Birokrasi Pedagang

Saiful Arif

Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, banyaknya menteri berlatar
belakang pengusaha dalam pemerintahan merupakan fakta tak terelakkan
(Kompas, 14/11).

Pernyataan ini seolah menanggapi kritik yang menuding kabinet
Indonesia dikendalikan oleh "para pedagang". Riswandha Imawan (Kompas,
1/11) menyatakan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) sebagai Vereniging
Indische Compagnie (VIC). Betapa tidak, dari 35 anggota KIB, sebanyak
13 di antaranya berlatar belakang pengusaha.

"Entrepreneurship" birokrasi

Dalam dasawarsa terakhir, birokrasi di negara berkembang, termasuk
Indonesia, mendapat gempuran tajam konsep Reinventing Government (RG)
karya Osborne-Gaebler. Sebagai karya mutakhir kajian birokrasi,
nasihat Osborne-Gaebler menjadi jimat baru bagaimana birokrasi harus
dijalankan.

Tak pelak, kajian-kajian yang dilakukan di berbagai daerah sering
memberi kesimpulan final, aparat birokrasinya tidak terampil
menjalankan tugas. Lalu perlukah menanamkan semangat kewirausahaan di
jajaran birokrasi pemerintah?

Logika birokrasi yang ditemukan dalam RG ala Osborne-Gaebler ini
adalah logika pasar. Di dalam pasar, rakyat dianggap sebagai konsumen.
Sebagai konsumen, pelayanan yang didapatkan adalah sejauh mana ia bisa
membayar harga pelayanan tersebut.

Ketika birokrasi "di-pasar- kan", maka tidak perlu lagi ada hak bagi
birokrasi dan aparatnya untuk loyal kepada rakyat kecil. Keberpihakan
birokrasi sebagai abdi rakyat luntur karena aparaturnya merasa
terlebih dahulu dan terutama harus mengabdi pada modal dan keuntungan.

Akibatnya, semua urusan pemerintahan sering dilihat sebagai commercial
goods dan bisa "diperjualbelikan". Hak publik sering diabaikan karena
yang dipikirkan adalah bagaimana mengeruk keuntungan terlebih dahulu.
Kebijakan kenaikan harga BBM yang kontroversial bisa jadi adalah
contoh nyata tentang birokrasi yang melihat perhitungan ekonomis lebih
penting daripada nasib rakyat.

Rakyat yang tak berdaya secara ekonomi jelas tak mampu mengakses pasar
yang bertuhan modal itu. Rakyat lalu menjadi elemen komplementer yang
mudah direkayasa kebutuhannya demi kepentingan pasar.

Mengabdi kepada siapa?

Dengan mencontohkan latar belakang politik birokrasi di AS saat ini,
Wapres bahkan menyatakan, "Sengaja atau tidak sengaja kita setuju
sistem perpolitikan seperti itu..., dengan latar belakang pengusaha,
tanggung jawab para menteri untuk memajukan dan memakmurkan bangsa
menjadi lebih jelas."

Pernyataan seperti ini cenderung menegasikan bagaimana seharusnya
pejabat berfungsi melayani rakyat. Harus diperkirakan betul bahwa
memimpin negara sama sekali jauh berbeda dengan memimpin perusahaan.

Di negara yang hampir bangkrut seperti ini yang utama justru bukan
adanya pejabat-pengusaha yang hanya bisa berhitung untung rugi,
melainkan seorang negarawan yang memiliki mata hati untuk empati pada
nasib rakyat dan membelanya. Negarawan sejati tidak menghitung nasib
rakyatnya dalam kalkulasi untung rugi ala pedagang, melainkan melihat
sisi-sisi terdalam dampak suatu kebijakan diimplementasikan.

Bukankah karena politisi kita sebagian besar berlatar belakang
pedagang, pada akhirnya harta benda bangsa ini hampir habis
tergadaikan kepada sesama pedagang?

Pertanyaan lanjutan yang sangat penting dikemukakan adalah kepada
siapa birokrasi dan birokrat kita mengabdi? Kepada rakyat, negara,
atau modal? Ini harus dipastikan untuk memperjelas posisi masyarakat
sebagai "rakyat" atau "konsumen", sekaligus untuk mempertegas ke arah
mana Indonesia ini dibawa dan diwarnai oleh KIB.

Memang tidak ada yang bisa "dipersalahkan" jika pedagang menjadi
birokrat. Yang dikhawatirkan adalah kenyataan bahwa birokrasi yang
berorientasi dagang pada akhirnya akan melahirkan "siapa kaya siapa
menang".

Indonesia tidak perlu taat buta pada Osborne-Gaebler mengingat kondisi
kebanyakan masyarakat yang berada jauh di bawah garis kemiskinan.

SAIFUL ARIF Penulis Buku Kapitalisme Birokrasi, Kritik Reinventing
Government Osborne-Gaebler (LKiS, 2001); Mahasiswa Pascasarjana
Universitas Brawijaya Malang





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/wlSUMA/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke