obat Suka Hardjana
Di kampung saya dulu orang sering mempertumpangtindihkan kata taubat dan tobat. Karena bukan ahli bahasa, saya tak tahu mana yang lebih tepat dan benar untuk situasi tertentutobat atau taubat. Bahkan saya juga tidak tahu apakah kedua kata itu sesungguhnya sama belaka artinya, seperti elu dan engkau, atau gue dan aku. Tapi di kampung saya dulu orang bilang bahwa aksi taubat bisa, bahkan harus, dilakukan bila seseorang mengaku bersalah, kalah, pasrah, jera, kapok seribu langkah atas perilaku tabiat dan tindakan buruk yang bikin susah banyak orang, negara, bangsa, Gusti Allah, dan sebagainya. Bertaubatlah, kata orang bijak. Jadi, taubat atau bertaubat itu dilakukan karena kesadaran bersalah dan kapok atas perilaku buruk, cemar, dan onar yang bikin celaka banyak orang. Taubat dilakukan seseorang kepada seseorang atau sesuatu yang dalam strata hierarkinya dianggap lebih tinggi. Seorang anak bertaubat kepada orangtua, misalnya. Sekelompok orang bertaubat kepada penguasa atau raja. Raja atau penguasa bertaubat kepada Sang Penguasa yang lebih berkuasa lagi, atau manusia bertaubat kepada Tuhan. Lantas, bagaimana dengan makna tobat? Di kampung saya dulu, tobat itu artinya pusing tujuh keliling atas suatu masalah yang tak kunjung teratasi. Orang zaman sekarang bilang, frustrasi karena memikirkan sesuatu. "Bat, tobat," kata sang kakek kepada Pangeran Mangkubumi yang suka mbalelo dan susah diatur. Jadi, tobat hanyalah keluh kesah dan keluh keputusasaan seseorang secara pribadi menghadapi suatu masalah yang sulit diatasi. Bisa dibayangkan, bagaimana para pemimpin negeri ini sering mengeluh 'bat-tobat' kepada istri-istri mereka karena merasa tak kunjung bisa memecahkan masalah negararakyatnya terus rewel, bawel, dan susah diatur. Sebaliknya, rakyat kebanyakan juga tobat terhadap para pemimpin mereka yang terus saja tidak jujur, kebijakan-kebijakannya tak terukur, kluyar-kluyur ngalor-ngidul main gusur, tak bisa bikin solusi manjur yang memungkinkan hidup rakyat jadi makmur. Pendek kata, karena tobat terimpit lingkaran setan berbagai masalah, semua orang lantas jadi ngawur. Pemimpin ngawur, rakyat ngawur, bapak ngawur, anak ngawur, istri ngawur, kakek-nenek, cucu-kethek semua ngawur. Anda ngawur, saya ngawur, semuanya ngawur, wis . Lha menaikkan harga BBM (bikin bangkrut masyarakat) berlipat ganda di luar ukuran ngilmu dagang itu apa tidak ngawur? Sehari sebelum pengumuman kenaikan harga BBM, ponakan saya pergi ke Yogya habis bensin Rp 189.000. Dua hari sesudah pengumuman, ia balik ke Jakarta habis uang bensin Rp 565.000. Dan 'survei membuktikan', kenaikan harga BBM yang tidak lumrah ngawurnya itu tidak hanya bikin banyak orang kolaps, tapi juga kalap. Seorang ibu nekat membakar kedua anak kandungnya karena frustrasi ekonomi. Kalau bahan bakar bensin dicampur minyak tanah itu campuran kuno. Yang terkini adalah bahan bakar aftur pesawat dicampur air demi mengutil untung di udara. Rel dan rambu-rambu kereta api dipreteli agar malingnya bisa beli minyak dan beras. Rakyat miskin dibagi-bagi 'ritzki' negara tiga ratusan ribu perak sesekali sebagai penopang rasa laparagar para wakil rakyat mereka dapat kenaikan gaji dan jatah tunjangan 10 juta Repees per bulan plus dana piknik studi banding ke negara antah-berantah. Ada juga dana taktis tetap bermiliar-miliar bagi the tip of the top para pengelola negara agar 'ke depan' mereka bisa lebih bisa ber-'huo-ho-ho-ha-ha-hi-hi' (cara ketawa khas ksatria Kurawa, Dhursosono) dalam mengendalikan bangsa dan negara. Tak kalah ngawur adalah para pengusaha formalin, pedagang bakso, tahu, mi basah, ikan asin, dan entah makanan dan minuman dengan bahan pengawet apa lagi. Zat kimia formalin itu sengaja dimasukkan ke seantero tubuh dan darah para konsumen demi keuntungan yang 'lebih efisien' dan tahan lama. Mungkin orang-orang ngawur itu tau (bukan tahu) bahwa dengan formalin tubuh manusia bisa diabadikan. Dalam sebuah pameran museum di New York, saya pernah melihat jasad seorang Fir'aun yang umurnya telah ribuan tahun karena diawetkan dengan bahan-bahan pengawet sejenis formalin. Semua orang tau bahwa jasad Ferdinand Marcos dan Joseff Stalin juga diawetkan dengan formalin. Mungkin ke sanalah para pencari laba usaha formalin dan para pedagang makanan berformalin itu berpikir. Hidup pendek tak apa asal jasad bisa awet. Kembali soal taubat dan tobat dalam pemahaman dialek di kampung saya dulu. Saya tak sungguh-sungguh mengerti ajakan Pak Ketua MPR-RI: bertaubat atau tobat saja? Kalau tobat, saya kira kita semua memang sudah tobat pusing kepala dirundung derita yang tak kunjung rampung. Kalau taubat? Lha apa bisa? Bukankah bangsa ini sudah sejak dahulu kala belum pernah belajar bertaubat dan mungkin juga tak akan pernah bertaubat? (Mungkin justru Tuhanlah yang tobat memikirkan manusia Indonesia yang tidak pernah taubat?) Tapi melihat semakin santernya eskalasi perusakan lingkungan yang menimbulkan banyak bencana, kepura-puraan politik dan ketidakjujuran sikap manusia Indonesia yang menyukai kekerasan, ketidakadilan, dan ketidakpedulian terhadap rasa hormat bagi sesamaajakan Pak Ketua MPR-RI untuk melakukan taubat nasional, apa pun ituperlu mendapat dukungan. Siapa tahu bisa membantu mengurangi ketidaktahuan orang tentang rasa hormat terhadap kehidupan. Bat-tobat, taubat saja kok susah! http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
