Mata Rantai Terputus
Tradisi Kelisanan dan Modernitas Harus Berjalan Seimbang

Jakarta, Kompas - Adanya mata rantai yang terputus menyebabkan tradisi
dan kelisanan warisan pendahulu bangsa ini sebagian besar menghilang
dan gagal mengaktualisasikan keberadaannya di masa kini. Roh tradisi
semakin samar atau bahkan hilang sama sekali dan tidak lagi dikenali
oleh generasi muda.

"Kebanyakan orang berpikir tentang tradisi sebagai yang pernah ada dan
harus selalu ada seperti bentuknya semula. Dianggap sebagai masa lalu
yang eksotik. Ada pula yang berpikir tradisi itu bagian dari masa lalu
yang hanya dimiliki oleh orang masa lalu dan kini tak ada fungsinya.
Padahal, tradisi terus-menerus hadir dalam pergulatan sosial budaya
masa kini," kata Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Pudentia MPSS,
yang sekaligus Ketua Panitia Seminar Internasional V dan Festival
Tradisi Lisan Nusantara 2006. Acara diselenggarakan 1-4 Desember di
Jakarta oleh ATL bekerja sama dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Pudentia melihat beberapa faktor yang memengaruhi keberlanjutan
pewarisan tradisi. Dalam kehidupan di masa lalu di suatu daerah,
masyarakat pemilik tradisi memeliharanya melalui kehidupan
sehari-hari, seperti sistem adat serta cara berhubungan dengan orang
sehari-hari.

Seiring berjalannya waktu, terdapat pendidikan formal. Sayangnya, ada
kecenderungan seakan dengan bersekolah semua permasalahan pendidikan
anak sudah dapat terselesaikan. Padahal, sistem adat dan pewarisan
tradisi tidak dimasukkan di sekolah.

"Saya tidak menyalahkan sekolah karena memang penting, tetapi beberapa
hal perlu diperbaiki," katanya.

Pengaruh lain ialah pesatnya kemajuan teknologi informasi dan
komunikasi. Komunikasi yang canggih menggeser adat lama. Kalau dulu di
suatu masyarakat terdapat adat untuk berkomunikasi dengan orang yang
lebih tua atau dihormati, sekarang teknologi sudah memudahkan
semuanya, misalnya melalui pesan singkat telepon seluler.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dia berpandangan, dapat kembali
melalui sistem sekolah dan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi
informasi. Pendidikan lewat kurikulumnya dapat menjadi penyadaran.
Tanpa harus menambah jenis mata pelajaran baru, muatan pelajaran yang
ada dapat disisipkan tentang warisan tradisi lokal. "Sebagai contoh,
dalam pendidikan kewarganegaraan, siswa tidak cukup hanya belajar
tentang bentuk dan dasar negara. Akan tetapi, diajak mengenal sistem
dan struktur sosial komunitasnya," ujarnya.

Secara terpisah, Sutamat Arybowo dari Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia mengatakan, tradisi, kelisanan, dan modernitas seharusnya
dapat berjalan seiring. Sesungguhnya, dengan kelenturannya, tradisi
dapat berkompromi dalam menghadapi perubahan budaya dan masyarakatnya.
Pelaku tradisi mencoba berinovasi dan melakukan transformasi.

"Kalau tradisi itu mati, yang rugi pemilik tradisi itu sendiri karena
tradisi dan kelisanan itu menjadi acuan masyarakat, termasuk
masyarakat masa kini," ujarnya. (INE) 

Kirim email ke