Kebangsaan
Kepercayaan Diri Bangsa Rendah

Jakarta, Kompas - Ketergantungan Indonesia pada segala hal yang berbau
luar negeri sangat tinggi. Bahkan, pemerintah sendiri lebih percaya
pada konsultan asing daripada pemikiran anak bangsa, yang akhirnya
memupuskan niat berprestasi.

Antropolog dari Universitas Indonesia, Ahmad Fedyani, Minggu (26/11),
mengutarakan kondisi itu disebabkan kepercayaan diri bangsa Indonesia
rendah. Ini salah satunya disebabkan latar belakang sejarah
kolonialisme. "Karena terlalu lama dijajah, sehingga tertanam
pandangan bahwa orang asing jauh lebih unggul. Itu terbawa dalam
pembentukan kebudayaan. Contohnya, ada pandangan lulusan luar negeri
atau produk asing lebih baik. Akibatnya potensi bangsa terabaikan,"
ujarnya.

Sosiolog dari Universitas Airlangga Surabaya Hotman Siahaan
mengemukakan, disiplin, motivasi, serta sikap inovasi bangsa juga
tertinggal dibandingkan India dan Malaysia. "Sindrom sebagai bangsa
lemah, mentalitas jajahan masih membayangi. Bahkan, pada masa
reformasi pun kita masih didikte IMF," katanya.

Kondisi itu disebabkan dua hal. Pertama, secara kultural motivasi
serta disiplin kerja rendah. Kedua, secara struktural sistem hukuman
dan hadiah di wilayah sosial, politik dan ekonomi juga rendah.
"Pegawai negeri yang berprestasi adalah mereka yang loyal kepada
pimpinan, bukan karena prestasi. Yang disiplin dan jujur ditertawakan,
tetapi yang korup dibiarkan," kata Hotman.

Arus perubahan selama era reformasi, menurut kedua pakar itu, belum
banyak membuahkan hasil, kecuali perilaku politik di permukaan.
"Demokrasi belum menjadi kebudayaan yang merasuki pikiran, tata nilai,
ide, dan keyakinan bangsa," ujar Ahmad.

Demokrasi hanya muncul sebagai euforia semata. "Konflik justru sering
muncul karena ekspresi demokrasi yang keliru, dan uniknya dibiarkan.
Ini membuat kehidupan bernegara makin mundur," ujar Hotman. (JOS) 

Kirim email ke