Di lembur kuring aya ngaran tempat Cibudug, Sarkanjut (Kec Leles - Leuwigoong ? - Garut), Jereged (Kadungora - Garut). Tah tempat-tempat eta teh bejana geus diganti ngaranna jadi ... (poho deui ngaran gantina mah asana ditungtungan ku kecap resmi, sari). Ari alesana mah cenah eta ngaran tempat teh rada-rada jorang (Sarkanjut) jeung matak rujit (Cibudug, Jereged).
Baktos, Dadi. ----- Pesan Asli ---- Dari: Rahman <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Minggu, 13 Mei, 2007 12:05:33 Topik: [Baraya_Sunda] perkara ngaran! Jangan Sembarangan Mengubah Nama Tempat! Oleh T. BACHTIAR KEGILAAN apa yang sedang terjadi di Indonesia, sampai-sampai di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, ada tempat bernama San Diego Hill? Demikian juga di berbagai tempat di republik ini. Ada guncangan kejiwaan apa sehingga banyak orang mengganti nama-nama geografi yang sudah ada dengan nama-nama baru yang tidak terkait dengan peristiwa alam, sejarah, dan budaya di tempat itu? Dan, tentu pertanyaannya, masih adakah pemerintahan di sana? Bagaimana prosesnya sehingga menjelma berbagai nama kawasan yang tidak menggambarkan ciri bumi, sosial-budaya masyarakat, dan sejarahnya itu? Di mana pun, ada dua hal yang melekat dengan kelahiran manusia, pertama adalah nama diri yang diberikan, dan tempat lahir yang melekat pada nama diri itu. Dengan nama diri itulah sesungguhnya mulai terjalin komunikasi antara dua generasi. Kedua nama itu akan melekat terus sampai individu meninggal dan dipakai untuk identitas diri, tertulis dalam berbagai kartu identitas, atau keduanya disatukan menjadi nama diri, seperti Nawawi Al Bantani, Salman Al Parisi, dan sebagainya. Nama geografi seperti nama sungai, bukit, gunung, lembah, pulau, teluk, laut, selat, nama desa/kampung, dan sebagainya bertujuan untuk memberikan acuan serta untuk sarana komunikasi sesama anggota masyarakat. Nama tempat pun mencerminkan perjalanan hidup penghuninya dan perjalanan sejarah tempat itu sendiri. Dari kata bukit misalnya, kita dapat menelusuri bagaimana manusia bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Kata puke yang berasal dari bahasa di Polinesia, misalnya, ketika sampai di Thailand berubah lafalnya menjadi phuket, kemudian berubah menjadi buket ketika sampai di Malaysia, dan berubah menjadi bukit sesampainya di Indonesia. Penamaan sungai pun dapat menjadi ciri dari mana orang yang menamainya itu berasal. Di Lampung, sungai disebut wai, seperti Wai Seputih. Di Jawa Barat disebut cai atau ci, seperti Ci Tarum. Wai untuk suku Maori dan Hawaii artinya air dan wai di Tahiti berubah menjadi ai. Nama-nama generik geografi menarik untuk dipelajari karena dari nama generik itu dapat ditelusuri suku bangsa yang pertama kali mendiami wilayah tersebut karena akan menamai atau menyebut nama geografik itu dengan bahasanya. Kita bisa memahami bagaimana daya jelajah masyarakat Bugis di nusantara, misalnya. Jadi, nama-nama geografi itu tidak sekadar nama tanpa makna, tetapi menyimpan sejarah panjang dari kebudayaan manusia. Nama geografi yang diberikan itu bisa berdasarkan pada apa yang dilihatnya, seperti pepohonan atau buah-buahan yang dominan atau langka di wilayah tersebut, seperti tanjung yang ditumbuhi pohon nangka, maka dinamai Bojongnangka (karena bojong sama artinya dengan tanjung bagi masyarakat Sunda. Atau, saat membabad alas di sekitar Batujajar sekarang, di bukit batu itu tumbuh terselip sebatang pohon pisang, maka tempat itu dinamai Selacau, artinya pohon pisang yang terselip di antara bebatuan. Sadar atau tidak, saat ini sedang terjadi upaya untuk menghilangkan nama-nama asli dengan seenaknya, padahal untuk memberi nama tempat yang belum memiliki nama, misalnya, secara internasional sudah ada ketentuannya, seperti yang tertera dalam Resolusi UN Conference on Standardization of Geographical Names (UN-CSGN) tentang Kegiatan Penamaan dan Standardisasi Unsur-unsur Geografi. Resolusi ini di antaranya memberikan arahan dalam pekerjaan lapangan tentang tata cara menamai suatu tempat, di antaranya melalui wawancara dengan penduduk setempat, minimal dengan dua orang yang tidak saling berhubungan/ tergantung satu sama lain, kemudian dicatat ucapannya, direkam dalam tape agar ucapannya (fonetiknya) benar dan ditranskripsi dengan tepat menjadi bahasa tulisan tanpa mengubah bunyinya, kemudian dicatat posisi geografinya, dan seterusnya. Ketika para politisi dan pemerintahan di negara lain sibuk memikirkan agar nama-nama geografi di sekitar negaranya kembali ke nama-nama asli yang menguntungkan negaranya, di Indonesia justru memberikan izin penggantian nama-nama geografi dengan nama-nama yang sama sekali tak terkait dengan alam dan sistem nilai setempat. Mungkin masih ingat bagaimana Korea Selatan memprotes agar nama laut antara Semenanjung Korea dan Jepang yang saat ini bernama Laut Jepang dikembalikan ke nama asli yang pernah disebut pada abad ke-11 sebagai Laut Timur. Katanya, Jepang mengganti nama Laut Timur menjadi Laut Jepang ketika Jepang menjajah Korea sebelum Perang Dunia ke-2. Bulgaria pun pernah melangsungkan protes terhadap Turki ketika negara itu menerbitkan peta kawasan Balkan dengan nama-nama geografi dalam bahasa Turki masa Kerajaan Ottoman. India pun protes ketika Tibet dimasukkan ke dalam peta Cina. Demikian juga protes terus berlangsung atas gugusan pulau-pulau Spratly yang diklaim oleh Cina, Filipina, dan Vietnam, yang mengganti nama-nama pulau di gugusan itu menurut nama-nama dalam bahasa negara yang mengklaimnya. Protes masyarakat dunia pun pernah ditujukan kepada Indonesia ketika mengganti nama Indian Ocean menjadi Samudra Indonesia dan mengganti Malacca Strait menjadi Selat Sumatra. Di sini akan diperlihatkan bahwa nama-nama tempat itu terkait dengan peristiwa alam, kemudian akan diperlihatkan pula nama tempat yang berlatar peristiwa sejarah. Nama-nama tempat di Cekungan Bandung dapat dijadikan contoh, betapa banyaknya nama tempat yang terkait dengan ciri bumi sebagai kawasan berair. Sebab pada mulanya, Cekungan Bandung berupa danau purba sebelum mengering seperti sekarang, sebelum diserbu pendatang dari berbagai penjuru dunia. Di Cekungan Bandung, ada tempat bernama Cinambo di selatan Ujungberung dan Nambo di Dayeuhkolot. Kata nambo kurang atau bahkan tidak dikenal oleh masyarakat Priangan. Nambo berarti dasar sungai tua yang sudah ditinggalkan. Artinya, sungainya sudah berpindah aliran. Jadi nama tempat yang memakai kata nambo, pastilah daerahnya lebih rendah dari tempat di sekitarnya. Kalau paham akan artinya, sangat wajar bila kawasan yang memakai kata nambo akan tergenang bila terjadi hujan lebat karena memang asalnya berupa dasar sungai. Namun ada kesalahan penamaan oleh orang yang tidak mengetahui arti kata nambo sehingga nambo digunakan juga untuk menamai sungai yang melewati kawasan nambo, maka sungai itu disebut Ci Nambo. Padahal, sungai yang masih normal menjalankan fungsinya tidak bisa disebut nambo. Penduduk Cekungan Bandung tempo dulu memberi nama geografi itu tidak sembarangan, namun sangat terkait dengan peristiwa alam dan budaya di sekitarnya. Selain nambo, masih banyak lagi kawasan yang berciri bumi setempat. Untuk contoh, telah ditelusuri sembilan lembar peta Rupa Bumi sekala 1 : 25.000 yang diterbitkan Bakosurtanal edisi I tahun 1999, yaitu: Lembar Soreang, Lembar Cimahi, Lembar Majalaya, Lembar Pakutandang, Lembar Cicalengka, Lembar Pasirjambu, Lembar Bandung, Lembar Ujungberung, dan Lembar Lembang, akan ditemui sedikitnya 18 tempat yang memakai kata situ, seperti: Babakansitu, Bloksitu, Cisitu, dst. Sebanyak 14 tempat menggunakan kata tanjung, seperti: Babakantanjung, Bojongtanjung, Curugtanjung, dst. Ada 96 tempat yang memakai kata ranca, seperti: Rancabadak, Rancabango, Rancabaraya, dst. Sedikitnya ada 80 nama tempat memakai kata bojong, seperti: Bojong, Bobojong, Bojongasem, dst. Serta ada beberapa nama geografi yang berciri bumi berair, tetapi sedikit dipakai, seperti: ancol yang artinya tanjung atau bojong (Ancol), empang artinya situ (Empangbagus, Empangpojok) , rawa artinya situ (Rawapojok, Rawatengah), beber artinya air atau sungai yang lajunya sedikit tertahan karena kontur lahannya sedikit meninggi (Cibeber), teluk artinya bagian air yang menjorok ke darat (Telukbuyung) , bantar artinya bagian sungai yang dangkal dan rata (Bantargedang, Bantarsari), dan dano artinya situ (Dano, Babakandano) . Berikut ini akan diperlihatkan bahwa nama geografi juga mempunyai latar belakang sejarah. Adanya kawasan bernama Lembong di Bandung, tidak terlepas dari sejarah awal perkembangan kota ini, sejak kepindahannya dari Karapyak di Dayeuhkolot ke tempat yang sekarang pada awal abad ke-19. Pada tahun-tahun 1809, Gubernur Jenderal Daendels membangun jalan raya pos. Setelah menancapkan patok di satu tempat yang kini menjadi kilometer nol di Bandung, Daendels berkata, "Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota." Sejak itulah sekitar kawasan ini kekayuan dan semak belukarnya dibabad dibersihkan, dibenahi, hingga lembong. Dalam bahasa Sunda, lembong berarti sudah bersih, seperti dapat dilihat dalam contoh kalimat, "Sudah lembong kebunnya", "Sudah lembong halaman rumahnya". Tempat yang asalnya penuh kekayuan, rungkun, dan semak belukar itu sudah dibersihkan, sudah lembong. Sangat mungkin sejak itulah kawasan ini oleh masyarakat disebut Lembong hingga sekarang, bahkan diabadikan dalam nama jalan, kira-kira 100 meter sebelah timur tempat Daendels menancapkan patoknya. Di atas diperlihatkan bahwa nama-nama geografi, yang bila ditelusuri arti nama-nama itu di dalamnya banyak tersimpan pelajaran. Kalau sebegitu pentingnya nama-nama lokal itu untuk penelusuran kebudayaan, sejarah, dan karakteristik alam, bahkan dapat menjaga keutuhan suatu wilayah negara, mengapa pemerintah sebagai pengatur memberikan izin untuk semua kekacauan pemberian nama-nama tempat saat ini?*** Penulis, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung. ________________________________________________________ Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! http://id.yahoo.com/ [Non-text portions of this message have been removed]
