Utang Jadi Sarana Kreditor untuk Tekan Negara Lemah Indonesia Telah Menjadi Contoh Bagi Negara Lain
BANDUNG, (PR).- Utang menjadi sarana bagi negara berekonomi kuat untuk menekan negara yang berekonomi lemah. Sebab dengan pemberian utang, negara ekonomi lemah akan terus bergantung pada negara kreditornya. Padahal, utang itu diberikan agar negara ekonomi kuat memperoleh akses dalam pengelolaan sumber daya alam dan potensi yang dimiliki negara pengutang. JENDERAL TNI Ryamizard Ryacudu berbicara di depan peserta seminar dengan makalahnya "Perspektif Perang Modern Dalam Pembangunan Ekonomi Berbasis Pengetahuan" di Hotel Grand Aquila Bandung, Sabtu (14/1). Hadir sebagai pembicara kunci pada acara seminar nasional tersebut, ekonom Kwik Kian Gie. *ANDRI GURNITA/"PR" Hal itu ditegaskan mantan kepala Bappenas, Kwik Kian Gie pada seminar tentang pembangunan perekonomian di Hotel Grand Aquila, Jl. Dr. Djundjunan, Bandung, Sabtu (14/1) lalu. Karenanya, sampai sekarang ia menganggap Indonesia harus melepaskan diri dari utang luar negeri. Menurut Kwik, keputusan yang mengarah pada upaya-upaya untuk mengurangi utang Indonesia harus didukung. Ia pun kecewa dengan keputusan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang akan mencairkan utang baru. "Utang luar negeri adalah strategi," katanya. Kwik memperkuat argumennya dengan mengacu pada buku John Perkins -- Confession of an Economic Hitman. Pada buku tersebut dikatakan, Indonesia telah menjadi contoh bagi negara sekitarnya tentang bagaimana negara ekonomi lemah bisa ditaklukkan dengan pemberian utang sehingga negara yang lemah ekonomi tersebut bisa melayani keinginan negara kreditor. Semangat nasionalisme Ditambahkannya, kebijakan perekonomian yang sekarang dijalankan telah menghilangkan semangat nasionalisme. Saat ini, perusahaan negara yang mengelola public goods atau kebutuhan dasar masyarakat telah diperbolehkan untuk dikuasai perusahaan asing. "Dalam infrastructure summit, disebutkan semua orang asing boleh menguasai public goods dan mereka tidak boleh diperlakukan berbeda dengan pengusaha Indonesia," ujarnya. Ia mengatakan, sebenarnya ada beberapa kebutuhan rakyat yang harus tetap dikelola atas kerja sama pemerintah dan pengusaha dalam negeri. Misalnya pelabuhan, produksi dan transmisi listrik, telekomunikasi, pelayaran, penerbangan, dan kereta api. Pada seminar itu, pendapat senada diutarakan Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Revrisond Baswir. Ia mengatakan, hambatan terciptanya ekonomi kerakyatan adalah utang luar negeri. (A-160)*** http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
