Kelompok Poso Hanya Pelaksana Lapangan

Mereka Diatur dan Dikendalikan dari Jawa

Poso, Kompas 

- Pihak kepolisian menduga kelompok bersenjata di Poso tidak berdiri
sendiri dan hanya sebagai pelaksana di lapangan. Disinyalir, kelompok
itu diatur dan dikendalikan kelompok lain di luar Poso.

"Kami mensinyalir ada operator yang mengatur mereka semua. Ada yang
dari Semarang atau dari daerah lainnya di Jawa. Kan jadi pertanyaan,
untuk apa mereka datang jauh-jauh ke Poso?" kata Kepala Kepolisian
Daerah Sulawesi Tengah Brigjen (Pol) Badrodin Haiti seusai pertemuan
di Markas Kepolisian Resor Poso, Rabu (24/1).

Pertemuan tertutup yang dihadiri Sekretaris Menko Polhukam Agustadi
Sasongko Purnomo, Inspektur Pengawasan Umum Mabes Polri Komisaris
Jenderal Yusuf Manggabarani, Kepala Operasional Mabes Polri Brigjen
(Pol) Guntur Aryadi, Gubernur Sulteng HB Paliudju, Kepala Kejaksaan
Tinggi Sulteng Hamzah Tadja, Bupati Poso Piet Inkiriwang, dan Komandan
Korem 132/Tadulako Kolonel (Inf) Husein Malik itu dimaksudkan untuk
membahas persoalan keamanan di Poso pascabentrok aparat-masyarakat
Senin lalu.

Agustadi menegaskan, pemerintah pusat tetap mendukung penegakan hukum
di Poso. Keresahan warga atas insiden tembak-menembak dapat dimaklumi.
"Memang penegakan hukum di Poso cukup kompleks dan dilematis. Di satu
sisi, masyarakat menginginkan Poso aman dan damai. Di sisi lain, masih
ada kelompok bersenjata yang bersembunyi di tengah-tengah masyarakat,"
katanya.

Sementara itu, Menko Polhukam Widodo AS meminta temuan senjata di Poso
segera ditindaklanjuti dengan langkah-langkah serius.

Di Jakarta, Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Makbul Padmanagara
menegaskan, warga yang tewas dalam insiden tembak-menembak Senin lalu
adalah orang-orang yang masuk daftar pencarian orang atau mereka yang
membantu kelompok itu.

Pernyataan ini dimaksudkan untuk mengklarifikasi berbagai pernyataan
dan protes yang menuding Polri berlaku sewenang- wenang dan melanggar
HAM dalam menangani konflik di Poso.

Berbagai reaksi atas insiden di Poso Senin lalu memang bermunculan.
Pengurus Besar Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), misalnya,
menyesalkan penggunaan kekerasan di Poso. Perlawanan masyarakat,
menurut GPMI, merupakan reaksi atas ketidakadilan yang mereka rasakan.
Ini sebab polisi sangat antusias memburu para buronan, tetapi tidak
serius memasukkan 16 pelaku teror di Poso yang sudah disebut-sebut
Tibo dan kawan-kawan di pengadilan.

Untuk kemungkinan pelanggaran HAM, Komnas HAM dalam waktu dekat akan
mengirim tim ke Poso. Komisi III DPR juga akan meninjau
lapangan.(REI/AMR/HAR/DWA/ ANA/NWO/SUT) 

Kirim email ke