Perajin Wayang Golek Terancam Punah

Purwakarta, Kompas - Perajin wayang golek di sentra pembuatan golek di
Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, terancam punah.
Jumlah perajin terus menurun dari tahun ke tahun.

Dibandingkan dengan delapan bulan lalu, Jumat (24/3) kemarin, kondisi
di Desa Malangnengah, Kecamatan Sukatani, salah satu sentra kerajinan
wayang golek, tampak sepi dari kegiatan para perajin. Dari belasan
perajin yang masih bertahan, kini hanya tersisa sekitar lima perajin.
Mereka pun hanya bekerja ketika ada pesanan.

Tak menguntungkan

Menurut Omon, salah satu perajin di Desa Malangnengah, pekerjaan
membuat wayang golek yang telah ia tekuni puluhan tahun kini semakin
tidak menguntungkan. Karenanya, puluhan perajin lain di desanya
memilih beralih kerja menjadi kuli angkut batu dan pasir atau bahkan
menganggur.

Sekitar tahun 1980-1990, pembuatan wayang golek masih menjadi mata
pencaharian utama para perajin di desanya. Kini beberapa perajin yang
masih bertahan hanya membuat golek pada sore atau malam hari sebagai
pekerjaan sambilan.

Ajon Sujono, Ketua Kelompok Perajin Golek Srikandi, menambahkan,
perajin-perajin yang bertahan masih menghadapi masalah permodalan.
Menurut dia, modal yang banyak ditawarkan lembaga keuangan masih sulit
diakses perajin. Sejumlah persyaratan seperti agunan serta besarnya
bunga masih menjadi persoalan bagi mereka.

Selama ini perajin hanya mengandalkan perputaran uang dari penjualan
produk. Untuk memulai produksi lagi, perajin harus menunggu bayaran
dari pemesan golek. "Perputaran uangnya lambat karena biasanya tidak
dibayar kontan, atau menunggu barang laku terjual," ujarnya.

Menurut Ajon, beberapa perajin yang masih bertahan saat ini pun tidak
setiap hari berproduksi. Sebagian besar dari mereka bekerja ketika ada
pesanan.

"Tahun 1990-an, setiap perajin bekerja membuat golek siang- malam.
Tetapi, sekarang siangnya dipakai untuk kerja yang lain, baru pada
malamnya membuat golek. Itu pun kalau ada pesanan," tutur Omon.

Omon dan sejumlah perajin tua kini hanya bisa bercerita tentang masa
keemasan kerajinan wayang golek, ketika karya-karya mereka diekspor ke
Jerman atau Belanda. Sesekali. Mereka bercerita tentang tamu-tamu luar
negeri atau mahasiswa seni patung yang berkunjung ke desanya untuk
belajar membuat wayang golek.

Maraknya produk-produk serupa membuat puluhan perajin wayang golek di
desanya semakin sulit. Pemasaran semakin sulit ketika produk pabrikan
atau produk impor sejenis membanjiri pasaran dengan harga lebih murah.

"Sudah banyak barang yang menggantikan fungsi wayang golek dan
penggemarnya pun semakin sedikit," papar Omon.(d08)






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke