Kultur Demokrasi Belum Terbangun
Pemerintah Harus Berani Ambil Terobosan

Jakarta, Kompas - Maraknya aksi massa buruh atau mahasiswa yang
berakhir dengan bentrokan disebabkan belum terbentuknya kultur
demokrasi. Demokrasi yang semestinya memunculkan sikap dialogis antara
pemerintah dan rakyat belum terjadi.

Sosiolog dari Universitas Airlangga, Hotman M Siahaan, kepada Kompas,
Kamis (2/3), mengemukakan, dialog antara rakyat dan pemerintah saat
ini buntu. Kekeliruan dalam proses pembangunan demokrasi memunculkan
anomali yang kemudian bermuara pada amuk massa itu.

Sepekan terakhir, konflik yang melibatkan massa terjadi di Jawa Timur
antara buruh dan perusahaan PT Maspion. Selain itu, rakyat serta
mahasiswa Papua yang menentang PT Freeport.

Menurut Hotman, diskursus demokrasi tidak muncul, padahal semestinya
demokrasi menciptakan konsensus untuk berdialog antara pemerintah dan
rakyat. "Namun, sayang wacana itu justru tidak muncul," ujar Hotman.

Pemerintah, menurut dia, telah berupaya membukanya, namun langkah itu
tampaknya masih di permukaan. Kondisi itu makin diperparah dengan
lahirnya berbagai kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, seperti
kenaikan harga bahan bakar minyak.

Ketidakpercayaan rakyat pada pemerintah juga dilihat dosen Sekolah
Tinggi Filsafat Driyarkara, SP Lili Tjahjadi. "Lemahnya lembaga
institusional juga turut memunculkan krisis kepercayaan diri rakyat,"
tuturnya.

Dalam persoalan amuk massa yang muncul berkaitan dengan kasus Freeport
dan Maspion, Hotman melihat bahwa pemerintah perlu membuka ruang
dialog antara pengusaha dan rakyat. Pemerintah harus memfasilitasi
pertemuan enam suku yang wilayahnya digunakan Freeport sebagai tempat
usaha.

Sosiolog Universitas Indonesia, Imam Prasodjo, mengemukakan, dalam
kondisi semacam itu semestinya pemerintah membuat terobosan kebijakan.
"Pemerintah harus berani mengorbankan prosedur konvensional dalam
birokrasi dan dalam membuat kebijakan," tuturnya.

Memang diakui bahwa membangun kebijakan yang populis tidak dapat
dilakukan dengan segera dan radikal. Dalam kondisi seperti itu, tutur
Imam, pemerintah harus berani mengambil sikap tegas dan cepat untuk
menyelamatkan rakyat yang tengah terimpit krisis ekonomi serta
membangun kebijakan yang komprehensif.

Untuk itu, pemerintah harus berani meninggalkan berbagai prosedur
birokrasi konvensional yang oleh Imam dilihat sering mengganggu dan
menghambat. "Jika yakin kebijakan baru itu tidak merugikan negara dan
rakyat, pemerintah harus berani melakukannya," tuturnya. (jos)






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke