Bangsa Importir

Jakob Sumardjo

Sejarah bangsa Indonesia pernah dimahkotai oleh munculnya
negara-negara kerajaan eksportir. Produksi beras di Majapahit dan
Demak mampu menghidupi negara-negara Asia Tenggara. Kerajaan
Ternate-Tidore dan Banten mampu memenuhi kebutuhan bangsa-bangsa di
dunia dengan lada dan cengkehnya. Bahkan, Sriwijaya mampu mengekspor
siswa-siswa Buddhis yang akan melanjutkan kuliah di Indonesia.

Kini, setelah merdeka, bangsa Indonesia menjadi bangsa importir. Tidak
mampu memenuhi kebutuhan sendiri, apalagi menyumbangkan sesuatu kepada
dunia. Beras harus diimpor, teknologi diimpor, pengetahuan diimpor,
hiburan diimpor, informasi diimpor, imajinasi pun diimpor.

Kapan bangsa ini mengekspor beras, teknologi, pengetahuan, hiburan,
informasi, atau mengekspor imajinasi? Jika tidak mengekspor, kapan
dapat memenuhi kebutuhan beras sendiri, teknologi sendiri, pengetahuan
sendiri, hiburan sendiri, informasi sendiri, imajinasi sendiri?

Bangsa yang kalah. Bangsa yang tergantung. Bangsa yang konsumtif.
Bangsa yang minder. Bangsa tanpa kebanggaan kecuali bangga dalam
mengonsumsi, menerima, menghafal, meniru, dan dalam memakai. Karena
tergantung dan konsumtif, maka tak ada peluang untuk berpikir sendiri,
kreatif menciptakan sendiri, melihat diri sendiri. Alasannya selalu
globalisasi. Kita harus mengejar ketinggalan dan berlomba dengan
bangsa-bangsa lain.

Mengapa?

Sejauh mana ketinggalan? Mengapa dapat ketinggalan? Mengapa
bangsa-bangsa tetangga yang merdeka 20-30 tahun kemudian dari
Indonesia mampu meninggalkan kita? Dari mana kita harus mengglobal?
Setiap tujuan harus selalu bertolak dari suatu keadaan. Jika
pengenalan diri tidak pernah dikuasai, bagaimana kita bisa ikut
globalisasi? Modal kita apa? Kelebihan kita apa? Kekurangan kita apa?
Bagaimana mentalitas kita? Analisa SWOT-lah.

Apa dan siapakah Indonesia sekarang? Jika mengenali dan memahami
bangsa sendiri saja tidak dilakukan (karena asyik mengenali dan
memahami bangsa lain), bagaimana bisa menentukan masa depan? Indonesia
bukan Jepang, bukan Korea, bukan Eropa, bukan Amerika. Mungkin titik
Indonesia malah mirip Kongo, Kamerun, Ghana. Mengapa tidak belajar
dari mereka? Mengapa selalu ingin menjadi Jepang dan Amerika?

Bangsa konsumtif adalah bangsa yang hanya mengenal hasil, produk
akhir, bukannya peduli pada proses. Segala sesuatu menjadi, dan bukan
bimsalabim. Semua bangsa yang ingin kita kejar mempunyai sejarah yang
menjadikannya seperti sekarang. Dan kita tak pernah mau tahu proses
menjadinya. Kita melupakan kegagalan-kegagalan mereka.

Setiap keberhasilan selalu mempunyai cerita yang panjang. Jika cerita
sukses orang lain pun kita tak peduli, bagaimana mau tahu cerita kita
menjadi bangsa importir? Mengapa setiap pesta film, kita selalu meniru
apa yang terjadi pada piala Oscar? Mengapa harus bikin pesawat terbang
kalau bikin motor saja belum mampu? Mengapa Giddens kalau yang kita
perlukan sebenarnya Karl Marx?

Kenali diri sendiri

Pada zaman Bung Karno, kita pernah dipaksa mengenali diri sendiri.
Lepas dari kelemahan-kelemahannya, Bung Karno berani menyatakan,
bangsa ini harus berdiri di atas kaki sendiri. Akibatnya cukup fatal.
Stop semua impor. Mencari buku pegangan Amerika atau Eropa setengah
mati. Mau mendengarkan musik Beatles takut masuk penjara. Kelaparan di
sana- sini (sekarang juga). Mendengarkan radio Australia harus
menempelkan kuping di radio. Mobil-mobil tua laku keras. Sepeda
memenuhi jalan-jalan. Memang sengsara, tetapi semua sengsara. Gaji
menteri dan gajih guru skalanya tidak terlalu tinggi. Miskin bersama.
Menderita bersama. Tidak seperti sekarang. Gaji lulusan SMA jika
berhasil melejit ke atas akan mengalahkan gaji guru besar kira-kira 20
atau 30 kali! Di mana kamu Dewa Keadilan?

Saat itu, karena semua dilarang masuk, daya kreatif bangsa bangkit
dari tidur panjangnya. Karena "tertutup", mereka hanya mengenal diri
sendiri. Muncullah temuan-temuan teknologi yang sesuai kebutuhan
bangsa. Muncullah tokoh-tokoh legendaris musisi sendiri, Koes
Bersaudara, Titiek Puspa, Panjaitan Bersaudara. Beredar beras hasil
keringat petani sendiri. Mau korupsi? Apa yang dikorupsi? Tentu saja
koruptor tetap ada.

Strategi berdikari ini tak berjalan mulus akibat SDM yang sontoloyo.
Manusia Indonesia sulit ditebak. Setelah Bung Karno jatuh, haus impor
berkembang secepat wabah flu. Indonesia lapar impor, dari mulai
pinjaman luar negeri sampai acara televisi. Semua tinggal ditelan.
Maka yang kaya kian kaya dan yang miskin kian menyebar sebagai wabah.

Hari gini berdikari? Itu suara mereka yang sedang kenyang. Mereka yang
kebagian rezeki impor. Tentu saja bodoh mengulangi sejarah. Hikmahnya,
kita mengalami miskin bersama. Sedangkan sekarang piramida kemiskinan
tidak jalan. Yang terlihat gambar tiang terpancang di tengah lempeng
beton. Tidak usah berdikari, sekurangnya peduli diri sendiri.

Sebagai bangsa importir, kita kurang percaya diri. Pembimbing tesis
marah jika daftar bibliografi tidak mencantumkan nama-nama besar
mutakhir dalam bahasa Inggris. Sarjana-sarjana lokal itu diragukan
kebenarannya. Kepastian itu hanya ada dalam literatur berbahasa Inggris.

Bangsa ini tidak mempunyai sejarah lagi. Inilah sebabnya tidak
mengenal makna proses. Tahunya bahan jadi. Semua produk impor tak
perlu diketahui proses terjadinya. Apa sulitnya tinggal menelan.
Konsumtif seratus persen. Pantaslah kita disebut pribumi malas.

Jakob Sumardjo Esais





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke