Posisikan Perpustakaan pada Tempat Terhormat
Dadang Dally, Untuk Meningkatkan Minat Baca
BANDUNG, (PR).-
Untuk meningkatkan minat baca, seharusnya perpustakaan
diposisikan pada tempat terhormat di sekolah. Bahkan
jika perlu, dibentuk lembaga wakil kepala sekolah
bidang perpustakaan.
Usulan ini dilontarkan Kepala Dinas Pendidikan
Provinsi Jawa Barat, Dadang Dally, saat Seminar
Nasional Strategi Pengembangan Perpustakaan untuk
Meningkatkan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya
Manusia, yang diselenggarakan Ikatan Pustakawan
Indonesia Daerah Jawa Barat dan Badan Perpustakaan
Daerah Provinsi Jawa Barat, Selasa (30/8).
Dadang mengatakan, selama ini perpustakaan
diperlakukan kurang layak oleh sekolah di mana pun
juga. Keberadaannya seakan dipandang tidak penting dan
hanya jadi pelengkap gedung sekolah.
Banyak sekolah yang menempatkan perpustakaan di dekat
WC atau warung. Padahal untuk meningkatkan minat baca,
seharusnya diciptakan kondisi lingkungan yang
mendukung dan nyaman, ujarnya.
Menurut Dadang, sudah saatnya upaya mendongkrak minat
baca menjadi gerakan budaya, di mana semua pihak
terlibat di dalamnya. Namun sayang, ujarnya, kuatnya
budaya paternalistik kadang menjadi penghambat gerakan
ini.
Kalau ada atasan yang tidak suka baca, bawahannya
juga tidak suka baca. Jika ada guru yang tidak suka
baca, muridnya pun demikian. Padahal di sekolah, upaya
mendongkrak minat baca ini merupakan tanggung jawab
kepala sekolah dan guru, ujarnya.
Dadang juga mengusulkan perubahan cara mengajar, dari
konvensional ke arah dialogis dan eksploratif. Murid
seharusnya diajak mencari referensi
sebanyak-banyaknya, untuk kemudian dibawa berdiskusi
di kelas.
Tapi, lanjutnya, perubahan cara mengajar ini sulit
dilakukan. Penyebabnya, kecenderungan sekolah yang
enggan melakukan perubahan. Semuanya kalah oleh kata
hoream (malas -red), ujarnya.
Reposisi perpustakaan
Sementara itu, anggota Komisi X DPR RI, Angelina
Sondakh, mengatakan, perpustakaan di Indonesia harus
mengalami reposisi dan reorientasi. Menurutnya,
perpustakaan haruslah sebuah tempat yang hidup, tempat
berlangsungnya interaksi sosial dan transfer ilmu
pengetahuan.
Perpustakaan, juga harus menjadi tempat yang nyaman
dan menyenangkan. Sehingga orang akan merasa
membutuhkan perpustakaan. Bukan datang karena
keterpaksaan.
Kalau kata saya, perpustakaan di Indonesia adalah
perpustakaan mati. Orang datang hanya karena terpaksa.
Misalnya, mahasiswa datang ke perpustakaan karena
sedang menyusun skripsi, ujarnya.
Angelina mengatakan, minat baca yang rendah, membuat
bangsa Indonesia tertinggal dari bangsa lainnya di
dunia. Ia memberi contoh, di Amerika Serikat,
komunitas bangsa Indonesia masih belum memiliki peran
apa-apa. Bandingkan dengan komunitas bangsa India yang
menguasai Cylicon Valley (tempat pengembangan
teknologi tinggi di AS) atau orang Cina yang sudah
merambah hingga ke perfilman Hollywood.
Perpustakaan dan minat baca ini berkaitan erat dengan
pengembangan SDM. Kita sudah kalah oleh negara
tetangga. Negara seperti Filipina saja sudah memiliki
image sebagai negara yang lebih maju dari kita.
Misalnya, dulu sekolah lulusan sekretaris Tarakanita
di Jakarta, laku di bursa kerja. Sekarang, mereka
kalah oleh lulusan sekolah sekretaris dari Filipina,
kata Angelina Sondakh. (A-132)***
Baktos,
Rahman, Wassenaar/NL
____________________________________________________
Start your day with Yahoo! - make it your home page
http://www.yahoo.com/r/hs
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/