Neoliberalisme Kertas

Donny Gahral Adian

Kejahatan mengambil pelbagai bentuk. Salah satunya adalah
neoliberalisme. Gagasan ini berikut segenap manifestasi strukturalnya
dituduh bertanggung jawab atas ketidakadilan global. Benarkah?

Saya meragukan. Neoliberalisme hanya teoretisasi di atas kertas.
Ibarat hantu, wujud terukurnya di realitas nyata sukar ditangkap.
Paling banter kita melihat jejak pikirannya dalam beberapa kesepakatan
ekonomi global. Lalu, buat apa kita memukuli setan bernama
neoliberalisme saat musuh sebenarnya bersembunyi di belakang republik ini?

Sebagai gagasan, neoliberalisme sungguh koheren. Filsafat politik yang
mendukung ekonomi monetaris nyaris tak bercelah. Gagasan ini bertolak
dari asumsi manusia sebagai homo oeconomicus. Siapa itu? Homo
oeconomicus hanya melihat kepentingan pribadi dan mengerahkan
rasionalitasnya. Bagaimana dengan moralitas? Altruisme masih
dimungkinkan. Namun itu sekadar buah kehendak baik homo oeconomicus
yang sudah kenyang memuaskan kepentingan diri.

Pasar adalah institusi paling sempurna bagi kebebasan homo
oeconomicus. Pasar adalah institusi sukarela tempat homo oeconomicus
memuaskan preferensinya. Bisa dibilang, itu satu-satunya institusi
paling demokratis bagi kepelbagaian preferensi manusia. Titik
keseimbangan bagi dinamisme preferensi pelaku pasar bertumpu pada
harga. Berdasarkan itu, campur tangan institusi nonpasar bukan saja
irasional, bahkan imoral.

Karena itu, tugas pokok para pengambil kebijakan adalah menjaga agar
pasar bekerja sempurna. Artinya, pengambil kebijakan berfungsi sebagai
regulator tak berpihak bagi kelangsungan mekanisme pasar. Idealisasi
ini menjegal kemungkinan pengambil kebijakan mengganti jubah menjadi
pelaku pasar itu sendiri.

Idealisasi ini bekerja bagi arah sebaliknya. Pelaku pasar yang
berganti jubah menjadi pengambil kebijakan juga harus melepas jubah
pasar. Konflik kepentingan niscaya terjadi jika pelaku pasar dan
pengambil kebijakan menyatu dalam satu tubuh.

Kesepakatan global

Sebuah fantasi pun bermain di benak para teoretikus konspirasi. Untuk
menjaga agar pasar sebagai satu-satunya institusi kebebasan bekerja
sempurna, kesepakatan global harus dihasilkan. Kesepakatan ini
mencegah dinamisme kebebasan pasar global diganjal kebijakan nasional
yang berubah-ubah seiring cuaca politik. Mulailah dihasilkan beberapa
kesepakatan untuk mengubah wajah ekonomi dunia.

Washington Consensus, misalnya, dituduh sebagai salah satu bentuk
kesepakatan neoliberal. Lantas, apakah Washington Consensus merupakan
pengejawantahan filsafat neoliberalisme?

John Williamson, pencetus awal frase "Washington Consensus", menolak
pertautan antara Washington Consensus dan neoliberalisme. Baginya,
Washington Consensus adalah kesepakatan minimum pelbagai institusi
yang berbasis di Washington soal kebijakan ekonomi yang mesti diambil
negara-negara Amerika Latin pada tahun 1989 (Williamson, 2000).

Dari pengertian Williamson mengenai Washington Consensus, jelas
terlihat bagaimana kesepakatan itu terikat kebutuhan geografis dan
historis tertentu. Dengan kata lain, kesepakatan diambil bukan
berdasar proposisi-proposisi universal dalam filsafat neoliberalisme.

Advis kebijakan yang termuat dalam Washington Consensus bisa disarikan
menjadi sepuluh proposisi. Mereka adalah disiplin fiskal, realokasi
pengeluaran publik pada arena yang menjanjikan economic return,
kesehatan dan pendidikan, reformasi pajak, liberalisasi suku bunga,
nilai tukar yang kompetitif, liberalisasi perdagangan, liberalisasi
FDI, privatisasi, deregulasi, dan penjaminan hak milik pribadi.

Dari kesepuluh advis kebijakan itu hanya tiga pertama yang disepakati
sebagian besar ekonom. Tujuh advis lain amat kontroversial sehingga
tingkat konsensusnya rendah.

Liberalisasi finansial

Joseph Stiglitz, misalnya, tahun 1994 mengatakan, liberalisasi suku
bunga hanya satu dimensi dari liberalisasi finansial. Pendapat ini
dikembangkannya tahun 1998. Dikatakan, kesuksesan negara-negara Asia
Timur justru berangkat dari pelanggaran terhadap liberalisasi
finansial. Sebagian besar negara Asia Timur memilih untuk menentukan
alokasi kredit pada industri tertentu ketimbang menyerahkannya pada
mekanisme pasar. Ini menunjukkan betapa Washington Consensus tidak
berlaku global, ia terikat ruang-waktu.

Menurut Williamson, Washington Consensus tidak menyarankan untuk
memukul mundur negara dan membiarkan pasar menyelesaikan segalanya.
Pasar indiferen terhadap persoalan kemiskinan. Sementara, bagi
Williamson, Washington Consensus justru memerhatikan persoalan
kemiskinan. Kurangnya disiplin fiskal yang berujung inflasi bagi
Washington Consensus buruk bagi distribusi pendapatan. Proposisi kedua
Washington Consensus, realokasi pengeluaran publik pada kesehatan dan
pendidikan, difokuskan untuk meningkatkan human capital kelompok
miskin. Sekali lagi, sungguh tergesa-gesa dan sembrono menuduh
Washington Consensus sebagai manifestasi fundamentalisme pasar
neoliberalisme.

Fundamentalisme pasar hanya bersarang di jantung teoretis filsafat
neoliberalisme. Dalam skema kebijakan global, gagasan itu amat sumir.
Kesumiran gagasan neoliberalisme dalam pelbagai kesepakatan global
membuat kita harus berhati-hati menyusun kritik. Kebijakan impor
beras, misalnya. Kita mesti saksama memerhatikannya. Apakah itu
kebijakan yang dilandaskan filsafat neoliberalisme, tekanan IMF, atau
keserakahan koruptif oknum? Ketidakhati-hatian hanya membawa kita pada
pandemi kekeliruan fatal. Alih-alih memecahkan persoalan nyata
reformasi birokrasi, kita sibuk memukuli buku teks filsafat sampai lebam.

Donny Gahral Adian Ketua Jurusan Filsafat Universitas Indonesia





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke