Membentuk Sosok Pemasar Jenius

Handi Irawan D

Google, Apple, Microsoft, Amazon, eBay, Starbuck, Dell Computer,
Toyota, IKEA, dan Nike adalah sejumlah perusahaan global yang selama
beberapa tahun terakhir ini menikmati pertumbuhan bisnis yang
mengagumkan. Di dalam perusahaan-perusahaan idaman ini bermukimlah
sejumlah tokoh-tokoh pemasaran yang jenius.

Larry Page dan Sergey Brin, misalnya, adalah sepasang jenius yang
membangun Google dimulai dari sebuah kamar di Stanford University.
Google adalah nama perusahaan yang mengambil terminologi dalam
matematika "Googol" yang berarti angka satu diikuti dengan angka nol
sebanyak 100. Ini sudah menyiratkan ambisi perusahaan ini untuk
menguasai pasar dengan kecepatan yang luar biasa.

Hanya dalam waktu lima tahun, Google sudah memperoleh 80 juta pengguna
di seluruh dunia. Pada tahun 2006, setelah 10 tahun berdiri,
perusahaan telah mencetak nilai kapitalisasi yang kira-kira satu
setengah kali lipat dari kapitalisasi seluruh saham yang tercatat di BEJ.

Artinya, bila semua pemegang saham dari perusahaan yang berada di
lantai Bursa Efek Jakarta sepakat menjual semua sahamnya, maka mereka
tidak akan sanggup membeli sebuah perusahaan "search engine".

Apple sudah lama dikenal dengan perusahaan yang selalu memiliki
pemikiran untuk tampil beda. Didirikan pada tahun 1979 dengan
produknya Macintosh, perusahaan ini telah menorehkan sebuah revolusi
dalam industri komputer.

Kesuksesannya kemudian menjadi bayang-bayang yang mulai redup saat
Microsoft Windows mulai menunjukkan dominasinya di seluruh dunia.
Walaupun demikian, si jenius Steve Job, pendiri Apple, menjelang tahun
2000 memberikan janjinya akan melakukan inovasi yang revolusioner
untuk membangkitkan kenangan akan kesuksesan Apple.

Beberapa tahun kemudian, perusahaan ini melihat suatu peluang besar
dengan meluncurkan iPod. Hari ini, produk iPod ini menjadi kisah
sukses besar Apple. Walau penetrasi produk ini di pasar Indonesia
masih kecil, kesuksesannya hanyalah masalah waktu, terutama bila harga
produk ini bisa di bawah Rp 1 juta.

Perbedaan radikal

Apa yang telah Google dan Apple lakukan? Inilah pertanyaan pembuka
yang dilontarkan oleh Peter Fisk, si penulis buku Marketing Genius.
Bagi Peter, kedua perusahaan ini memang layak menjadi sebuah kasus
yang inspirasional. Perusahaan ini selalu memiliki pemikiran untuk
membuat perbedaan yang radikal. Mereka memiliki imajinasi untuk
menciptakan suatu masa depan yang dapat diberikan kepada konsumennya
hari ini. Mereka, jenius melihat peluang, mereka jenius menciptakan
lompatan dalam industri. Mereka jenius, karena bisa melihat dan
menciptakan peluang untuk membuat 1 + 1 = 3.

Karena ini adalah buku dalam bidang pemasaran dan ditulis oleh
pengarang yang memiliki banyak pengalaman dalam dunia pemasaran, tidak
mengherankan bila 50 persen dari pembahasan buku ini terpusat kepada
pelanggan sebagai stakeholder utama.

Para pemasar jenius harus dapat melihat bahwa konsumen dan pelanggan
telah berubah dengan kecepatan yang tinggi. Mereka memiliki keinginan
dan harapan yang semakin kompleks dan semakin tinggi. Perusahaan tidak
boleh berorientasi kepada produk, tetapi perusahaan haruslah dibentuk
dan dibangun karena didorong untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan
pelanggan. Perusahaan yang berorientasi kepada pelanggan, akan mampu
untuk memberikan nilai tambah terus-menerus, membina hubungan baik
dengan pelanggan, dan akhirnya pelanggan mau loyal kepada perusahaan
atau merek dari perusahaan ini.

Agar para marketer yang menjadi target pembaca dapat menghubungkan
buku ini dengan berbagai konsep-konsep pemasaran modern yang
berorientasi kepada pelanggan, maka Peter Fisk, sang pengarang buku
ini, menyajikan berbagai konsep pemasaran yang sudah populer. Beberapa
di antaranya adalah strategi pembentukan ekuitas merek, customer
perceived value, customer experience, hingga berbagai strategi radikal
yang berhubungan dengan strategi komunikasi dan distribusi.

Tentunya, sesuai dengan judul buku ini, maka berbagai pembahasannya
lebih banyak menampilkan sisi-sisi radikal dari konsep itu sendiri.
Peter Fisk menunjukkan bahwa konsep tradisional sudah tidak cukup
untuk menghadapi pasar yang kompleks dan dinamis.

Memang, penyajian konsep-konsep ini telah memberikan banyak penjelasan
bagaimana sebuah perusahaan dapat menerapkan strategi pemasaran yang
jenius atau bagaimana seorang individu dapat menjadi pemasar yang
jenius. Hanya saja, ambisi dari pengarang ini untuk mengintegrasikan
puluhan konsep ini telah menciptakan kompleksitas bagi para pembaca
awam. Mereka yang tidak familier dengan berbagai konsep pemasaran
tradisional, akan mengerutkan dahi untuk dapat memahaminya.

Empat dimensi

Setelah terlihat mulai kendor di bagian tengah, pengarang kemudian
mengajak para pembacanya untuk melakukan evaluasi apakah sebuah
perusahaan atau individu dapat dikategorikan menetapkan pemasaran jenius.

Peter Fisk merangkum dalam empat dimensi bagaimana perusahaan dapat
menuju ke tingkat jenius yang dia maksudkan. Pertama, bagaimana
perusahaan dapat menciptakan peluang bisnis. Perusahaan yang baik
haruslah lebih didominasi oleh proses pemikiran yang outside in dan
bukan inside out.

Yang pertama menunjukkan bahwa proses keputusan dan strategi
dipengaruhi oleh situasi bisnis dari luar. Mereka melihat apa yang
diinginkan oleh pelanggan. Mereka mendengar apa yang dikatakan
pelanggan dan mereka menempatkan diri pada posisi pelanggan.

Dengan cara seperti ini, maka perusahaan akan lebih sensitif untuk
mencium adanya peluang bisnis. Percuma perusahaan membuat ide-ide yang
radikal, tetapi tidak dikehendaki oleh pasar. Bukan kehebatan
teknologi yang membuat produk laku, tetapi teknologi yang mengerti
pelangganlah yang membuat produk dicari oleh pelanggan.

Kedua, perusahaan yang mampu mencapai tingkat jenius dalam pemasaran
adalah perusahaan yang selalu mengombinasikan orientasi jangka pendek
dan jangka panjang dalam merespons pasar atau saat menyusun strategi
dan melakukan pengukuran kriteria suatu kesuksesan. Walaupun demikian,
sang jenius akan lebih memilih untuk lebih banyak berorientasi jangka
panjang.

Dimensi jenius yang ketiga adalah untuk para individu, terutama para
pimpinan puncak atau petinggi dalam bidang pemasaran. Para individu
yang jenius selalu menggunakan proses berpikir yang jenius. Walau
selalu menggunakan otak kiri dan otak kanan, tetapi si jenius akan
lebih banyak menggunakan otak kanan untuk membuat lompatan dimana para
pesaing lain tidak memikirkan. Otak kanan akan memberikan nilai
kreativitas tinggi dari pemikiran rasional yang dikembangkan otak
kiri. Mereka mampu untuk tidak berpikir linear. Mereka mampu melihat
kesempatan secara holistik dan mampu melihat gambar besar yang orang
lain tidak lihat.

Dimensi keempat yang harus dimiliki oleh sang jenius pemasaran adalah
kemampuannya untuk menghasilkan ide-ide radikal yang diimbangi dengan
langkah-langkah konkret untuk mewujudkannya. Ide-ide hebat tanpa
disertai implementasi akan menjadi wacana yang tidak akan dirasakan
oleh pelanggan, dan akhirnya tidak memberikan keuntungan bagi para
pemegang saham.

Buku ini semakin lengkap saat Peter Fisk memberikan 50 daftar yang
menjadi tantangan bagi sang jenius. Si pengarang sangat sadar, bahwa
di kemudian hari, memang hanya sedikit jenius dalam bidang pemasaran
yang keluar sebagai pemenang. Para jenius akan melewati banyak
tantangan ini. Mereka memiliki tantangan dalam memformulasikan
strategi. Mereka juga memiliki tantangan dalam membangun merek yang kuat.

Tantangan yang nyata tentunya adalah karena dinamika pelanggan yang
super cepat. Demikian pula, berbagai tantangan yang berhubungan dengan
komunikasi, pembangunan saluran distribusi, serta bagaimana
menggerakkan, memotivasi para karyawan agar mendukung ide-ide radikal
yang diluncurkan oleh sang jenius pemasaran.

Bagi para marketer dan praktisi pemasaran yang sudah berpengalaman,
daftar lampiran di bagian akhir buku ini pastilah memiliki daya tarik.
Peter Fisk memberikan daftar 50 merek jenius, 50 konsep jenius, 50
marketer jenius, 50 penemuan jenius, dan 50 inspirator jenius.
Kemampuannya untuk menyusun daftar lampiran ini sudah memberikan
gambaran mengenai kepiawaian pengarang untuk mengintegrasikan
keseluruhan dinamika dalam dunia pemasaran.

Dengan memberikan judul Marketing Genius, pengarang memang terlihat
jenius dalam memasarkan buku ini. Judulnya sungguh provokatif.
Pengarang tahu benar bahwa dia perlu membuat perbedaan yang radikal
yang diinginkan para pembacanya.

Di tengah-tengah banyaknya buku pemasaran, saya yakin, buku ini akan
mendapatkan tempatnya. Walau merupakan rangkaian dari berbagai konsep
pemasaran yang kontemporer dan tidak menawarkan suatu konsep orisinal
dari pengarangnya, buku ini akan menjadi inspirator dan provokator
bagi perusahaan yang bermimpi menuju tangga mencapai tahap pemasaran
yang jenius atau individu yang suatu saat ingin dicatat sebagai
pemasar jenius.

Handi Irawan D Konsultan Pemasaran dan Chairman Frontier Consulting Group





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




SPONSORED LINKS
Spanish language and culture Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke