat gelisah, dicurinya juga ternyata
tidak! Benar kan? Mending-mending kalau memang betul
dicuri! (tertawa).

Ada pendapat di berbagai daerah di Jabar, 80%
grup-grup calung meniru gaya Anda?

Ya, yang kudu bangga mah yaitu Mang Uko. Saya mah
tidak bangga. Buat mereka memang hanya tahunya saya,
padahal yang semuanya itu berkat kakak saya. Model
dulu ada pasanggiri calung, saya diminta jadi juri.
Saya tidak bisa! Da saya mah ngan saukur nyanyi!

Dalam sebulan berapa kali Anda dapat tanggapan?

Ya, rata-rata antara 6 atau 10. Banyaknya ke luar
kota, Banjar, atau ke Pakidulan, ke Selatan.

Karena pembajakan kaset, kayaknya daripada hasil
royalti mendingan hasil manggung?

Mending manggung dari rekaman mah! Rekaman cuma buat
promosi.

Anggota calung Anda dari mana?

Dari Ujungberung, dan banyak lagi, kira-kira 15
oranglah. Tapi sekarang saya lebih banyak maen dengan
anak, dengan Si Asep. Kalau ada acara saya ambil grup
dia, tapi nama saya tetap ada. Banyak grup-grup calung
minta jadi anak asuhan saya, silakan saja, yang
penting jangan disalahgunakan.

(Dua orang putranya, Asep dan Ujang Darso, mengikuti
jejaknya sebagai seniman calung. Tapi Darso mengatakan
mereka harus punya gaya sendiri, sebab seorang peniru
sampai kapan pun tetap saja nomor dua, tidak akan
pernah bisa jadi nomor satu).

Banyak juga yah anak asuh Anda? Bagaimana potensi
mereka?

Kalau penyanyi dangdut potensi mereka lumayanlah. Tapi
keinginan saya, main dulu yang bagus karena kita
dibayar sama yang hajatan, jangan yang dipentingkan
cuma sawerannya. Saweran itu kan minta, apalagi kita
ini biduan! Terus merogoh-rogoh ke saku, paling gede
cuma sarebu, nanaonan! Yang penting permainan dulu
yang bagus. Nah, banyaknya sekarang yang kayak gitu!

**

SEJAK kiprahnya di akhir tahun 1960-an, telah ratusan
album kaset dirilis Darso. Dan saat ini ia tengah siap
meluncurkan album terbarunya "Tanjung Baru". Atas
dedikasinya memasyarakatkan seni calung inilah menjadi
tak berlebihan jika Sekolah Tinggi Musik Bandung
menganugerahinya Jabar Music Award 2005. Ironisnya,
inilah bentuk penghargaan satu-satunya yang pernah
diterima Darso. Sekali lagi, seakan-akan ini
membuktikan bagaimana dalam jagat kesenian Sunda,
Darso dengan musik dan lagunya yang banyak disuka oleh
rakyat jelata itu selalu dianggap nu liyan, yang
dimarjinalkan.

"Pemerintah kan selalu ngomong, lestarikan,
lestarikan!" Tapi mana modalnya? Kalau misalnya saya
mengajukan proposal untuk pembinaan seni calung di
daerah-daerah, anggaran itu kan ada. Tapi, kalau
diberi itu jangan jauh teuing atuh! Yang saya minta,
misalnya, Rp 300 juta tapi dikasihnya cuma Rp 5 juta!
Membina naon ku duit Rp 5 juta! Seperangkat calung
saja sudah Rp 3 juta setengah, belum melatih, padahal
itu untuk daerah yang terpencil. Saya melatih tidak
minta bayaran pada mereka. Kasihan kan? Misalnya, saya
sedang melatih mereka malah cing harewos, bisik-bisik
di belakang, udunan buat membayar saya. Kan saya teu
ngenah!," katanya dengan nada tinggi.

Jadi selama ini apa yang sudah Anda lakukan dengan
seni calung tidak ada perhatian dari pemerintah,
begitu?

Tidak. Tidak ada perhatian. Lihat saja waktu
peringatan Konferensi Asia-Afrika, banyak grup
kesenian tampil tapi kan didominasi oleh orang
tertentu saja. Cing atuh bagikeun projek teh!

Jadi ada kenyataan yang enggak sehat yah?

Bisa disebut begitu. Memang teu sarehat, gimana mau
disebut sehat! Seniman-seniman lain begitu gampang
dapat bantuan. Terus terang saja saya ingin buat
patung Mang Koko, dan ngamodalan calung di SD-SD.
Anggaran kan ada, yah? Tapi kunaon tiap aing ngenta
eweuh wae!

Jadi akang merasa diperlakukan tidak adil gitu?

Adil mah adil, tapi adil buat mereka saja. Tapi buat
saya mah enggak enak!

Ngomong-ngomong ada juga yang menyebut Anda Michael
Jackson-nya Sunda, yah?

Ya, mungkin karena model rambut saya yah? Tapi saya
tidak bangga. Yang saya bangga, seusia begini saya
masih bisa ditanggap. Saya mah blak-blakan, yang tidak
mampu jangan bayar, asal bener. Namanya juga mungkin
orang tua, sayang sama anak, ingin nanggap calung saya
tapi enggak mampu bayar, sok silakan tanggap. Doa
mereka itu dua beribu kali lipat!

Jadi Anda enggak masang tarif?

Tergantung orangnya.

Tapi Anda bisa hidup dari musik?

Bisa, dan sekali lagi ini karena doa mereka yang di
daerah-daerah itu. Buat saya ada kebahagian tersendiri
bersama mereka.

Sampai kapan Anda mau main calung?

Saya hidup dari sini, ya, sekuatnya saja dan kalau
orang masih mau nanggap. Saya tidak legeg (sombong),
duh urang hayang istrirahat ah! Padahal masih banyak
yang nanggap!

Dari kecil Anda memangnya sudah punya cita-cita jadi
seniman musik?

Saya dulu bercita-cita jadi dalang. Sejak kecil saya
suka main wayang-wayangnya pake pohon singkong. Saya
mah sebenulnya, eh, sebenarnya pidalangeun! Nah,
kenapa suara saya jadi kayak begini, mungkin pecah
waktu diajar ngomong tokoh ksatria. Sebagai penyanyi
orang yang mengangkat aku itu R. Hidayat dan Baskara.

Anda ini seniman Sunda, tapi kok namanya pake "O"
kayak orang Jawa?

Ah! Entog juga pake "O", bukan Jawa! (Kami tertawa
ngakak).

Kalau sedang manggung apa sih yang paling enak?

Yang paling enak, ya, awewe (perempuan).

Maksudnya awewe?

Ya, mereka itu kalau nonton. Kayak saya waktu main di
Sarijadi. Misteri! Naon, misteri ngarana teh nu cing
ngajarerit kitu teh?

Histeris! (kami tertawa). Dan banyak yang
mengejar-ngejar Anda, atuh?

Ya, begitulah (suaranya pelan). Tapi saya mah
mengimbau ka seniman, kalau bisa jangan nyandung.
Bukan hanya capek, tapi juga karena harus banyak
bohong, padahal hirup kan hayang senang lain!? Banyak
bohong karena apa? Karena ingin ini akur itu akur!
Bener kan? (Ahda Imran


                
____________________________________________________
Start your day with Yahoo! - make it your home page 
http://www.yahoo.com/r/hs 
 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h2v67t5/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123968255/A=2896130/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Give
 underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to 
life by funding a specific classroom project  
</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke