Malapetaka

Jakob Sumardjo

Menjadi rakyat di Indonesia adalah menjadi obyek bulan-bulanan
kekuasaan di segala lini. Mereka yang memiliki otoritas untuk
memutuskan suatu tindakan yang akan menimpa banyak orang, itulah
kekuasaan itu. Otoritas semacam itu ada di semua tingkat dan semua
tempat hajat orang banyak, baik yang tetap maupun aksidental.

Sejarawan Australia, MC Ricklefs, menyatakan, "Di sebuah negeri yang
menunjukkan adanya kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, dan
tradisi-tradisi otoriter, banyak yang bergantung pada kearifan dan
nasib baik kepemimpinan Indonesia. Sejarah bangsa Indonesia sejak 1950
sebagian merupakan kisah kegagalan berbagai kelompok pimpinan secara
berturut-turut."

Rakyat sebagai obyek

Menjadi pemimpin di Indonesia, di bidang apa pun dan di tingkat mana
pun, adalah pengemban tugas berat, justru karena rakyatnya yang
miskin, kurang pendidikan, dan tradisi berpikir "bapak selalu benar".
Mereka yang menduduki jabatan kepala negara sampai kepala bagian di
kantor adalah bapak yang selalu benar. Mereka adalah panutan dan
teladan dalam aktualisasi kepemimpinan.

Rakyat dan orang banyak memercayai para pemimpin dan ketuanya karena
prinsip kebenaran, kesungguhan, keahlian, keberanian, pengorbanan, dan
mendahulukan kepentingan orang banyak daripada diri sendiri. Mereka
pantang selamat sebelum yang dipimpinnya selamat, pantang kaya sebelum
rakyatnya kaya.

Lihatlah para pemimpin kita di zaman kolonial yang ingin membebaskan
rakyatnya dari penjajahan. Mereka rela dipenjara sebelum rakyatnya
merdeka dari penjajahan, kemiskinan, dan kebodohan. Sampai tua pun,
setelah Indonesia merdeka, mereka pantang kaya, seperti diperlihatkan
Bung Hatta, Bung Syahrir, Haji Agus Salim, dan Ki Hajar Dewantoro.
Mereka berpikir untuk rakyat, tidak memikirkan diri dan keluarganya.

Sejak 1950, setelah kemerdekaan, kisah kegagalan demi kegagalan
dipertontonkan para pemimpin Indonesia. Dengan kedok "atas nama
rakyat" mereka rakus mengurus diri sendiri. Rakyat menjadi mainan.
Hajat orang banyak hanya berhenti pada kata-kata. Kekuasaan hanya
dilihat sebagai kue raksasa yang nikmat untuk dibagi dan diperebutkan.
Rakyat hanya pelengkap, bukan subyek kalimat lagi. Rakyat hanya
bulan-bulanan para pemimpinnya.

Pemimpin idaman Indonesia adalah manunggaling kawula-Gusti, menyatunya
yang dipimpin dan pemimpin. Pemimpin menjadikan diri sebagai yang
dipimpin. Bagaimana wali kota mampu menertibkan pedagang kaki lima
jika tidak pernah menjadikan dirinya pedagang kaki lima. Di sini
subyek menjadi subyek rakyat. Wali kota menjadi rakyat untuk dapat
memimpin rakyatnya. Derita dan tangis rakyatnya adalah derita dan
tangisnya sendiri, tangis keluarganya.

Harus mati-matian

Malapetaka demi malapetaka, bencana demi bencana, akhir-akhir ini yang
menimpa banyak rakyat, hanya dipandang sebagai "yang lain", bukan
bagian dari aku. Karena sebagai "lain", maka hanya obyek belaka.
Tangis mereka bukan tangis keluarga saya. Saya tahu mereka menderita,
tetapi tidak cukup merasakan penderitaan mereka. Itu sebabnya
penyelesaiannya cukup dengan menghitung statistika. Berapa yang mati,
berapa yang luka, berapa banyak rupiah harus dikeluarkan. Jika
hitungannya telah ditetapkan, lenyaplah penderitaan rakyat itu.

Memimpin Indonesia tidak dapat dibaca dari buku-buku. Memimpin
Indonesia adalah memimpin manusia-manusia Indonesia seperti
digambarkan Profesor Ricklefs di atas. Rakyat adalah manusia, bukan
gerombolan makhluk hidup yang bisa dinaikkan ke atas truk lalu
dipindah ke sana kemari. Rakyat yang miskin, kurang pendidikan, adalah
rakyat dengan penderitaannya sendiri, memercayai mereka yang ditunjuk
sebagai pemimpin.

Jika anak adalah titipan Tuhan kepada orangtuanya, maka rakyat adalah
titipan Tuhan bagi para pemimpinnya. Jika Anda dapat menderita saat
anak-anak Anda menderita, mengapa Anda tidak mampu menderita ketika
rakyat Anda menderita?

Memimpin Indonesia yang plural dan besar mungkin lebih berat dan lebih
rumit dari negara dan bangsa mana pun. Memimpin di Indonesia tidak
dapat sembrono, sambil lalu, amatiran. Kerja keras saja tidak cukup,
harus mati-matian. Bangsa sebesar ini dan tanah seluas ini harus
dikenal sebagai mengenal telapak tangan sendiri. Indonesia adalah
Anda. Rakyat adalah Anda. Menduduki jabatan pemimpin di mana pun di
Indonesia adalah amanah yang nyata, bukan sekadar jargon politik.
Bagaimana Anda akan mengangkat kemiskinan mereka? Bagaimana memberi
pekerjaan kepada mereka? Bagaimana menyelamatkan mereka dari bencana?

Jika penanganan bencana dan malapetaka kian buruk, jika jumlah
pengangguran kian besar, jika busung lapar tak kunjung lenyap, jika
kejahatan kian meningkat, jika rasa aman semakin tipis, lantas siapa
yang harus bertanggung jawab? Siapa yang berani bertanggung jawab atas
malapetaka nasional ini?

Tidak pernah seorang pemimpin yang pernah berkuasa mengakui
ketidakberhasilannya dan meminta maaf kepada rakyatnya. Semua
pemimpin, dari kepala negara hingga kepala desa, mengaku dirinya telah
berbuat benar untuk rakyat meski hasilnya statistik yang kian menurun.
Harga rupiah jatuh dari tahun ke tahun. Itukah kesalahan rakyat? Harga
beras tiga tahun lalu sekitar Rp 2.500, kini sekitar Rp 6.000. Inikah
keberhasilan?

Krisis Indonesia adalah krisis para pemimpinnya. Berbagai jabatan
mahaberat hanya dilihat segi flamboyannya, seolah tak kalah dengan
para pemimpin negara super power. Mereka bukan Agus Salim yang masih
mengontrak rumah meski berkali-kali jadi menteri.

Jakob Sumardjo Esais 

Kirim email ke