Sentimen Positif Saja Belum Cukup

A Tony Prasetiantono

Semula saya mengira perekonomian Indonesia 2006 bakal dapat dilalui
dengan lebih baik, dibanding 2005. Di awal 2006, beberapa indikator
ekonomi telah mendemonstrasikan adanya sinyal optimisme itu.

Di pasar uang, rupiah menunjukkan gejala penguatan secara signifikan,
ke level Rp 9.350-an per dollar AS. Sedangkan di pasar modal, indeks
harga saham gabungan (IHSG) mengalami rally secara amat meyakinkan ke
posisi 1.250, yang merupakan level tertinggi dalam sejarah.

Ditambah deflasi (inflasi negatif) Desember 2005—meski cuma -0,04
persen—maka hampir lengkaplah sinyal optimisme menghadapi tahun 2006.
Saya berpikir, sentimen positif yang ditiupkan reshuffle kabinet
ekonomi mulai menebar harapan, bahkan menuai hasil.

Tekanan eksternal

Akan tetapi, sentimen positif yang ditunjukkan sejumlah indikator itu
sebenarnya belum merupakan potret utuh dari peta perekonomian kita.
Tahun 2006 tidaklah landai, tantangan ke depan tetap berat, setidaknya
karena dua hal.

Pertama, adanya masalah bawaan (carry over) yang ditimbulkan oleh
kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) domestik pada 1
Oktober 2005.

Kedua, adanya tekanan berat faktor eksternal, terutama kenaikan harga
minyak internasional yang masih berlanjut. Pada bulan Desember 2005,
harga minyak sempat turun ke level 55 dollar AS per barrel, namun pada
Januari 2006 harga bergerak lagi ke arah 70 dollar per barrel.

Dari tiga indikator moneter yang harus dijinakkan—yakni kurs rupiah,
inflasi, dan suku bunga—masing-masing mempunyai problematik dan
dinamika. Kurs rupiah bisa menguat karena derasnya modal jangka pendek
(short term capital) ke pasar uang dan pasar modal, terutama
disebabkan meningkatnya faktor kepercayaan (confidence) terhadap
pemerintah dan lingkungan bisnis.

Dukungan kepercayaan ini seolah menemukan momentum ketika perbedaan
suku bunga (interest rate differential) antara di dalam dan di luar
negeri amat signifikan. Suku bunga domestik yang diwakili BI Rate
mencapai 12,75 persen, sedangkan suku bunga di luar negeri, yang bisa
diwakili suku bunga Fed (Bank Sentral AS), bertahan di level empat persen.

Adapun di pasar modal, IHSG di Bursa Efek Jakarta (BEJ) bisa menembus
level di atas 1.200, antara lain karena imbas sentimen positif
bursa-bursa efek di seluruh dunia. Di New York, indeks harga saham
bisa menembus 11.000, sebuah batas psikologis yang sebelumnya hanya
bisa dicapai saat perekonomian Amerika mengalami booming di era
Presiden Clinton, pada dasawarsa 1990-an.

Rupiah juga menikmati tren menguat, antara lain disebabkan sentimen
positif mata uang regional (Asia Timur dan Tenggara), yang rata-rata
menguat terhadap dollar AS. Di sisi lain, Amerika sendiri tampaknya
tengah menikmati tren ini, dengan menahan suku bunga agar tidak naik,
agar bisa memberi insentif kepada kinerja ekspor dan bursa efek.

Namun, sampai kapan tren positif ini akan berlanjut? Jika harga minyak
internasional terus melonjak-lonjak secara liar seperti sekarang,
posisi keseimbangan ekonomi akan segera terkoreksi. Ingat, sejarah
perekonomian dunia mencatat, krisis minyak (permintaan melampaui
pasokan) terbukti sanggup memicu beberapa resesi dunia, di tahun
1970-an (1974 dan 1979) serta 1984 (krisis Amerika Latin).

Padahal, kini sulit sekali membayangkan konsumsi energi bisa dipangkas
seiring ekspansi ekonomi di berbagai penjuru dunia. Ujung-ujungnya,
harga minyak akan tetap tinggi secara permanen (lihat misalnya, Willie
Chien, et al, Business Growth Strategies for Asia Pacific, John Wiley
& Sons, Singapura, 2005). Semoga ramalan ini salah, namun realitas
terkini tampaknya mendukung kerisauan ini.

Efek spiral inflasi

Menebak arah inflasi tahun 2006 ternyata tidak gampang. Di satu pihak,
kita punya beberapa modal untuk menahan gejolak inflasi. Modal itu
bisa berupa rupiah yang kuat dan stabil di sekitar Rp 9.500 per dollar
AS, yang setidaknya bisa mengurangi tekanan imported inflation
(inflasi yang disebabkan oleh kian mahalnya harga barang-barang
impor). Imbasnya, hal ini dapat memberi keleluasaan otoritas moneter
untuk tidak menaikkan suku bunga (BI Rate tetap 12,75 persen) sehingga
tidak menjadi momok mematikan bagi sektor riil (menghambat investasi)
dan sektor perbankan (meningkatnya kredit macet).

Modal lain adalah fakta mulai dapat dicapainya deflasi pada Desember
2005. Sebenarnya, jika kenaikan tarif dasar listrik (TDL) bisa ditekan
serendah mungkin, kita masih boleh berharap menyaksikan deflasi
lanjutan di tahun 2006. Meski dengan catatan, deflasi itu bisa terjadi
karena terlampau lemahnya daya beli (purchasing power) masyarakat
sesudah didera inflasi tinggi 17,11 persen di sepanjang tahun 2005.
Jadi, inflasi rendah tidak selamanya bisa diinterpretasikan sebagai
hal yang baik, sepanjang hal itu hanya sekadar pencerminan
ketidakberdayaan sisi permintaan.

Semula memang ada sinyal bahwa inflasi akan mengikuti pola one shot
inflation, yakni inflasi terjadi dalam "sekali tembak". Inflasi
Oktober 2005 tinggi (8,7 persen), lalu melemah menjadi 1,3 persen
(November) dan deflasi -0,04 persen (Desember). Namun, jika TDL
dinaikkan dalam persentase yang signifikan, mengikuti proporsional
kenaikan harga BBM yang rata-rata lebih dari 100 persen, obsesi one
shot inflation tinggal kenangan dan berganti menjadi efek spiral
(spiral effect).

Ada kemungkinan pemerintah tetap memilih stabilitas ekonomi di atas
prioritas lain. Jika ini dilakukan, pemerintah harus menganggarkan
lebih banyak subsidi untuk PLN agar TDL tidak melonjak drastis.
Konsekuensinya, pemerintah tidak mempunyai ruang gerak guna mendorong
perekonomian dari sisi APBN. Biarkan tugas ini dibebankan kepada
swasta, termasuk dalam pendanaan infrastruktur.

Hal ini hanya bisa dilakukan jika liberalisasi investasi bisa didorong
secara agresif sembari pemerintah terus konsisten menuntaskan perang
besarnya melawan korupsi, sebagaimana dilakukan Pemerintah China
sesudah terjebak kesulitan perekonomiannya, pascatragedi Tiananmen 1989.

Liberalisasi investasi, mengejar ketertinggalan infrastruktur, dan
pembasmian korupsi adalah tiga magnet garda terdepan guna menarik
investor, terutama asing. Berbagai survei terhadap investor asing
biasanya selalu mengarah ke situ.

A Tony Prasetiantono
Pengajar FE UGM; Peneliti Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik
(PSE-KP) UGM; Tinggal di Yogyakarta





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke