>
> Tah kira2 kitu pemahaman sim kuring mah ngeunaan iman/percaya ka
> Pangeran teh. Jadi, percaya henteu aturan ti Pangeran teh mangrupa
> solusi keur masalah2 urang?.
>
Diskusi dina Multiply, jang diskusikeuneun?:
Orang mengira kalau Sains itu Versus Agama, sebenarnya keduanya sama ,
berada pada satu keping mata uang yang sama, satunya Garuda satunya
Nomer 1 rupiah atau Dollar. Kalau masih mengira Sains "Versus" Agama
maka kesimpulan itu muncul dari orang yang masih buta dan meraba-raba
kalau dasar sains sejatinya agama.
Sains dan agama berada di bawah naungan matahari yang sama cuma cara
ngomonginnya beda, yang satu pake logika relatifnya karena semua
bilangan dan huruf bersandar pada asumsi mutlak mesti ada bilangan 1,
sedangkan agama berkata siapakah yang kalian tuliskan sebagai "1"
lantas kalian sebut "Satu", atau ungkapan semantik logik lainnya yang
menunjukkan karakter kejiwaanmu,siapakh Yang Maha Esa alias ALLH?
Kalau kecondongan kita satanik yang muncul adalah Dajjal, kalau
kecondongan nafsu kita adalah nafsu yang tenang yang muncul adalah
nabi-nabai dan para malaikat. Samalah dengan R Dawkins yang keliru
karena merasa tahu inti kehidupan padahal tidak. Dia cuma tahu sebatas
susunan bit dan dijital yang kemudian di imajinasikan supaya sesuai
logika menjadi kolam-kolam genetika dengan metafora ular dari surga.
Bah, semua itu cuma menunjukkan ketidkamampuannya untuk mengungkapkan
sisi makna dirinya sendiri.Ini ibarat orang yang matanya mlotot
langsung di depan lampu sorot paling kuat. Bukannya melihat Tuhan
malah menjadi buta mata dan hatinya.
rsyaifoel
editdeletereply
rsyaifoel wrote on Oct 5
Kutip: ..."Samalah dengan R Dawkins yang keliru karena merasa tahu
inti kehidupan padahal tidak..."
Kok bisa bilang KELIRU, dasar nya apa?
Katanya sains dan agama dua sisi dari keping yang sama. Kalo jalan
pikiran Dawkins keliru, artinya satu sisi dari keping mata uang itu
nggak bener dan keping yang lain yang bener? ;))
Tolong dijelaskan, di mana "keliru"nya. Biar pas gitu! :))
atmoon
reply
atmoon wrote on Oct 5
rsyaifoel said
Kok bisa bilang KELIRU, dasar nya apa?
Katanya sains dan agama dua sisi dari keping yang sama. Kalo jalan
pikiran Dawkins keliru, artinya satu sisi dari keping mata uang itu
nggak bener dan keping yang lain yang bener? ;))
Kelirunya dalam mengambil kesimpulan mas, bukan dalam proses pencariannya.
Proses yang dijalani antara Hawkins, ilmuwan lainnya sampai Nabi
Ibrahim dan nabi lainnya atau kaum arifin sebenarnya sama, mengamati
fenomena. Hanya ruang-waktunya beda, demikian juga lingkup perinciannya.
Kesimpulan seorang Nabi dibarengi dengan makna ketidaktahuan dirinya
atau kelemahannya yang ungkapannya ASLIM. Tapi Dawkins menatapi jalan
kebenaran namun terpelanting dari sisi makna karena pemaknaannya
justru menyebabkan munculnya ego diri yang akhirnya akan menyebabkan
kebutaan matahatinya.
Saya sendiri punya prediksi justru orang2 seperti Dawkins inilah yang
kelak nanti akan tobat dan mengakui eksistensi Tuhan dengan bukti yang
real, bukan sekedar ikut-ikutan. Baik itu ikut-ikutan ateis maupun
ikut-ikutan bertuhan.
bukansiapasiapa
reply
bukansiapasiapa wrote on Oct 5, edited on Oct 5
Agama adalah sebuah tuntunan bagi manusia untuk menjalani kehidupan
(yang sifatnya "emang sudah dari sononya") agar selamat dan tidak
tersesat, sementara Allah telah membekali kita pula dengan akal
pikiran yang kemudian dengan akal itu lahirlah "produk" yang namanya
sains, hasil olah pikiran yang sebenarnya kalo menurut saya lebih
mirip "senjata" yang kita gunakan untuk mensiasati hidup. Nah,
logikanya adalah apakah orang yang menciptakan sains("mpu" yang bikin
"senjata") hidup dalam tuntunan dan pemahaman ajaran agama yang baik
atau tidak? bila ia selama hidup menjalankankannya dengan baik insya
Allah hasil pemikiran dan olah akalnya akan menghasilkan "produk Ilmu
Pengetahuan" yang membawa manfaat bagi kehidupan dan sebaliknya bila
ia kosong tanpa ajaran agama/menjalani pemahaman agama yang
salah/tersesat, maka kemungkinan untuk menghasilkan Ilmu pengetahuan
yang sesat pula/mendatangkan kemudharatan. Jadi menurut saya Agama
tidak akan berhadapan dengan sains, karena hakikatnya agamalah yang
melandasi sains itu sendiri. wallahualam...
rsyaifoel
editdeletereply
rsyaifoel wrote on Oct 5
Menrurut saya... agama dan sains itu BEDA ranah nya. Metodda nya juga
beda. Karena itu kesimpulan nya PASTI beda.
Yang theis, tidak bisa begitu saja menganggap yang atheis punya
kesimpulan keliru. Sebab jalur nya beda2. Seperti halnya rel kereta
yang menuju satu titik... dua2nya paralel, tapi TIDAK bisa ketemu.
Kalo ketemu bikin celaka!!!
Saya yang theis, tidak merasa lebih benar daripada mereka yang atheis.
Toh... kita masing2 sibuk dalam pencarian kebenaran. Sejauh kebenara
itu ada, tentu nya.
Percayalah... sains dan agama (yang bertolak belakang) merupakan
bagian dari manusia. Kita harus arif melihat perbedaan tersebut... dan
menggunakan nya bagi kesejahteraan seluruh umat manusia.
Pendeknya. (Pe)makna(an) agama dan sains itu... tergantung pada diri
pribadi kita masing2. Kita bisa terpelanting baik dengan agama, maupun
dengan sains!
regyyy
reply
regyyy wrote on Oct 6
rada nylemeh nih ane mas mas..kalo akal ama fikiran bedanya di mane ..???
padahal ada dalam s atu tempat kepala .......ALLAHU AKBAR.....yg
menciptakan mahluk dgn berbagai kesempurnaan ...........
atmoon
reply
atmoon wrote on Oct 6
rsyaifoel said
Percayalah... sains dan agama (yang bertolak belakang) merupakan
bagian dari manusia. Kita harus arif melihat perbedaan tersebut... dan
menggunakan nya bagi kesejahteraan seluruh umat manusia.
Justru ini permasalahan pokoknya, kita telah diindoktrinasi dari suatu
kesalahan fundamental bahwa antara Agama dan Sains berbeda.
Saya tanya, apa yang dirasakan agamawan dengan hati, akal, dan
tindakannya dan apa yang dilihat ilmuwan melalui sains dengan akal dan
tindakannya dengan membuang hati?
Yang satu bilangan "Tuhan", yang lain bilang "Alam"? Yang beda
sebenarnya cuma kacamata untuk melihatnya. Yang satu pake filter yang
lebih bertingkat yaitu filter fenomena-tindakan-akal pikiran-hati-trus
nyampe ternyata Tuhan ada; yang lain sains melihat
fenomena-tindakan-pikiran (brenti disini karena merasa BEDA lalu
bingung Ada nggak ya Tuhan? Padahalpermasalahanpokoknya Tertunduk
nggak kalau yang disiusuri itu sisi lain dari apa yang dilakukan oleh
spiritualis namun cuma lebih dangkal aja (cuma nyampe logika)). Bagi
saya kedua sudut pandang itu sama, dan lucunya yang menurut saya
KONYOL bgt (baik yang ngaku agamawan maupunsaintis) cara mengungkapnya
ternyata dasarmya sami mawon : SIMBOL, BILANGAN, HURUF----Wa
Nafsu--->-Kata-kata metafora, ilmiah, yang salah, yang benar.
Akhirnya lupa Foundationnya apa? Harus ada asumsi mutlak benar supaya
kita menganggap sains benar bahwa 1 itu foundation yang dimutlakkan
dari -1. Orang yang menerabas batas psikis menyebut SATU itu dengan
makna bukan sekedar benar 0+1=1, 1+1=2. Bukan sekedar NUMBER but MAKNA
juga.
Jadi selama ini sebenarnya masing-masing orang telah menjadi katak
dalam tempurung, membuat penjara masing-masing lalu berkata KITA BEDA?
Apa bedanya? Kita memang mirip jadi ikan sampai-sampai bingung sendiri
AIR ITU APA? Lalu Dimanakah Air?
rsyaifoel
editdeletereply
rsyaifoel wrote on Oct 6
Setuju.
Tapi ada dua hal yang berbeda dalam BERSIKAP antara ilmuwan dan agamawan.
Dalam rangka pencarian kebenaran, ilmuwan hampir selalu sampai pada
titik mengingingkari ketuhanan. Dengan metoda2 nya 'pembuktian' bahwa
semesta ini diciptakan... boleh dikatakan nihil. Sikap semacam ini
menurut saya sah2 saja.
Di pihak lain, agamawan. Mencari kebenaran dengan metodanya sendiri,
juga mencoba membuktikan adanya ketuhanan. Itu juga sah2 saja. Yang
sangat saya sayangkan, kaum agamawan SUKA merasa diserang oleh yang
tidak agamawan, seolah2 kesimpulan ilmuwan atheis punya tujuan
meruntuhkan agama. Agamawan biasanya bersikap defensif malah ada yang
agresif!
Repot nya.Kalau kita kebetulan aktif di kedua ranah tersebut.
Mengapa orang2 tidak bisa menganggapnya sebagai dua trak yang membawa
kita pada kebenaran sejati, yang kita gunakan secara bersamaan?
atmoon
reply
atmoon wrote on Oct 6
rsyaifoel said
Mengapa orang2 tidak bisa menganggapnya sebagai dua trak yang membawa
kita pada kebenaran sejati, yang kita gunakan secara bersamaan?
Masalahnya karena orang2 terjebak di dalam egosentrismenya sendiri,
baik egosentrisme rasionalitas maupun egosentrisme
spiritualitas,apalagi egoesentrisme 'CABANG2" ilmu yang notabene
sangat kecil. Akhirnya rasio dan spiritualitas pun keduanya sudah
menjadi PRODUK HAWA NAFSU, PRODUK KOMODITAS HIBURAN ATAU BARANG
DAGANGAN SEMATA. APA MAKNA DAN KEBENARAN AGAMA DAN SAINS kalau sudah
berada di titik nadir spt itu? Ruh kduanya pun sudah hilang yang
tersisa hanya amarah DEWATA CENGKAR, BUTO IJO, dan gambaran mengerikan
dari putusnya Rahmat Tuhan.
Ya memang itulah yang dimaksudkan di tulisan ini. Bahwa solusinya
bukan zero sum game tapi bisa win-win solustion, bukan salah satu
kalah tapi dua-duanya harus bergandengan melihat realitas Tuhan dalam
perspektif katakan saja "sintesis" bertingkat, top down dan botom up,
bahwa jalan yang dilalui itu banyak, namun kesimpulan akhirlah tetap satu.
Pas menarik kesimpulan akhir ini yang kadang2 orang terplintir-plintir
karena masing-masing masih "memakai kacamata sendiri" (belum ASLIM).
Pada kesimpulan paling akhir mestinya realitas yang dilihat akan
"sama" dengan simbolisasi 1, sama saat kita susuri tatanan ilmu
tatabahasa dasarnya 123 (Black hole,nuzulul) dan ABJ,ABC, kemudian
fisika juga melihat hal yang sama dengan istilah beda misalnya "medan
kuantum", "potensial higgs", etc..etc dengan istilah semantik yang
nampak aneh tapi sebenarnya itu2 juga.
Kaum spiritualis melihat foundation yang sama selama
bermilenia-milenia yang dulu diungkapkan sebagai EROS atau al-Mahabbah
sebagai Potensial Quantum atau Medan Cinta Tuhan pada semua makhlukNya
sebagai foundation semua fenomena Tuhan sampai akhirnya muncul tatanan
lebih materialistik yaitu "medan gravitasi (cahaya diatas cahaya)",
cahaya (elektromagnetisme), nuklir, listrik, api, alam materi, obyek2,
gerak mekanis..dst...
Jadi, memang akhirnya masa depan umat manusia itu bukan tergantung
pada "agama" dan"sains" "dengan istilahnya masing-masing" baik secara
"terpisah maupun bersatu" tapi pada "sikap ASLIM dengan sadar" bahwa
hanya dengan sintesis dari keduanya manusia bisa memaknai dan
menemukan pegangan benar yang "real" bukan dongeng-dongeng menakutkan
akan keberadaan dirinya sebagai sekedar makhluk ciptaan Tuhan yang lemah.
rsyaifoel
editdeletereply
rsyaifoel wrote on Oct 6
Yesss.... Singkatnya, kita harus sadar bahwa IMAN dan SAINS pada
dasarnya KOMPLEMENTER!!!
Munginkah kita sekarang hidup tanpa sains? Tidak mungkin!
Mungkinkah kita hidup tanpa iman? Mungkin utk yang tdk percaya, tdk
mungkin utk yang percaya.
Damailah dunia! ;))
Salam.
atmoon
reply
atmoon wrote on Oct 6
Iya betul istilah nya KOMPLEMEN SATU SAMA LAIN
rsyaifoel
editdeletereply
rsyaifoel wrote on Oct 6
atmoon said
Iya betul istilah nya KOMPLEMEN SATU SAMA LAIN
Bisa kebanyang kalo kereta jalan nya cuma pake satu rel?
Bisa sih bisa jalan... cuma ya nggak comfort gitu... grudukan he he
he... Dan, bakalan susah nyampe di tempat tujuan.
Lebih baik, pake dua rel sekaligus. Rel yang satu nggak perlu
melecehkan rel yang lain. Biarin kerjasama. Biar happy ending.... ;))
Susahnya... sekarang malah udah ada monorel yang comfort juga! Gimana
nih ya ? he he he...
http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda
[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/