Kiai yang tak Mau Menikah Lagi 
           
              Oleh : Ahmad Tohari 
          
                  Seorang teman yang setia mengikuti harian ini ngomel lewat 
telepon. ''Kamu jangan hanya menulis soal isu-isu besar yang biasanya 
menyangkut berbagai penyelewengan di negeri ini. Percuma! Seribu kali kamu 
menulis soal korupsi, penebangan liar, penyelundupan BBM, percaloan di DPR, 
atau impor beras yang merugikan petani, dampaknya nol! Jangan-jangan tulisan 
seperti itu hanya membuat para pelaku kejahatan tadi jadi kebal. Dan jadi lebih 
ganas!'' ''Jadi kamu ingin saya menulis apa?''
  ''Kok tanya? Tapi baiklah. Coba tulis hal-hal yang kecil di seputar kehidupan 
rumah tangga, atau apa. Pokoknya yang berwarna human interest. Aku bosan dengan 
tulisanmu tentang kejahatan korupsi. Nggak ngaruh apa-apa!''
  Saya merasa gondok juga mendengar omelan teman ini. Ah, nanti dulu. Mungkin 
dia benar. Tulisan-tulisan yang mengkritik para pelaku kejahatan korupsi memang 
tak ada apa-apanya. Atau setidaknya perlu diselingi.
 ''Baik, kawan, kali ini saya mau menulis yang lain.'' 
  Saya berpikir sebentar. ''Bagaimana  kalau saya menulis tentang seorang kiai 
kampung?''
 ''Ah, saya sudah bisa menebak isinya. Paling-paling soal kiai yang kesulitan 
mencari dana untuk membangun pondoknya. Atau tentang aliran politiknya.'' 
''Bukan kedua-duanya, melainkan tentang kesetiaan sang kiai kepada istri 
tunggalnya.''
 ''Nah, yang ini aku ingin baca. Tulislah.''
  Wah, masa iya saya harus menulis sesuatu untuk menyenangkan hati seorang 
teman? Namun karena telanjur berjanji maka kisah tentang seorang kiai kampung 
itu saya tulis juga. Dan ini benar-benar sebuah kisah nyata. Kiai tersebut 
mempimpin sebuah pondok kecil 50-an kilometer di sebelah barat rumah saya. 
Umurnya sekitar 40 tahun. Dia sudah menikah selama belasan tahun namun belum 
dikaruniai seorang anak pun. Namun tampak jelas dia tidak menyesali keadaannya. 
Anehnya malah banyak kiai lain yang menasihatinya agar menikah lagi agar dia 
bisa beroleh keturunan. Menanggapi anjuran ini sang kiai biasanya hanya 
tersenyum. Karena sikap teguhnya ini suatu saat dia diundang oleh kiai lain dan 
oleh tuan rumah dia dia dibawa berkeliling ke ke pondok-pondok putri. Selesai 
berkeliling tuan rumah mengajaknya bercakap-cakap.
  ''Bagaimana?'' tanya tuan rumah.
 ''Bagus, sekali. Pondok sampeyan rupanya cepat berkembang.''
 ''Bukan itu yang saya tanyakan,'' sambung tuan rumah. ''Sampeyan sudah 
menemukan calon yang cocok?''
 Kiai tamu yang belasan tahun belum dikaruniai anak itu terkejut, namun segera 
maklum. Rupanya dia sedang diberi kesempatan memilih calon istri kedua dari 
antara santri putri kiai tuan rumah.
 ''Bagaimana?''
 ''Alhamdulillah.''
  ''Bagus. Jadi sudah nemu? Nanti saya akan atur.''
 ''Bukan begitu. Alhamdulillah, saya tadi hanya melihat bangunan-bangunan baru 
di pondok ini, dan tidak melihat apa pun lainnya.''
 ''Ah, sampeyan ini bagaimana?''
 ''Maafkan saya. Dan tolong, biarkan saya meniru tabiat Kanjeng Nabi terhadap 
istri pertamanya.''
 ''Maksud sampeyan?''
 ''Ah, sampeyan sudah tahu. Semua kiai sudah tahu bahwa Kanjeng Nabi sangat 
mencintai istri pertamanya meskipun dia 15 tahun lebih tua dari Kanjeng Nabi 
sendiri.''
  ''Ya, tentu kami tahu itu.''
 ''Kalau begitu sampeyan pasti tahu pula bahwa karena cinta yang begitu besar, 
Kanjeng Nabi tidak menikah untuk yang kedua kali selama istri pertamanya masih 
hidup.''
 ''Ya, sampeyan benar. Dan kami tahu betul soal itu.''
 ''Alhamdulillah. Maka begitulah. Meskipun ilmuku tak seberapa, saya 
benar-benar ingin meniru sikap Kanjeng Nabi ini; tidak menikah lagi selama 
istri pertama masih hidup.''
 ''Tapi nanti dulu. Bukankah dalam ayat suci kita diperkenankan mengawini satu, 
dua, tiga, bahkan empat orang istri?''
 ''Ya, kita semua tahu dan yakin akan kebenaran ayat itu. Tapi sekali lagi, 
saya hanya ingin meniru Kanjeng Nabi karena beliaulah satu-satunya penafsir 
wahyu yang maksum. Dan nyatanya beliau hanya menikah lagi setelah istri 
pertamanya wafat.''
 Itulah cerita tentang seorang kiai kampung yang begitu setia kepada istrinya. 
Mudah-mudahan teman saya tidak ngomel lagi. 
                            

                            
                               
    
    
              
       BERITA LAIN    
                      
     •     Kerusakan Parah Hutan Lindung Merapi Capai 14,8 Hektare

    
                       
     •     BPK Perlu Usut Kejati Terkait Dugaan Korupsi Rp133,51 Miliar

    
                       
     •     Malaysia Pantau Pemilihan Kepala Daerah di Aceh

    
                       
     •     TNI Sita Ribuan Kayu Illegal di Sungai Kahayan

    
                       
     •     Kejati Kalteng Tangani 36 Perkara Korupsi dalam Tahun 2006

    
                       
     •     FUUI: Pelayanan Haji Relatif Membaik

    
                       
     •     Banten Peringati Hari Anti Korupsi Bersama Kyai dan Pendekar

    
                       
     •     350 Guru Sudah Ikuti Program Republika Telkom Peduli Pendidikan

    
                       
     •     Akhirnya Kabupaten Bandung Barat Terbentuk  

    
                       
     •     9 Tersangka Illegal Loging Ditahan di Polda Sulsel

    
                                 
          
      
                         •       Edisi Kemarin              -->          
         
     
              
     
     
                              function load() {   lebar = 
(window.screen.availWidth / 2) - 250;   tinggi = (window.screen.availHeight / 
2) - 200;   window.open('cahaya.htm', "", 
"toolbar=0,location=0,menubar=0,scrollbars=1,resizable=0,width=500,height=286,left="
 + lebar + ",top=" + tinggi);      }     -->      -->          
    
    
                
               
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=214741&kat_id=19


 __________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke