Mereka Ada di Jalan ANAK-anak yang seharusnya masih duduk manis di bangku taman kanak-kanak (TK) maupun sekolah dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) di bawah kasih sayang orang tua, justru tak terurus. Mereka ada di jalan seraya menengadahkan tangan.
Tontonan yang mencabik nurani itu tidak hanya ada di kota-kota besar. Di Cirebon pun kehadiran mereka kian marak seiring naiknya harga BBM dan beras. Fenomena seperti ini tentu saja sama sekali tak ada hubungannya dengan wangsit Waliyullah Sunan Gunung Jati, "Ingsun titip tajug lan fakir miskin (saya titip musala/masjid dan fakir miskin). Meskipun demikian, mungkin ada saja oknum yang menyalahgunakan wangsit tersebut sebagai justifikasi untuk mengemis di jalanan. Memang suatu hal yang tidak mungkin jika anak-anak dari keluarga yang strata ekonominya cukup, meminta-minta di jalanan, entah dengan alasan mengamen atau mereka yang terang-terangan meminta-minta. Kemiskinan mendorong mereka membiarkan anak-anaknya di jalan, sebagai risiko orang yang terpinggirkan secara sosial. Di sini perlunya menjadi orang tua yang bertanggung jawab, karena anak adalah amanah dari Tuhan. Bertanggung jawab dalam segala hal, menghidupi, memelihara, melindungi, dan menyayangi mereka, termasuk memberikan pendidikan yang layak. Namun eksploitasi terhadap anak, entah sampai kapan bisa dimusnahkan dari negeri ini. Persoalannya meskipun sudah ada perundang-undangan yang jelas, perlakuan semena-mena terhadap anak tersebut hingga kini belum juga berhenti. Eksploitasi bahkan kekerasan terhadap mereka masih terus ada, dan kita tetap menjadi penonton yang manis. Setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, masihkah kita menganggap wajar eksploitasi dan kekerasan terhadap anak dan bisa tidur nyenyak? Tak bisa dimungkiri, di berbagai kota besar, kecil, dan sedang seperti Kota Cirebon banyak peminta-minta yang mengeksploitasi anak, bahkan di antaranya ada yang tega menggendong bayi yang usianya antara satu bulan hingga satu tahunan. Kita memang susah untuk memisahkan eksploitasi anak, kalau alasannya rasional akibat keadaan negeri yang terkesan kurang peduli terhadap kaum marginal. Akan tetapi apapun dalihnya, harus ada ikhtiar untuk menghentikan bentuk eksploitasi dan kekerasan terhadap anak. Kemiskinan tidak bisa dijadikan alasan untuk mengeksploitasi anak-anak mereka untuk menjadi peminta-minta cilik di jalan. Negara kita juga miskin kok, para pejabat maupun konglomerat pun masih merasa melarat. Buktinya, masih banyak yang suka makan uang rakyat, dan konglomerat bersaing tak sehat, lalu uang negara pun diembat. (Akim/"PR")*** http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
