Habitus Baru

B HERRY-PRIYONO

Apa kira-kira nama bagi tahun 2005? Rasanya ia seperti sungai-waktu
yang baru saja kita selami, tetapi arus dasarnya belum juga kita
kenali. Hari ini kita sejenak diam, merasakan arusnya yang sedang
surut menjadi silam.

Dengan pesta-bunyi kita akan menyambut pagi meskipun tetap saja ada
rasa menyesakkan berada di ruang-waktu negeri ini. Inilah negeri yang
berulang kali ingin menyembuhkan diri, tetapi setiap kali kita dapati
lagi sedang menghancurkan diri.

Para mandarin kebijakan publik telah mencoba banyak cara. Ada cara
hukum, cara ekonomi, dan tentu cara politik. Namun, seperti raksasa
yang pingsan, negeri ini belum juga siuman. Mungkinkah cara-cara yang
ditempuh selama ini kelewat dangkal untuk menembus cacat yang jauh
lebih mendalam?

Banyak produk hukum baru telah dihasilkan, tetapi belum juga tumbuh
keteraturan. Demikian pula banyak program ekonomi telah dilakukan,
tetapi malah menggiring semakin banyak orang ke gurun kemiskinan. Dan
perubahan politik perwakilan telah dicoba, tetapi hasilnya cuma
kebiasaan anggota DPR melancong sambil belanja.

Setiap kebijakan punya batas lantaran ia berjalan di atas endapan
kebiasaan hidup sehari- hari kita yang membentuk Indonesia seperti
yang kita hidupi sekarang. Dan gugus kebiasaan itu rupanya jauh lebih
keras-kepala dibandingkan dengan berbagai perangkat kebijakan yang
timbul tenggelam. Istilah bagi gugus kebiasaan itu adalah habitus.

Lapis kebiasaan

Habitus adalah kata biasa dalam bahasa Latin. Ia bisa berarti
kebiasaan, bisa pula tata pembawaan atau penampilan diri. Semua mau
menunjuk kecenderungan atau pembawaan diri yang telah menjadi insting
perilaku yang mendarah daging, semacam pembadanan dari kebiasaan kita
dalam rasa-merasa, memandang, mendekati, bertindak, atau berinteraksi
dalam kondisi suatu masyarakat. Ia dipakai secara netral, baik untuk
gugus kebiasaan yang dianggap terpuji maupun tercela. Ia dipakai untuk
menunjuk kebiasaan banyak anggota DPR melancong dengan dalih studi
banding maupun untuk kebiasaan spontan membuang sampah pada tempatnya.

Sebagai gugus kebiasaan rasa-merasa, memandang, serta bertindak,
habitus bersifat spontan dan tidak disadari pelakunya, tidak pula
disadari apakah kebiasaan itu terpuji atau tercela. Orang tidak sadar
akan habitus-nya, sebagaimana orang tidak sadar akan bau mulutnya.

Melalui laku refleksi, istilah tua itu diangkat dan dikembangkan
almarhum Pierre Bourdieu, pemikir Perancis, sebagai teropong analisis.
Ia berguna, salah satunya, untuk menyingkapkan lapis tersembunyi dari
penyebab banyak kemacetan suatu masyarakat seperti yang terjadi di
Indonesia. Dengan berguru sejenak kepadanya, dan dengan risiko
penyederhanaan berlebihan, banyak kemacetan di negeri ini mungkin
terjadi lantaran dua kecenderungan berikut ini. Di satu pihak,
anggapan bahwa kita adalah kerumunan yang bisa dibentuk menjadi apa
saja sesuai dengan arah program kebijakan. Apa yang diperlukan adalah
konsistensi penerapan kebijakan, dan perilaku tiap orang Indonesia
akan berubah sebagai produk jelmaan dari corak kebijakan. Di lain
pihak, anggapan bahwa dengan bebas kita bisa membentuk kehidupan
bersama menurut kemauan pribadi kita masing-masing. Karena itu,
berbagai kemacetan yang kita hadapi hanya mungkin diatasi dengan
perubahan pada lingkup pribadi.

Kedua kecenderungan itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga ada
sesuatu yang kurang, meskipun sulit ditunjukkan. Mengapa banyak
program yang sangat terpuji sekalipun mudah berguguran? Selain itu
juga, mengapa kehendak pribadi yang paling mulia sekalipun mudah patah
dihadang corak perilaku kerumunan?

Untuk melampaui tegangan seperti itu, ada sasaran bidik lebih sentral
yang mesti dijadikan fokus. Fokus itu adalah endapan berbagai
kebiasaan kita dalam rasa-merasa, memandang, dan bertindak yang
disebut habitus. Habitus bukan lagi sebatas kebiasaan seseorang,
melainkan seluruh gugus kebiasaan sosial yang tampak dalam corak
praktik sehari-hari hidup bersama kita, dari praktik korupsi sampai
perusakan hutan, dari kebiasaan plagiat sampai kebiasaan mengemplang
utang yang dilakukan banyak bank kelompok bisnis di Indonesia dengan
ujung pada kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Ambillah contoh yang setiap hari ada di depan mata, yaitu lalu lintas.
Salah satu gejala dari habitus berlalu lintas tampak pada momen di
perempatan. Lampu lalu lintas sudah berubah merah, tetapi banyak
mobil/motor tetap melaju. Andaikan Anda warga negara Malaysia yang
baru saja tiba dari Kuala Lumpur dan mengendarai mobil di Jakarta,
melihat lampu lalu lintas berwarna merah Anda berhenti, tetapi
mobil/motor di belakang membunyikan klakson keras-keras, memaksa Anda
melaju. Terkejut dengan cara itu, Anda geleng-geleng kepala, lalu
terpaksa melaju.

Daya paksa kebiasaan berlalu lintas di Jakarta terhadap Anda yang
”taat hukum” itu sedemikian rupa sampai Anda merasa tak mungkin
berada di jalan tanpa mengikuti habitus preman dalam berlalu lintas.
Maka, ke dalam gugus habitus berlalu lintas di Jakarta ditambahkan
seorang pelaku baru, yaitu Anda. Dengan itu, jarak antara aturan lalu
lintas dan praktik berlalu lintas juga semakin jauh.

Lapis perubahan

Contoh kecil itu bisa direntang untuk soal-soal lain. Semua menunjuk
ciri berbondong-bondong seperti kawanan-hewan (herd) yang menandai
kinerja habitus. Pokok ini juga bisa melunakkan keyakinan kita yang
terlalu mulia tentang sifat sadar perilaku kita. Dalam habitus kita
tidak sesadar seperti cita-cita para filsuf meskipun juga tidak
semekanis seperti mesin. Mungkin benar apa yang ditulis penyair Romawi
Ovidius sekitar 2.000 tahun lalu: Tak ada yang lebih kuat daripada
kebiasaan.

Jadi, selama ini rupanya berbagai program kebijakan di bidang ekonomi,
politik, atau hukum berdiri tipis di atas endapan luas kebiasaan kita
yang jauh lebih mendalam daripada lapis yang dibidik berbagai
kebijakan itu. Program ekonomi, misalnya, bisa saja membentuk bingkai
ekonomi pasar. Namun, dengan corak habitus kita sekarang, lebih
mungkin yang berkembang biak adalah para maling, dan bukan pelaku pasar.

Akan tetapi, bukankah gugus-gugus kebiasaan itu bisa diubah oleh
kebijakan? Mungkin! Namun, dari kegagalan berbagai kebijakan cukup
jelas bahwa habitus yang beroperasi pada lapis kedalaman jauh lebih
keras kepala daripada yang kita bayangkan. Yang lebih mungkin bukan
program kebijakan yang mengubah habitus, melainkan kinerja habitus
yang meremuk kebijakan. Itulah mengapa bahkan banyak kebijakan yang
terpuji dengan cepat mengalami pembusukan lalu berguguran.

Jadi, soalnya bukan sebatas ketepatan kebijakan, melainkan
transformasi gugus habitus pada skala sebesar bangsa. Cuma, sama
seperti watak habitus, kita adalah orang-orang yang telanjur keras
kepala, tidak akan percaya tanpa bukti di depan mata. Maka, hanya dari
bidang-bidang yang kasatmata itu pula proyek pembentukan habitus baru
dapat dimulai. Perubahan gugus kebiasaan pada dataran yang paling
kasatmata ini niscaya akan memberi kita pengalaman rasa-merasa baru
soal negeri yang sudah lama lebih mengenal keputusasaan ketimbang harapan.

Gugus kebiasaan yang paling kasatmata menunjuk gejala sekonkret
seperti kebiasaan berlalu lintas, kebiasaan membuang sampah, dan
semacamnya. Bila pada dataran yang paling kasatmata ini pun tidak
terjadi perubahan habitus, mungkin terlalu tinggi bermimpi tentang
perubahan dalam soal yang secara publik lebih tersembunyi, seperti
jual-beli gelar dan korupsi. Dan yang penting lagi, gerakan perubahan
habitus ini tidak mungkin dibebankan hanya kepada presiden meskipun
mungkin dipimpin olehnya. Agenda perubahan habitus inilah, dan bukan
siasat menaikkan harga bahan bakar minyak, yang jauh lebih pantas
dipasang sebagai iklan sebesar halaman koran.

Corak habitus kita sebagai sebab tersembunyi banyak kemacetan bangsa
ini mungkin terdengar seperti dongeng peri ketika diajukan pertama
kali. Setiap kebenaran selalu lebih dahulu terasakan daripada
terkatakan. Saat pertama diajukan, biasanya ia juga terungkap dalam
rumusan yang serba cacat. Dan untuk waktu yang lama kita akan
tergagap-gagap memahami, sampai kesesakan bersama memaksa kita
akhirnya mengakui.

Dalam kesesakan itu, sesekali saya membayangkan seorang bijak yang
datang ke tengah kita. Tatkala mendengar keluh kesah kita, ia hanya
bersabda: Kejarlah dulu habitus baru, selebihnya akan ditambahkan
kepadamu.

Selamat Tahun Baru.

B Herry-Priyono Pengajar Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat
Driyarkara, Jakarta; Sementara Tinggal di California





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke