Neraka Amerika
Oleh M. Guntur Romli
29/01/2007

Dengan strategi barunya, Bush tampaknya telah menciptakan neraka bagi
dirinya sendiri di dalam negeri. Ia akan terus jadi bulan-bulanan dan
kecaman rakyat AS dan juga Parlemen. Sementara Iraq, ia tetap menjadi
neraka sesusungguhnya bagi pasukan Amerika. 

Hati-hati! Presiden Amerika Serikat, Goerge W Bush sedang kalap. Ia
tak lagi mendengar kritik rakyatnya sendiri. Pun dari para anggota
kubu Demokrat di ruang Parlemen. Bush tetap bersikeras menambah jumlah
pasukan AS di Iraq. Inilah strategi baru Bush di Iraq yang
ditunggu-tunggu; sebuah strategi untuk menggali kuburan pasukan AS
sendiri.

Sekitar 21 ribu personel akan ditambahkan sebagai realisasi kebijakan
Bush itu. Padahal dari awal invasi AS ke Iraq tahun 2003 hingga awal
tahun 2007, lebih dari 3000 tentara AS tewas. Berarti tak kurang 19
orang mati dalam sehari.

Nasib Iraq sebetulnya terletak di tangan rakyat Iraq sendiri. Pemilu
telah digelar, pemerintah demokratis telah diangkat, dan penegakan
hukum mulai dilaksanakan. Kondisi umum Irak saat ini pun sebenarnya
jauh lebih baik dari zaman Saddam. Namun titik lemah yang sangat fatal
ada pada masalah keamanan.

Iraq saat ini adalah panggung perang saudara. Sesama saudara, satu
agama, etnik dan bangsa, saling tikam karena perbedaan kepentingan
politik. Bagaimana menjelaskan perseteruan Sunni dan Syiah, padahal
mereka sama-sama beragama Islam dan satu etnik? Masing-masing kelompok
punya milisi-milisi bersenjata. Pemerintah yang baru diangkat, yang
berasal dari koalisi kelompok mayoritas, Syiah dan Kurdi, tak mampu
menghentikan kekerasan milisi-milisi itu, apalagi membendung bom bunuh
diri.

Perdana Menteri Iraq saat ini, Nouri al-Maliki, adalah orang Syiah.
Sementara milisi yang paling getol menolak Amerika, yaitu Milisi Mahdi
pimpinan Moqtada Shadr, juga dari Syiah. Sedangkan Presiden Iraq,
yaitu Jalal Talabani, meski berasal dari suku Kurdi, namun tetap Sunni.

Walau hingga detik ini mereka belum mampu memulihkan keamanan, namun
mereka punya legitimasi dan modal besar untuk melakukan negodiasi dan
diplomasi dengan kelompok-kelompok oposisi. Tugas Bush dan pasukan
koalisi, mestinya memperkuat dan membantu mereka, bukan malah menambah
pasukan asing di negeri Iraq. Dengan begitu, tak muncul kesan bahwa AS
ingin memperkuat pengaruhnya dari dalam Iraq. Padahal tuntutan dunia
saat ini tak lain agar AS segera hengkang dari Iraq.

Memang tak ada jaminan kalau pasukan AS keluar dari Iraq, persoalan
akan selesai. Kita bisa bercermin dari kasus Mujahidin Afghanistan.
Setelah mereka sukses mengusir tentara Uni Soviet, mereka malah
berperang dengan saudara sendiri. Perang Saudara di Iraq saat ini
diprediksi akan memakan waktu lama. Namun solusinya ada pada rakyat
Iraq sendiri. Campur tangan asing seperti yang diperagakan AS justru
akan menambah kobaran api konflik.

Bagi saya, strategi baru Bush di Iraq tak hanya terkait soal keamanan
domenstik Iraq, namun juga terkait dengan ekskalasi ketegangan di
Timur Tengah antara AS sendiri dengan Iran-Suriah. Dengan menambah
pasukan di Iraq, AS berharap pengaruhnya makin kuat demi menggunting
pengaruh Iran dan Suriah yang dituding berada di balik aksi-aksi
kekerasan di Iraq.

Tanpa disadari, strategi baru Bush itu ikut memperluar medan konflik,
tak hanya untuk menghadapi milisi dalam negeri Iraq, namun juga dua
negara yang sudah disebutnya 'poros kejahatan'. Dengan peta seperti
ini, Iraq hanya menjadi medan tempur yang sebenarnya tidak berhubungan
sama sekali dengan kepentingan negeri itu.

Dengan strategi barunya, Bush tampaknya telah menciptakan neraka bagi
dirinya sendiri di dalam negeri. Ia akan terus jadi bulan-bulanan dan
kecaman rakyat AS dan juga Parlemen. Sementara Iraq, ia tetap menjadi
neraka sesusungguhnya bagi pasukan Amerika. 

Kirim email ke