Di NL sababaraha waktu pernah heboh. Aya imam anu embung sasalaman
jeung mentri (awewe) alatan haram (?).

Basa ka lembur 2 taun ka tukang, sobat kuring awewe EMBUNG diajak
sasalaman deuih. HARAM cenah! Beu....

Kumaha bet jadi lieur kieu? Siga boga anggepan, patarema leungeun
sarua jeung ngalakukeun hubungan sex? :((

baktos,

Rahman


"Sasalaman"
Oleh HAWE SETIAWAN

I see friends shak in'hands, say in, How do you do?
They're really saying, I love you.

MUNGKIN Anda masih ingat lagu lama itu. Ya, "What a Wonderful World"
(Betapa Menakjubkannya Dunia ini), judulnya. Pada 1968 musisi jazz
dari New Orleans, Louis Armstrong (1901-1971), melantunkan lagu
gubahan George Weiss dan Bob Thiele itu.

Itulah lagu optimistis yang kedengarannya digubah dengan rasa takjub.
Dalam lagu itu, mawar mekar, matahari bersinar, dan gelap malam pun
terasa sakral. Kulihat pasangan teman bersalaman, dan bilang, Apa
kabar? Mereka sebetulnya bilang, Aku sayang kamu, begitu antara lain
yang kita dengar.

Suasana yang tergambar dalam lagu itu ada kalanya hinggap di hati
kita. Kaki terasa ringan, hati berbunga-bunga, dan keadaan di sekitar
terasa sedap di mata. Adapun salah satu momentum yang suasananya
terasa demikian adalah Lebaran.

Tentu, kegembiraan tak datang sonder alasan. Misalkan, Anda termasuk
orang yang tamat berpuasa selama Ramadan. Selama itu, barangkali Anda
mencoba menahan amarah, berupaya untuk tidak serakah, dan berjam-jam
duduk di sudut surau seraya menghayati Alquran hingga khatam.

Lalu tiba saatnya takbir berkumandang, dan dulag bertalu-talu dari
setiap penjuru. Dada Anda mungkin seakan hendak pecah saking gembira,
serasa baru lulus ujian layaknya. Bahkan, di titik ekstrem, garis
batas antara sedih dan gembira setipis kulit bawang rasanya. Sedih
ditinggal Ramadan, gembira melewati ujian. Yang pasti, kita bisa
merasa gembira karena kita pernah merasa susah.

Oh, senangnya hari Lebaran. Puasa tamat, kita makan ketupat. Kita
berduyun-duyun ke alun-alun, memanjatkan pujian buat Tuhan, dan
mendirikan salat sunat dua rakaat. Saudara-saudara kita yang
bertebaran di muka bumi, berkumpul lagi setahun sekali. Reuni. Kita
bersalaman saling memaafkan, bahkan hingga berpelukan.

Hari itu, sepulang dari Alun-alun Cisalak, Subang, saya terus teringat
akan wejangan Pak Ajengan. Dalam khotbah Idulfitri, ia mengutip sebuah
hadis tentang sasalaman (bersalaman). Hadis itu, setahu saya,
diriwayatkan oleh Abu Daud dan Turmudzi.

Tentu, ulama dapat menjelaskan, dosa seperti apa yang bisa terpupus
melalui kesediaan saling memaafkan. Soalnya, kata guru ngaji saya,
dalam hidup ini ada dosa kelas ringan dan ada pula dosa kelas berat.
Dikatakan pula bahwa untuk dosa kelas berat, penghapusannya butuh
sarat yang juga berat, yakni bertobat.

Korupsi, misalnya, pada hemat saya tidak mungkin dimaafkan. Pelakunya
mesti diberi sanksi. Adapun menyangkut papaseaan, saya teringat pada
pendapat beberapa teman lainnya yang sering menganjurkan perdamaian di
daerah-daerah konflik. Mereka bilang, untuk mengupayakan rekonsiliasi,
sedikitnya selalu ada tiga opsi. Pertama, aku memaafkanmu dan bersedia
melupakan kesalahanmu. Kedua, aku memaafkanmu tapi tidak akan
melupakan kesalahanmu. Ketiga, aku tidak akan memaafkanmu apalagi
melupakan kesalahanmu.

Terlepas dari perkara cara menghadapi koruptor dan orang keji,
kebudayaan kita pada hari Lebaran rasanya bisa mencetuskan inspirasi
buat memelihara persaudaraan. Lagi pula, agaknya, dalam Islam
bersalaman pada prinsipnya memang disarankan.

Sekali waktu, menurut hadis Turmudzi lagi yang bersumber dari Anas,
seorang lelaki bertanya kepada Muhammad saw. "Ya, Rasulullah, jika
orang bertemu dengan saudara atau temannya, haruskah ia membungkuk?"

"Tidak," jawab paduka.
"Ataukah ia harus memeluk dan menciumnya?"
"Tidak."
"Ataukah ia harus menjabat tangannya dan bersalaman?"
"Ya," jawab Nabi.

Kata salam itu sendiri (juga variasinya dalam bahasa Arab, yakni
salima, yaslamu, salaamatan, dan salaaman) mengandung arti selamat
atau sentosa. Jelas, indah nian bila penghayatan orang atas agama
menerbitkan keselamatan dan kesentosaan bagi lingkungan di sekitarnya.

Seperti yang terbayang dari nyanyian Louis Armstrong tadi, orang-orang
yang bersalaman di hari Lebaran pun rasanya tidak sekadar mengucapkan
mohon maaf lahir batin. Di balik ucapan itu, rasanya, ada pula upaya
untuk meneguhkan bahwa pada hakikatnya kita adalah saudara yang layak
saling mencinta.***  

Penulis, penulis lepas, tinggal di Bandung.




http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke