Ironi Soal Beras

HAMPIR 25 tahun, Wahyudin berprofesi sebagai petani. Lahan sawah
seluas 0,5 ha, di Cibalong, Kab. Tasikmalaya, dijadikan sandaran untuk
memenuhi kebutuhan makan anggota keluarganya. Ketika iklim bersahabat,
ia bisa mengolah lahannya hingga tiga kali dalam setahun.

Namun untuk tahun 2006 ini, Wahyudin hanya bisa mengolah sawah dua
kali. Tapi, panen yang kedua pada bulan Juli, tidak membuahkan hasil.
Lahan sawahnya kekeringan, sehingga hanya sebagian padinya bisa
dipetik. Setelah itu, sawah warisan itu, dibiarkan kosong hingga sekarang.

Karena kekeringan ini, sudah tiga bulan ke belakang, keluarga petani
ini terpaksa beli beras ke warung. Petani ini sekali lagi beli beras.
Ternyata bukan Wahyudin yang akhirnya beli beras juga. Tapi, tetangga
atau rekan lainnya, sesama petani juga beli beras. Karena lahan mereka
kering.

Kini kehidupan para petani yang ada di pedesaan ini semakin tertekan,
karena harga beras semakin tinggi. Petani yang mestinya menyuplai
beras, justru juga konsumen beras. Sehingga permintaan beras semakin
tinggi.

Begitu juga warga kaum miskin yang ada di perkotaan Tasikmalaya, yang
sudah lama meninggalkan usaha pertanian, sudah lama menjadi konsumen
beras. Kini mereka juga tertekan dengan harga beras yang sudah
mencapai lebih dari Rp 5.200,00 per kg-nya. Kemampuan untuk beli beras
semakin jauh dari kehidupan mereka.

Seperti pemantauan Ketua Komisi B DPRD Kota Tasikmalaya Ade Ruhimat,
masyarakat pinggiran di kota, adalah kelompok paling tertekan dengan
harga beras sekarang. Pendapatan mereka dari usaha menarik becak, atau
pemulung, semakin jauh untuk menjangkau harga beras. Perut mereka
semakin tipis, karena yang biasa dua atau tiga kali sehari makan,
sekarang rata-rata hanya satu kali makan.

Jika harga beras ini, terus melambung tinggi, bukan tidak mungkin
bencana kelaparan yang akan terjadi. Padahal jumlah kaum pinggiran
ini, cukup banyak. Sayangnya, operasi pasar yang mestinya cepat
dilakukan, ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Sementara perut ribuan orang semakin keroncongan. Tentu kita tidak
berharap, karena masalah beras, muncul gelombang masalah sosial
lainnya. Apakah itu kerusuhan, penjarahan atau lainnya, untuk memenuhi
perut yang lapar. Toh, perut lapar dekat dengan emosi. Makanya, cepat
tangani masalah beras. Rakyat sudah tidak peduli lagi, apakah beras
itu dari impor atau lainnya. Hal penting, beras yang ada tersedia
murah atau bisa dijangkau.

Memang ini sebuah ironi yang menyakitkan. Di sebuah daerah pedesaan
atau pertanian yang selama ini dibangga-banggakan, ternyata
masyarakatnya semakin sulit untuk mendapatkan hasil pertanian beras.
Ibarat tikus, harus mati di lumbung padi. (Undang Sudrajat/pr)***

Kirim email ke