Skenario Plato, Oedipus, dan Sisyphus
Oleh IMAM CAHYONO

TRANSISI demokrasi tak selamanya mulus. Di negara-negara berkembang,
buaian masa peralihan justru menuai kekecewaan. Periode transisi,
konsolidasi, dan demokratisasi ternyata bisa stagnan.

Lise Garon dalam studinya mengungkapkan, transisi demokrasi dapat
terperangkap dalam skenario persekutuan mematikan (fatal alliance)
yang tidak hanya menyebabkan rumitnya jalan transisi, tapi juga dapat
menggagalkan konsolidasi demokrasi.

Tiga skenario evolusi politik pada penghujung abad 20 di negeri
maghribi yakni Tunisia, Aljazair, dan Maroko memiliki persamaan,
terjadinya persekongkolan antara aktor sipil, pemerintah (state) dan
militer untuk melanggengkan pengaruh kekuasaan.

Pemerintahan dikontrol rezim tiran Bourghiba di Tunisia, Raja Hassan
di Maroko dan Aljazair oleh partai tunggal FLN (Front de Liberation
Nationale). Demokrasi dijadikan legitimasi sekaligus topeng penguasa
otoriter. Masa peralihan membuka peluang besar terjadinya
persekongkolan sipil-militer dalam tubuh pemerintahan. Kepemimpinan
sipil yang lemah memanfaatkan militer untuk memperkuat dukungan. Apa
yang terjadi di Tunisia serupa dengan kisah Plato, Maroko mirip dengan
filosofi Sisyphus dan Aljazair senada dengan legenda Oedipus.

Kendati tidak sama persis, tiga skenario itu ternyata pas dan cocok
untuk memotret perkembangan transisi demokrasi di Indonesia. Skenario
politik pertama terjadi seperti yang dilukiskan oleh Plato. Bapak
filsafat Barat dan Arab itu membandingkan forum publik dengan dinding
sebuah goa yang gelap (Plato's cave) sebagai proyeksi atas realitas.

Pertunjukan yang dipentaskan aktor-aktor politik tidak memiliki tujuan
berarti melainkan hanya bayang-bayang kenyataan belaka. Secara
intensif berbagai akrobat politik dipertontonkan, tapi secara
substansi menyangkal dan mengingkari realitas. Skenario semacam ini
terus digelar dan dipentaskan dalam panggung publik negeri ini.

Secara prosedural, demokrasi yang digelar telah mencapai prestasi
memuaskan. Namun secara substantif, demokrasi kita masih sebatas
slogan. Pemilu untuk memilih pemimpin secara langsung telah berjalan
sukses dan lancar, namun para pemimpin yang terpilih masih jauh dari
harapan.

Atas nama rakyat, pemerintah maupun wakil rakyat membuat berbagai
kebijakan yang tidak peka dan justru menyakiti hati rakyat. Mereka
mengklaim mewakili aspirasi rakyat, tapi sejatinya lebih
memperjuangkan kepentingan pribadi. Dalam persidangan, wakil rakyat
justru tidur, sibuk berebut jabatan dan lahan basah, serta
berlomba-lomba menaikkan tunjangan. Sementara rakyat terus menderita,
dibiarkan sengsara. Ini sesungguhnya merupakan pembohongan terhadap
publik. DPR tidak lagi menjalankan peran check and balance terhadap
pemerintah, tapi membuat kompromi politik yang saling menguntungkan
posisi masing-masing.

Skenario kedua pararel dengan legenda Yunani, Oedipus yang secara
brilian disusun kembali oleh Bapak Psikoanalisis, Sigmund Freud.
Oedipus adalah representasi mitos seseorang yang berhasrat untuk
membebaskan diri dari ikatan pertalian masa kanak-kanak dengan
berusaha keluar, mengusir, dan meruntuhkan posisi dominan ayahnya.
Setelah berhasil, dia justru meminta perlindungan sang Ibu, Jacosta.

Sejak runtuhnya belenggu otoritarianisme Soeharto, pengaruh militer
terus-menerus terkikis. Peran politiknya dibatasi. Ini tentu prestasi
menggembirakan, berbeda dengan masa transisi demokrasi di
negara-negara Amerika Latin yang umumnya masih didominasi dan
dikontrol militer.

Lantaran trauma terhadap militer, pemimpin berbaju sipil menjadi
harapan alternatif. Celakanya, elite sipil yang berperan dominan dalam
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disetir dan didominasi
kalangan pengusaha. Kepemimpinan SBY yang lemah, mau tidak mau harus
berkompromi dengan para pengusaha. Tanpa segan, rakyat pun dikorbankan
demi kepentingan mereka. Tak pelak, Indonesia memasuki babak baru,
dalam cengkeraman kaum pedagang.

Idealnya, pengusaha merupakan kelas menengah bagian dari civil
society. Seperti di Thailand, kelas menengah semestinya otonom
sehingga mampu melakukan bargaining power terhadap pemerintah.
Parahnya, di Indonesia para pengusaha (yang juga pejabat) seperti
memiliki privilege, dwifungsi kepemimpinan ganda sebagai pemerintah
sekaligus pengusaha. Padahal, bisnis adalah urusan privat sementara
pemerintah mestinya mengurusi publik. Sulit dibayangkan bagaimana
seseorang memerintah yang berarti mengabdi untuk rakyat sembari
berbisnis untuk mengeruk untung. Dan lagi-lagi, rakyat yang harus siap
dijadikan tumbal?

Skenario ketiga adalah legenda Sisyphus, pahlawan dari Yunani yang
dihukum untuk memindahkan batu yang berat ke puncak sebuah bukit
dengan cara menggelindingkannya. Sisyphus selalu berhenti untuk
istirahat tiap setengah perjalanan. Dari sini, batu itu jatuh lagi ke
bawah sehingga ia harus mulai bekerja lagi, menggelindingkannya lagi
dari awal.

Bangsa ini menghadapi ujian dan kesengsaraan akibat cengkeraman
militer dan rezim otoriter. Indonesia harus berjuang sekuat tenaga
untuk mengakhiri belenggu otoritarianisme tanpa mencegah batu
kebebasan jatuh kembali ke dalam jurang. Lepas dari sangkar besi
militer, bangsa ini masuk dalam genggaman pengusaha. Sejujurnya, kita
kembali ke titik nol.

Tiga skenario ini -hemat penulis- sejatinya merupakan skenario buruk
yang sedang kita hadapi dan kita jalani. Sementara, skenario baru yang
lebih menjanjikan belum juga muncul. Tidak hanya militer yang harus
diwaspadai, mengontrol kepemimpinan sipil juga tak kalah penting.
Dalam banyak kasus, para pemimpin berbaju sipil pun dapat menghadirkan
tirani, otoritarianisme, dan fasisme yang menindas.

Maka, pilar-pilar civil society harus ditegakkan. Cita-cita menuju
masyarakat madani yang mandiri dan otonom harus terus ditumbuhkan.
Aktor-aktor di luar negara seperti kaum intelektual, akademisi, ormas,
LSM dan pers harus terus mengawasi dan mengontrol jalannya
pemerintahan. Tanpa itu, transisi menuju demokrasi tak lebih dari
sekadar ilusi, manis dibibir, tapi pahit sekali di hati. Ibarat lepas
dari mulut Singa, masuk ke kandang Buaya. Lolos dari belenggu militer,
kita masuk dalam cengkeraman pengusaha. Ya, sama saja!...

Penulis, Koordinator Riset Al Maun Institute, Jakarta. 





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke