Percobaan yang Berani: dengan Cerita Zen ke Pencerahan

Parakitri T Simbolon

Terus terang buku ini boleh disambut sebagai percobaan yang berani,
sedikitnya karena tiga alasan: tradisi Zen itu sendiri; kedudukan
penulis terhadap Zen; dan perkembangan sains. Tinjauan ini akan
menyentuh ketiga alasan tersebut secukupnya agar pembaca bisa
mengambil sikap yang memadai terhadap buku yang ditulis dengan bahasa
yang enak dan terjaga ini.

Menukik langsung ke pengalaman religius Sidharta Gautama berupa
pencerahan (sambodhi), kendati tidak mengabaikan ajarannya dan
tafsiran pengikutnya (Dharma), Zen sering dianggap, sekurang-kurangnya
oleh para pengikutnya, sebagai sari pati atau Alfa-Omega Buddhisme itu
sendiri. Begitu tak terperikan pengalaman pencerahan itu rupanya
sehingga sering dikatakan bahwa yang tahu Zen tidak membicarakannya
dan yang membicarakannya tidak tahu Zen. Lantas, bagaimana mungkin
mencapai pencerahan melalui cerita-cerita kebijaksanaan Zen,
sebagaimana ditawarkan oleh buku ini?

Tentang soal ini baiklah kira rujuk pendapat suhu Zen terkemuka di
zaman kita, Daisetz Teitaro Suzuki (1869-1966), yang menulis tidak
kurang dari 30 buku tentang Zen untuk masyarakat yang dianggapnya
mengutamakan rasio, khususnya Barat. Dalam karya-karyanya itu ia
selalu menjelaskan mengapa ia menulis untuk masyarakat tersebut. Dalam
Preface untuk karyanya, Essays in Zen Buddhism seri pertama dari dua
seri (New York: Grove Press Inc, 1949/1961), misalnya, Suzuki menulis,
"Of course, great mistake it would be if one should ever take the
notion even for a moment that Zen could be mastered from its
philosophical presentation or its psychological description; but this
ought not to mean that Zen is not to be intelligently approached or to
be made somewhat accessible by our ordinary means of reasoning."

13 bab dengan 37 kisah

Tentang soal ini, Indra Gunawan, penulis buku ini, dengan berani terus
terang memaparkan alasannya dalam "Awal Kata". Ia mengaku tidak
bermaksud membicarakan Zen, tetapi cuma memakai "kisah-kisah Zen"
untuk "mengangkat hikmat orang ke tingkat yang lebih tinggi", ke
pencerahan. Yang mendorongnya adalah keyakinan betapa baiknya
mengelola sumber daya manusia lewat cerita, seperti yang dibacanya
dalam karya David Armstrong, Managing By Storying Around (1992).

Akan tetapi, mengapa "kisah-kisah Zen", bukannya cerita pewayangan,
kisah Sufi, atau mitologi Yunani, misalnya? Ia menjawab karena alasan
pribadi. Dibanding dengan kisah-kisah lain itu, ia merasa sedikit
banyak lebih siap bekerja dengan kisah-kisah Zen karena memiliki cukup
buku sumber. Tambahan lagi, selain mengandung kebijaksanaan seperti
kisah-kisah lain itu, kisah-kisah Zen dianggapnya sarat dengan
"enigma, teka-teki, dan multitafsir". Tidak heran, katanya seperti
diselipkannya pada akhir Bab 1, mengapa dia lebih tertarik dan memilih
pencerahan dalam pengertian Zen daripada pencerahan lewat rasio ala
Barat (Aufklärung). Ia menganggap Aufklärung telah membawa malapetaka
sebagaimana pernah terjadi ketika Jerman yang sangat rasional
mendukung kekejian kaum Nazi. Sementara itu, ia merasa, "kebanyakan
buku mengenai kisah-kisah Zen... sedikit atau miskin tafsir". Ia
berharap berkat tafsirannya "yang tidak baku [...] malah mungkin akan
muncul pandangan-pandangan alternatif."

Yang disebut kisah dalam buku ini banyak miripnya dengan koan. Konon
hanya tersedia 18 koan, bahkan pada awal masa kejayaan Zen selama
empat abad di Jepang (1200-1600), ketika kaum awam, khususnya prajurit
samurai, ramai-ramai berguru ke biara Buddhis. Makanya, Biara Jufukuji
di Kamakura pada 1215 dijuluki "Biara 18 Koan". Ketika pamor Zen
menurun selama kekuasaan Tokugawa yang menjamin perdamaian hampir
selama tiga abad sejak awal 1600-an, jumlah dan mutu kerohanian
peminat pun ikut merosot. Jumlah koan pun hanya satu dan terdiri dari
satu kata saja, "Katzu!"

Nah, buku kita ini, Kisah-Kisah Kebijaksanaan Zen: Melalui Cerita
Mencapai Pencerahan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005) menyajikan
37 kisah, tersebar di 13 bab. Tebal seluruhnya 223 halaman, termasuk
xiv halaman pendahuluan oleh Budhy Munawar-Rachman, dosen sejarah
agama-agama di Universitas Paramadina, serta enam halaman indeks,
daftar kepustakaan, dan riwayat penulis buku.

Ke-13 bab masing-masing didahului dengan satu sampai lima kisah (tapi
Bab 3 dengan lima kidung, bukan kisah), disusul dengan tafsiran dan
komentar. Semuanya sangat enak dibaca, tidak hanya karena ditulis
dengan bahasa yang terjaga, tapi juga karena sarat dengan tafsiran
"tak baku" seperti dijanjikan, dilengkapi lagi dengan perbandingan
pemikiran yang diambil dari banyak buku lain. Daftar kepustakaannya
hanya memuat 19 buku yang eksplisit membicarakan Buddhisme Zen, tapi
mungkin dua kali sebanyak itu yang disinggung dalam teks.

Sekadar mendapatkan kesan umum tentang daya tarik buku ini, simak saja
judul-judul ke-13 bab: 1. Makna Pencerahan; 2. Satu Lingkaran Penuh;
3. Momen Ini Menakjubkan; 4. Berkah Tersembunyi; 5. Mengolah
Ketenangan; 6. Karya Unggul; 7. Konsentrasi Tanpa Ketegangan; 8.
Khayalan, Motivasi, dan Strategi; 9 Mengalir Bagaikan Air; 10 Dengki,
Fitnah, dan Sebagainya; 11. Melampaui Konvensi, Melewati Kata; 12.
Jalan Lain ke Roma; 13 Menjinakkan Sapi Liar.

Salah satu kisah yang mungkin lebih kena di hati kebanyakan pembaca
adalah kisah 3 dalam Bab 2 daripada kisah 1 Bab 13, misalnya. Seorang
murid menghadap suhunya dengan menggenggam seekor burung di balik
punggungnya. Ia lalu bertanya kepada suhunya apakah burung di
genggamannya hidup atau mati. Jika suhunya bilang mati, maka si murid
akan melepaskannya terbang. Jika bilang hidup, si murid akan meremas
leher burung itu sampai mati.

Menurut pemikiran si murid (yang disebut setengah lingkaran saja),
suhunya pasti salah. Ternyata kata suhu: "Jawabannya ada di tanganmu."
Si murid gelagapan mendengar jawaban itu (yang disebut selingkaran
penuh), tentu karena tidak menduganya. Penulis bilang, begitulah
biasanya orang berpikir setengah lingkaran saja: logis atau tidak,
baik atau buruk, hidup atau mati, hitam atau putih. Tapi yang sudah
sampai pada pencerahan akan berpikir selingkaran penuh, di mana segala
hal punya kaitan.

Pencerahan dan sains mutakhir

Konon, tidak jarang pelaku Zen harus bergulat puluhan tahun dengan
segala derita dan kekalutan batin untuk memecahkan satu koan. Makanya,
pengalaman rohani mereka tak terperikan. Sebaliknya, Indra Gunawan
menawarkan pencerahan dengan membaca 37 kisah Zen, itu pun tak perlu
kalut, seperti terasa dari judul-judul bab. Bukan berarti penulis ini
menawarkan yang gampang dan seenaknya saja. Dengan tegas ia
memperingatkan pembaca agar jangan termakan iklan yang menawarkan
pencerahan kilat, misalnya tiga hari dengan biaya Rp 300.000,
sebagaimana ia memperingatkan bahaya teladan ekstrem, seperti membakar
segala buku bacaan mengenai pencerahan, seperti yang terkadang dapat
dibaca mengenai pelaku Zen.

Semua ini dapat dimengerti karena Indra Gunawan bukan seorang Buddhis
sebagaimana disebutkannya. Sebenarnya ia boleh dianggap pelaku Zen
(dari dhyana, artinya duduk bersemadi) karena ia suka duduk bersemadi
sebagaimana tidak disebutkannya. Makanya, ia bilang tahu bagaimana
membuat Zen tidak menakutkan bagi peminat, dengan menjadikannya user
friendly. Dalam hal ini ia tak sendirian. Dikutipnya beberapa tokoh
yang serupa, seperti Aldous Huxley, JK Kadowsky SJ, Robert E Kennedy,
dan Thich Nhat Hanh.

Yang tidak bisa dimengerti adalah pelitnya dia dalam hal tidak sampai
menyentuh capaian sains mutakhir dan kaitannya dengan pencerahan lewat
Zen. Sebagai pembaca buku yang jarang ada duanya, dia tentu tahu bahwa
perkembangan sains (dan matematika juga) akhir-akhir ini, jadi lewat
rasio, justru semakin bersentuhan dengan intuisi Buddhisme. Hal itu
diakui oleh tokoh sains yang tidak kurang terkemukanya, seperti Niels
Bohr (1885-1962), pemenang Nobel Fisika pada 1922. Sesungguhnya, sejak
1920-an, akibat krisis sains (quantum) dan matematika (teorema
incompleteness), terlebih 30 tahun terakhir ini, sains telah
menghasilkan prinsip ketakpastian, QED, fraktal, chaos, dan
kompleksitas, yang merupakan pencerahan lewat pergulatan rasio dan
rohani. Pencerahan Zen dan pencerahan rasio ternyata makin berjalan
seiring sehingga Indra Gunawan tidak perlu memilih di antara keduanya.

Selain itu, banyak di antara buku yang disebut oleh Indra Gunawan
dalam teks maupun dalam daftar kepustakaan sangat dekat dengan dunia
sains. Geser sedikit saja lagi sudah sampai ke sains. Sekali lagi,
sebagai pembaca buku yang jarang ada duanya, Indra Gunawan pasti sudah
baca Fritjof Capra, The Tao of Physics (1975), bahkan mungkin Stephen
Wolfram, A New Kind of Science (2002). Terlebih lagi tidak percuma ia
menyandang nama Indra Gunawan, Dewa Hujan Serbaguna. Ia pastilah
pemberani!

Parakitri T Simbolon, Direktur Eksekutif KPG





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke