Amarah

Jakob Sumardjo

Udara Indonesia dipenuhi kemarahan. Amarah dimulai dengan pembedaan.
Pembedaan diartikan sebagai lawan saingan. Alamat lawan memancing
kecurigaan, ketersinggungan, kecongkakan, dan amarah. Amarah
membangkitkan kebencian dan perusakan yang akan berakhir dengan
kehancuran.

Gejala-gejala amarah memenuhi media. Tiap hari ada demonstrasi
penolakan dengan simbol-simbol pembakaran. Penggusuran dengan
pembuldoseran. Mogok makan. Tawuran. Kebenaran dicapai dengan
kekerasan. Ketersinggungan dibawa ke pengadilan agar cepat diketahui
siapa yang kalah dan siapa yang menang. Ketidaksukaan perbedaan
dituangkan dalam undang-undang dan peraturan. Perbedaan
dibesar-besarkan lewat kasak-kusuk fitnah, gosip, dan selebaran gelap.

Kebebasan

Semua ini menggejala sejak reformasi. Kebebasan melahirkan kekacauan.
Kebebasan diartikan sebagai bebas dari yang beda, yang lain, daripada
kebebasan untuk menghargai dan menghormati yang beda, yang lain. Yang
beda dan yang lain adalah ancaman karena ketidakmampuan menghargai dan
menghormati keberadaan yang lain. Dunia ini harus menjadi tunggal
dalam tata nilai dan tata kebenaran. Perbedaan itu cacat, salah, bukan
kodrati, karena itu harus diseragamkan.

Praktik kebebasan selalu gagal dijalankan di Indonesia. Setelah
merdeka, kita menganut demokrasi liberal. Kabinet parlementer
menggantikan kabinet presidensiil. Hasilnya, parlemen dan kabinet
bertikai. Usia pemerintahan tak lebih dari 2,5 tahun. Pemerintahan
silih berganti karena perbedaan lebih ditonjolkan dan kekuasaan
diperebutkan. Di luar parlemen, berkembang berbagai pemberontakan
pemisahan atau antipemusatan.

Menyadari kekeliruan demokrasi ini, ditempuh demokrasi alternatif,
demokrasi terpimpin, kebebasan yang terpimpin, sebuah paradoks yang
sulit dicari tandingannya. Pemimpin Besar Revolusi memegang tongkat
komando menyelesaikan revolusi Indonesia yang belum selesai. Ini
berarti, segalanya benar atas nama revolusi. Bandul jam zaman dibalik.
Jika sebelumnya membuka lebar-lebar semua yang Eropa-Amerika, kini
menutup rapat-rapat Eropa-Amerika dan diam-diam memasukkan Timur untuk
memperkuat "kepribadian Indonesia".

Demokrasi terpimpin tidak cocok juga. Jika dulu terlalu ke kanan, kini
terlalu ke kiri. Menyadari kekeliruan ini, kita berbalik kembali,
banting setir ke kanan. Orde Baru membuka kembali akses Eropa-Amerika.
Di sini terjadi paradoks besar, yang bernama demokrasi Pancasila.
Kebebasan dan demokrasi hanya indah dalam kata-kata dan slogan,
realitasnya sama sekali tidak ada kebebasan. Wujudnya bebas,
substansinya kebenaran tunggal.

Sejarah amarah berulang tahun 1998. Kita tidak mau hidup dalam
kebenaran tunggal. Kita ingin hidup dalam kebebasan. Dan arus
reformasi masih memberi udara kebebasan itu, tetapi tetap dalam
situasi amarah. Kita amarah dengan gerak menuju kebenaran tunggal kembali.

Sungguh sulit memahami bangsa Indonesia. Jika diberi kebebasan, mereka
menginginkan terwujudnya kebenaran tunggal berupa perebutan kekuasaan
antargolongan. Sebaliknya, jika kebenaran tunggal memegang kekuasaan
terpusat, mereka berteriak meminta kebebasan. Kini, setelah kebebasan
diberikan, kembali berulang cerita lama, kebenaran tunggal yang ingin
diwujudkan.

Kebebasan sepenuhnya diberikan oleh demokrasi liberal tahun 1950-an.
Kenyataannya, banyak partai berebut untuk menduduki kekuasaan tunggal
di Indonesia. Kebebasan dijadikan dalih untuk menciptakan kekuasaan
tunggal. Sebaliknya, ketika demokrasi terpimpin dijalankan dan Orde
Baru dibangun—keduanya menganut kekuasaan tunggal—rakyat berteriak
minta kembali kebebasannya. Kini kebebasan telah diberikan. Tidak
heran jika tiap hari muncul gerakan yang substansinya kebenaran tunggal.

Sejarah marah

Sejarah bangsa ini adalah sejarah amarah. Jika tidak dipimpin oleh
kebenaran tunggal si pemimpin—kebebasan liberal—rakyat berlomba
mewujudkan pemimpin tunggal. Namun, jika pemimpin tunggal telah
terbentuk, rakyat berteriak menginginkan kebebasannya kembali. Dan
kini kita sedang mengulangi sejarah, yakni bersaing keras mewujudkan
kembali kebenaran tunggal, justru di tengah "demokrasi liberal" yang
dipilih tahun 1998.

Katanya sejarah adalah guru kehidupan. Kita tidak pernah belajar dari
sejarah. Kita mengulang sejarah. Hanya mereka yang bodoh mengulang
masuk lubang yang sama. Bangsa ini belum bebas dari kebodohan. Jika
gerakan kebenaran tunggal yang memimpin bangsa ini terwujud, bukankah
akan sama nasibnya dengan demokrasi terpimpin dan Orde Baru?
Ketunggalan, keterpusatan, keseragaman, dan ketiadaan kebebasan akan
selalu melahirkan oposisi, yakni amarah minta kebebasan.

Logo bangsa ini adalah Bhinneka Tunggal Ika, dan kita tak pernah
merefleksi pilihan bapak-bapak pendiri bangsa. Apa arti sebenarnya?
Itu hanya semboyan, tak ada artinya. Kita berjalan seperti apa adanya.
Jadi, tak perlu semboyan? Semboyan itu kan simbol. Simbol bangsa
diperlukan karena itu adalah etika bangsa, pemersatu pikiran kolektif.
Jika logo itu tak berarti, lebih baik tak usah membentuk bangsa.

Sejarah amarah bangsa terjadi karena selalu memisahkan bhinneka dan
ika, plural dan tunggal. Bandul bangsa bergerak antara plural atau
tunggal. Anehnya, jika plural diberikan, kebebasan diberikan, mereka
menggunakan kesempatan membangun yang tunggal, ika. Namun, jika yang
tunggal, ika, terwujud, bangsa ini marah, ingin kembali ke plural.
Dengan demikian keduanya harus diberikan, tunggal sekaligus plural,
ika sekaligus bhinneka. Dan itu telah diwasiatkan para pendiri bangsa.
Mereka telah melihat sebelum menjadi kenyataan, weruh sakdurunge
winarah. Sejarah amarah seperti kita alami telah diramalkan
bapak-bapak bangsa, jika kita tidak mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika.

Bangsa paradoks

Harus diakui, bangsa Indonesia adalah bangsa paradoks, dan telah
ditunjukkan sejarah nenek moyang, bagaimana mereka sukses mengelola
paradoks. Salah menangani manajemen paradoks akan berakhir dengan
konflik amarah, saling membenci, dan kehancuran. Tanda-tanda zaman
edan seperti itu telah muncul. Zaman edan adalah zaman kemarahan,
zaman yang mementingkan kebenaran masing- masing, zaman penuh
pertikaian, zaman yang lupa tidak eling dan waspada. Meski banyak
pemimpin pandai dan berpikiran jernih, jumlah mereka kalah dengan yang
berpemikiran edan itu.

Manajemen paradoks adalah menimbang keselarasan yang berubah-ubah,
kondisi kreatif tinggi, selalu eling dan waspada. Tiap persoalan
membutuhkan manajemen paradoks sendiri. Namun substansinya sama,
Bhinneka Tunggal Ika, plural namun tunggal, bebas namun terikat
kepentingan bersama, memusat dan memisah. Lawan adalah kawan, kawan
sebagai lawan. Masalahnya, kemampuan memahami, mengenal, mengakui,
menghargai yang berbeda. Tiap subyek harus mampu menghayati obyek.
Jika kemampuan saling memahami dan menghayati tidak ada, jangan harap
muncul Bhinneka Tunggal Ika.

Bangsa Indonesia tidak lazim berpikir hitam-putih. Tiap pilihan hitam
atau putih dilaksanakan, hasilnya adalah amarah, seperti disaksikan
dalam sejarah modern kita. Bagaimana mengelola keseimbangan, tak ada
rumusnya. Tiap persoalan membutuhkan kreativitas pemecahan sendiri.

Cara berpikir hitam-putih hanya dapat dijalankan dengan kekerasan. Dan
cara kekerasan, seperti dianut kaum perenial, akan mendatangkan
kekerasan kembali, dan akhirnya kehancuran.

Jakob Sumardjo Esais

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0603/25/opini/2534252.htm





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke