"Susundaan" JIKA sekali waktu kita mendengar seseorang berucap atau mengucapkan satu dua kata dalam bahasa Sunda dan terdengar kurang pas, tetapi kemudian kita mengetahui bahwa orang tersebut bukan orang Sunda, kita pun akan segera mafhum. Misalnya ketika saya berada di dalam angkot jurusan Cicaheum. Di sepanjang jalan Pak Sopir menawarkan jasa angkutannya kepada siapa saja yang berdiri di tepi jalan dengan cara berteriak, "Cahem! Cahem!" Seketika saya dapat memastikan bahwa pengemudi angkot tersebut "bukan orang Sunda".
Ketika baru menikah kami berkunjung ke rumah orang tua saya. Saat pulang istri saya berpamitan dalam bahasa Sunda, "Pa, abdi mulih heula"? Orang tua saya, entah tidak ngeuh, entah karena mafhum, menjawab pertanyaan tersebut seolah tidak ada sesuatu pun yang janggal. Barangkali dia memaklumi bahwa meskipun lahir dan besar di Kota Bandung, menantunya turunan "urang sebrang" yang berusaha "susundaan". Sebagai upaya untuk beradaptasi dengan lingkungannya banyak orang "bukan orang Sunda" yang berusaha keras berbicara dalam bahasa Sunda. Bahwa kemudian terdapat kekurangan di sana-sini, tentu merupakan hal yang wajar karena bahasa tersebut memang bukan bahasa mereka. Tetapi celaka jika kekurangan tersebut justru terdengar dari bibir urang Sunda, karena bisa berakibat lebih menggelikan atau malah membuat lawan bicara kita tersinggung. Suatu ketika, telefon di ruangan kerja kami berdering. "Kang, ti pun bojo", kata teman saya yang kebetulan menjawab deringan tersebut sambil menyodorkan telefon ke arah saya. Saya sempat terheran-heran, ada keperluan apa istrinya menghubungi saya lewat telefon. Tetapi yang terjadi ternyata tidak seperti yang saya pikirkan karena penelefon tersebut ternyata istri saya sendiri. Saya tersenyum geli memikirkan "kesalahan berbahasa" yang dilakukan teman saya tadi, yang pituin urang Sunda. Penggunaan bahasa Sunda oleh pituin urang Sunda dalam kenyataannya memang masih jauh dari kesempurnaan. Bahkan untuk bahasa yang paling sederhana, yang biasa digunakan di dalam percakapan sehari-hari sekalipun. Simak saja, masih banyak urang Sunda yang menyebut anggota keluarganya sendiri dengan sebutan ibu abdi, bapa abdi, raka abdi, istri abdi, dan sebagainya. Ketika ada seseorang mengetahui dan mau menggunakan kata yang benar (kata pun bojo), eh pemakaiannya yang salah. Lebih celaka lagi jika kesalahan berbahasa ini dilihat atau didengar banyak orang melalui media massa. Contohnya ketika seorang pemandu acara dari sebuah stasiun televisi swasta menemani pemirsanya "jalan-jalan" di Kota Bandung. Selama menemani pemirsanya sang pemandu menggunakan bahasa Sunda sebagai pengantar. Sayangnya, hal itu dia lakukan dengan agak "malu-malu". Di dalam ulasannya seringkali sang pemandu acara menyelipkan istilah bahasa Indonesia, walaupun padanannya di dalam hahasa Sunda sangat mudah ditemukan. Ujung-ujungnya saya khawatir, jangan-jangan suatu saat nanti, cara berbahasa kita, para pituin, akan kalah bagus dibanding saudara-saudara kita dari Jawa Tengah, Palembang, Bukit Tinggi, dan Medan. (Karya Gunawan/"PR")***
