Warga Terpaksa Makan Ganyong

SUKABUMI, (PR).-
Sebanyak 102 jiwa atau sekira 32 kepala keluarga (KK) warga Kampung
Ciamarayah, Ciujung, dan Seuseupan, Desa Walangsari Kec. Kalapanunggal
Kab. Sukabumi, menderita rawan pangan. Ke-102 warga yang berada di
kaki Gunung Halimun itu, hanya mampu makan nasi atau bubur sekali
dalam sehari, selebihnya perut mereka diganjal dengan singkong,
ganyong (sejenis talas), talas, atau pisang yang direbus. Sejauh ini
tidak tercatat adanya warga yang jatuh sakit atau meninggal akibat
musibah rawan pangan tersebut.
BUPATI Sukabumi, H. Sukmawijaya (kiri), berbincang dengan warga yang
mengalami rawan pangan di Desa Kabandungan Kec. Kabandungan Kab.
Sukabumi, Sabtu (21/1). Karena tak mampu membeli beras, mereka
menggantikannya dengan umbi-umbian.*DANY SW/"PR"

Kondisi serupa ternyata ditemukan juga di Kampung Cimanggutengah,
Desa/Kec. Kabandungan. Di desa ini, tercatat ada 104 jiwa yang
menderita rawan pangan, sebagian besar adalah jompo yang pada umumnya
berusia di atas 60, tetapi masih bekerja sebagai pemetik teh di
Perkebunan Jayanegara Indah dengan pendapatan rata-rata Rp
1.250,00/hari. Sebagian dari para jompo ini bertempat tinggal di gubuk
perkebunan.

Keterangan yang diperoleh "PR" Jumat (20/1) dan Sabtu (21/1)
sebenarnya kondisi memprihatinkan ini sudah berlangsung lama. Namun,
dalam sepekan terakhir ini kondisinya semakin memprihatinkan.
Masalahnya, bantuan dari para tetangga yang terbilang mampu sudah
terhenti. "Bantuan tunai langsung yang diterima sebesar Rp 300.000,00
menjelang Lebaran, sudah habis untuk membeli berbagai keperluan,
termasuk beras, " kata Yunus Ali Nurban, Koordinator LSM "Sahabat
Rakyat Miskin Sukabumi".

Sementara, Ny. Erum (65), Ny. Een (50), Saol (40) tiga keluarga
penderita rawan pangan di Kampung Ciamarayah menyebutkan, sejak dua
pekan terakhir, singkong, ubi jalar, atau pisang mentah, menjadi menu
pokok yang dikonsumsi dua kali dalam sehari. Sedangkan nasi atau bubur
nasi (kalau ada), hanya dimakan pada siang hari. "Bagi saya tidak
makan nasi dua hari berturut-turut dianggap sudah biasa. Tapi,
anak-anak harus tetap makan nasi atau bubur," jelas Saol.

Diakui warga, sebagian besar penderita rawan pangan, sebelumnya
bekerja di perkebunan. Namun, baru-baru ini perkebunan tersebut gulung
tikar. Akibatnya, karyawan harian di perusahaan itu berhenti bekerja.

Sedangkan di Cimanggutengah, sebagaimana diakui oleh Kades
Kabandungan, Tata Saklan, penderitaan ke-14 warganya ini sebenarnya
sudah berlangsung lama. Namun, mereka tetap bertahan karena pada
saat-saat tertentu mendapat bantuan dari pembelian beras miskin atau
bantuan lainnya.

"Di kompleks perkebunan ini ada 37 jompo yang masih bekerja sebagai
pemetik teh. Setiap hari para jompo ini hanya mampu mengumpulkan
rata-rata 6 kg pucuk teh dengan upah Rp 165,00/kg. Jadi, penghasilan
mereka kurang dari Rp 1.000,00/hari. Sangat pantas jika para jompo dan
warga lainnya menderita rawan pangan. Masalahnya, harga beras di sini
Rp 3.700,00/liter. Sementara, penghasilan mereka hanya satu per tiga
liter setiap harinya," tutur Iwan, Kepala Dusun II Desa Kabandungan.

Ditinjau bupati

Pada Sabtu (21/1), Bupati Sukabumi H. Sukmawijaya, dan Wakil Bupati H.
Marwan Hamami, didampingi Kepala Kantor Penanggulangan Masalah Sosial
(KPMS). H. Nana Supriatna, Camat Kalapanunggal Hamami, yang baru
beberapa jam kembali dari Pulau Bali, melakukan kunjungan langsung ke
rumah-rumah penderita rawan pangan.

Pada kesempatan tersebut, bupati berjanji akan menjamin kebutuhan
hidup seluruh warga yang mengalami rawan pangan itu minimal satu bulan
ke depan. Langkah selanjutnya, Pemkab Sukabumi akan membuat program
padat karya di Desa Kalapanunggal dengan memprioritaskan ke-37 KK
sebagai pekerja dalam program tersebut. Program padat karya ini
berbentuk pengerasan jalan masuk ke beberapa kampung, yang saat ini
hanya dilapisi tanah merah. Untuk program jangka menengah, bupati dan
wakil bupati akan menganggarkan pemberian bantuan ternak domba
sebanyak enam ekor untuk setiap kepala keluarga, ditambah uang
pembuatan kandang, serta berbagai benih palawija.

Mengenai alokasi dana untuk program bantuan darurat ini, diambil dari
"Dompet Duafa" Kab. Sukabumi. "Kalau tidak salah, masih ada sekira Rp
1 miliar.

Namun, tentu harus melalui rapat terlebih dahulu dengan pengurus.
Kalau tidak pun kita masih punya dana cadangan untuk bencana alam.
Jadi, bisa dari berbagai sektor," jelas Sukmawijaya.(A-82)***





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke