Menceng

Suka Hardjana

Menceng itu artinya tidak lurus. Apabila kita meletakkan dua buah
titik pada bidang datar, tegak ataupun diagonal pada koordinat yang
paralel lantas menghubungkan kedua titik itu dengan sebuah garis, maka
akan kita dapatkan sebuah rentangan garis lurus. Demikian kata pak
guru ilmu ukur (kini ilmu matematika atau geometri) di Sekolah Rakyat
(kini sekolah dasar) kami lebih setengah abad yang lalu.

Pak Kromoleyo, guru kami itu, melanjutkan: "Apabila salah satu titik
dari kedua titik itu kita sebut titik awal atau titik dasar—bisa yang
mana saja—maka titik satunya lagi adalah titik akhir atau titik
tujuan". Pelajaran elementer ilmu ukur itu saya ingat sampai tua.
Soalnya, Pak Sastrodimedjo, guru kami di sekolah menengah
pertama—seperti hendak melanjutkan pelajaran di Sekolah Rakyat
itu—kemudian menerangkan bahwa "... secara ilmu pasti (ilmu eksakta)
semua itu ada titik awal dan titik akhirnya.

Begitu juga dalam kehidupan ini", dia mulai agak melenceng ke disiplin
filsafat dan religi, "semua ada dasar dan tujuannya, yang dimulai
dengan titik awal dan berhenti di titik akhir, sebagai terminal
tujuan". Seperti sudah kencan sebelumnya, Pak Tjitrosembodo, guru kami
di sekolah menengah atas (saya juga tidak tahu sekarang namanya
sekolah apa) menjelaskan sedikit lebih rinci bahwa, kedua titik
awal—titik akhir dan garis yang menghubungkan kedua titik itu hanyalah
sebuah proses, bukan target atau tujuan.

Kata kunci terpenting dalam proses (titik awal dan garis penghubung)
yang mengarah kepada tujuan atau sesuatu yang hendak dicapai pada
titik akhir itu sebenarnya adalah, kata lurus. "Bila yang lurus itu
tidak berhasil dicapai atau gagal, maka yang terjadi adalah garis
menceng, pembengkokan garis atau malah garis-garis kacau yang tidak
terarah, alias chaos", kata Pak Tjitrosembodo menyimpulkan falsafah
ilmu pasti dalam korelasinya dengan kehidupan nyata.

Saya kagum dengan guru-guru kami tempo doeloe. Referensi metodologi
pengajaran mereka rinci dan meluas pada contoh-contoh nyata kehidupan
sehari-hari. Tidak spasial dan fragmentaris. Ada kesinambungan topik
pengajaran pada setiap bidang dari sekolah dasar hingga jenjang yang
lebih tinggi. Lurus itu bukan sekadar tujuan target atau arah sasaran
yang hendak dicapai. Lurus itu tidak melenceng, apalagi
melingkar-lingkar tak keruan.

Lihatlah cara dan perilaku hidup kita sekarang dalam tujuan kehidupan
berbangsa dan bernegara seperti dulu diteguhkan dalam proklamasi
kemerdekaan yang diasaskan menurut UUD 45 berdasar pada falsafah
negara Pancasila.

UUD-nya diobok-obok dan dilencengkan ke mana-mana dengan berbagai
alasan rationalitas politik intelektual yang plintat-plintut.
Pancasila? Kayaknya tidak ada lagi yang tertarik untuk menggaulinya.
Para pemimpin kita masa kini—maksud saya para penguasa—tak sering lagi
menyinggung soal Pancasila (bahkan dalam sekadar kata Pancasila sekali
pun).

UUD 45 dan Pancasila yang dulu pernah menjadi dasar semangat berdaulat
dan berkemerdekaan sebagai suatu landasan kesatuan berbangsa dan
bernegara—yang dianggap sekadar angan-angan yang dibayangkan (ilusi?)
oleh Andersson dan "nasionalisme sempit" oleh banyak politikus dan
para intelektual "text-book thinking" (memakai istilah Bung
Karno)—dianggap kuno, tidak relevan, tidak up to date dan "ora maregi"
(tidak bikin perut kenyang) oleh para charlatan politik dan
intelektual keblinger itu (sekali lagi meminjam istilah Bung Karno).

Tak mengherankan bila manusia Indonesia masa kini hidup dalam
kebingungan besar yang chaostic dan kehilangan pegangan—selain
bergelantungan pada pegangan hidup kekuasaan, kekerasan dan kegairahan
materialisme hedonis tanpa batas. Lihatlah praktik-praktik perilaku
kekuasaan, kekerasan dan gairah materialisme di segala lapisan
masyarakat. Di institusi-institusi negara penegak hukum—pelaksana tata
negara—di bawah atap pengontrol kekuasaan atau parlemen yang sendiri
telah berubah menjadi institusi kekuasaan yang lain—di ruang-ruang
pembentukan watak dan perilaku warga bangsa dalam bentuk institusi
pendidikan dan pengarah spirit kepercayaan keagamaan—semua sama saja.

Partai-partai politik yang asal-usulnya dibentuk untuk memperjuangkan
kepentingan rakyat, dengan segenap aliansi politiknya kini berubah
menjadi partai yang bersikeras, bersikukuh dan bersikuasa untuk
memperjuangkan kepentingan kelompok dan diri sendiri. Secara
substansif, agenda utamanya adalah rebutan pembagian kue jabatan dan
kekuasaan petinggi-petinggi partai. Yang tidak kebagian jatah? Ya
keluar dari partai, lantas bikin sempalan atau partai baru—dengan
praktik yang tidak berbeda dengan partai-partai politik terdahulu:
rebutan totholan kursi kekuasaan. Bukan memikirkan nasib, kedaulatan,
apalagi harga diri dan kehormatan nama (dignity) bangsa dan negara
beserta seluruh rakyatnya.

Pesimisme ini mengisyaratkan, bahwa kini semuanya sedang menceng,
bengkok, bundet ruwet dari tujuan semula pendirian Republik ini lebih
dari 60 tahun lalu—dan lebih dari 400 tahun lalu kemerdekaan dan
pembebasan rakyat dari segala bentuk belenggu keterbelakangan,
kemiskinan, keterjajahan, represi kekuasaan dan tiran
feodalisme—diperjuangkan.

Tapi bicara soal beginian di zaman sekarang ini dianggap naif, kuno,
tidak relevan, tidak up to date, ora maregi, dan bisa-bisa langsung
dituding sebagai pendukung semangat kebangsaan yang sedang
mengurai-urai nasionalisme sempit. Memangnya ada nasionalisme yang
tidak sempit? Prek ah ..... ! Besok tanggal 1 Mei, perayaan Hari Buruh
Sedunia. Berharap dan berdoa sajalah agar kaum buruh yang sedang putus
harapan dan kecewa berat tidak marah dan mengekspresikan gejolak
"nasionalisme" sempitnya secara berlebihan. Pak Gub sudah mengancam
lho, yang rusuh akan didor di tempat. Keamanan dan ketertiban ibu kota
harga mati, katanya. Jadi, lebih baik manusia-manusia yang mati
daripada ketertiban? Waduh.... dor, dor, dor. Pemimpin kok galak. Wis
...... menceng!





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




SPONSORED LINKS
Spanish language and culture Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke