Andreas Harsono:
Agama Saya Adalah Jurnalisme
14/05/2007

Saya melihat, semua negara yang menyatu dengan agama tidak ada yang
beres. Anda bisa perhatikan itu di tingkat dunia. Misalnya Afganistan,
Pakistan, Arab Saudi, Iran, dan lainnya. Persoalan yang muncul selalu
soal minoritas. Dalam suatu negara, selalu ada banyak agama minoritas.
Nah, isunya adalah bagaimana memperlakukan mereka kalau salah satu
agama dijadikan dasar bernegara. Saat itu juga akan ada agama lain
yang menjadi kelas dua. 

Saya percaya bahwa jurnalisme sangat berguna untuk kebaikan
masyarakat. Kalau masih ditanya juga soal apa agama saya, saya akan
jawab: agama saya adalah jurnalisme. Demikian pernyataan Andreas
Harsono, Direktur Pantau, kepada Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) di
Kantor Berita Radio 68H Jakarta, Kamis (3/5) lalu.

Mas Andreas, bagaimana sosialisasi keberagamaan Anda di masa kecil?

Saya lahir dari keluarga Tionghoa di kota Jember, sebuah kota
perkebunan tembakau. Orang sana dapat duit dari tembakau. Mayoritas
penduduknya campuran Jawa-Madura, dan mereka pengikut NU. Saya
termasuk generasi ketiga keluarga yang hidup di sana. Sejarahnya,
engkong dan emak saya datang dari sebelah selatan Tiongkok, di daerah
dekat Guang Dong. Seperti kebanyakan orang Tionghoa, kami dibesarkan
dalam agama Konghucu. Jadi, saya tahu ada kelenteng, ada Lian Long di
Jember.

Pada tahun 1971, waktu saya masih kecil, pernah ada pertunjukan Lian
Long yang besar sekali. Kebetulan, ayah saya adalah ketua panitianya.
Nah, saya besar dalam situasi perubahan karena lahir tahun 1965.
Namun, pelan-pelan suasana itu makin lama makin sulit. Sebab agama
Konghucu dulunya adalah agama yang tidak diakui pemerintah. Kelenteng
kami harus diganti vihara.

Apa implikasi dari tidak adanya pengakuan terhadap agama Konghucu itu?

Nama harus diganti dengan nama Indonesia. Itu peraturan pemerintah
yang menetapkan bahwa semua orang Tionghoa harus diganti namanya. Nama
saya dulunya adalah Ong Tjie Liang. Waktu itu kita susah juga;
bagaimana nama harus diganti? Ayah saya lalu pergi ke seorang guru
yang diaggap baik di Jember. Beliau mengusulkan nama ayah diganti jadi
Harsono.

Sementara ibu saya, karena tidak bebas memilih agama, dan kebetulan
punya pengaruh Kristen dari keluarganya, memilih masuk gereja. Ibu
memang lebih religius daripada ayah. Dia memilih Kristen sebagai
agamanya. Kemudian, anak-anaknya diberi nama-nama Kristen semua. Saya
dapat nama Andreas. Konon, Andreas itu nama salah satu muridnya Yesus.

Tampaknya ada banyak akal untuk menyiasati hambatan negara terhadap
kebebasan beragama. Trik-trik apa yang dilakukan keluarga Anda untuk
mengungkapkan ekspresi keberagamaan?

Ya, pragmatis saja. Yang penting selamat. Kita tidak mungkin melawan
negara yang begitu besar ini. Kita juga sadar bahwa kita adalah
minoritas kecil. Mempertahankan Konghucu sebagai agama untuk dianut,
ya tidak mungkin. Jadi, ya pindah agama lain. Memang ada juga yang
mempertahankan Konghucu secara diam-diam. Mereka sebenarnya cukup
banyak. Tapi, ya tetap sulit; sama sulitnya dengan belajar bahasa
Mandarin. Orang akan sulit belajar agama Konghucu kalau belajar
bahasanya saja juga dilarang. Akhirnya, kemampuan berbahasa itu hilang.

Sekarang, ketika sudah dewasa, saya bertanya Kwan Kong itu siapa, ya?
Saya pernah ingat tiga dewa perang; Kwan Kong, Chang Fe, sama satu
lagi, saya lupa. Sebetulnya, ada keinginan untuk tahu siapa dewa-dewa
tersebut. Tapi karena tidak pernah belajar, tidak pernah tahu, tidak
pernah bisa membaca kitab-kitab keagamaan, jadinya tidak tahu. Anda
bisa bayangkan bagaimana hidup dalam sebuah negara di mana Islam bukan
agama yang diakui negara. Mungkin saja, Anda tak bisa membaca Alquran,
tidak boleh tahu cerita Nabi Muhamad, dan lain sebagainya. Anda bisa
bayangkan itu. Sebab, melawan berarti melanggar hukum.

Di tengah hambatan-hambatan seperti itu, Anda hidup dan berkembang
dalam agama apa?

Campur-campur. Saya masuk sekolah Katolik. Di sekolah Katolik itu ada
pelajaran agamanya. Memang, sebenarnya ada maksud dari mereka agar
kita masuk Katolik. Mama saya masuk Kristen Protestan. Dia masuk ke
Kie Tok Kauw Tjong Hwee. Itu gereja Jawa-Tionghoa. Sekarang namanya
GKT (Gereja Kritus Tuhan). Saya juga dikirim ke sana. Mereka baik-baik
karena dalam kehidupan bermasyarakat selalu terjadi interaksi.

Tapi kehidupan mama saya kurang baik. Dia sering bertengkar dengan
papa, dan akhirnya bercerai. Tetapi sebelum bercerai, saya sempat
dekat dengan dua orang pegawai papa; satu di toko, yang lain di rumah.
Dua-duanya orang Madura. Satunya bernama Syafe'i, dan satunya lagi
Mbok Wi atau Mbok Sarkawi. Itu karena anaknya bernama Sarkawi. Jadi,
Mbok Wi itulah yang sebenarnya membesarkan saya. Saya sering tidur di
rumahnya, dan dia juga sering membawa saya ke pesantren. Jadi nggak
keruan, campur-campur semua. Tapi semua saya ikuti.

Anda juga coba mengenal lingkungan yang dominan Islam tradisional, ya?

O, ya. Saya bisa bahasa Madura, bahasa Jawa, sedikit Mandarin. Kaum
minoritas yang tertindas di mana-mana di seluruh dunia, baik Yahudi,
orang Jawa di Suriname, atau orang hitam, selalu harus fleksibel dan
mesti belajar sebanyak mungkin dari masyarakat sekelilingnya.

Tapi tak mungkin menanamkan keyakinan agama yang betul-betul ketat, ya?

Nggak juga. Saya belakangan sadar bahwa kita tetap bisa belajar agama
apapun sebanyak mungkin. Tidak hanya satu. Dan itu menurut saya lebih
baik. Untuk anak kecil, dia bisa melihat sendiri. Akhirnya, dia bisa
memilih sendiri. Sampai sekarang, saya selalu merasa senang kalau
melihat orang salat sendiri dengan syahdu, atau zikir sendirian. It's
beautiful! Saya belajar banyak hal dari itu.

Ketika kuliah, saya mulai belajar soal kemanusiaan, filsafat, belajar
Sokrates, belajar Plato, dan lain-lain. Saya juga sempat kuliah di
Universitas Harvard. Salah satu mata kuliah di sana yang saya sukai
adalah soal justice. Dan sejak saat itu, saya berpikir bahwa ada yang
namanya kemanusiaan.

Kapan Anda keluar Jember dan melihat dunia luar yang lebih beragam?

Saya tinggal di Jember sampai umur 15 tahun. Saat SMA, saya dikirim ke
kota Malang. Di sana saya sekolah di sekolah Katolik lagi. Namanya
SMAK Sint. Albertus; sebuah sekolah tua dari zaman Belanda. Setelah
itu saya kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Nah, ini
sekolahan Protestan. Tapi waktu itu, dosennya bagus-bagus. Ada Arief
Budiman, George Aditjondro, Ariel Hariyanto, Nico L. Kana, Richard
Hutapea. Ada juga Pendeta Sutarno yang sangat renaissance dan Pendeta
Probo yang mendirikan Parkindo (Partai Kristen Indonesia, Red)
bersama-sama dengan Hatta saat di Belanda.

Kalau dipikir-pikir lagi, apakah agama masih penting buat Anda?

Untuk pribadi, saya kira masih penting. Tapi untuk negara, tentu tidak
penting. Saya kira, negara tidak perlu ikut campur urusan agama
warganya. Harus ada pemisahan yang jelas. Negara hanya berkewajiban
mengurusi kebutuhan warganya menyangkut kehidupan bersama, seperti
mengatur saluran telepon, saluran air bersih, jalan yang bagus, tidak
banjir, perasaan aman, jaminan hukum, dan tidak diskriminatif. Kalau
urusan agama, itu biarlah menjadi urusan masjid, gereja, madrasah dan
pesantren, vihara dan klenteng.

Tapi ada yang berpikir kalau agama juga diurus negara, dia akan lebih
berkembang dan membuat negara makin baikĀ…

Justru terbalik. Orang-orang yang ingin memaksakan ini yang akan
merusak negara dan tidak akan membuat negara makin baik. Orang ini
hanya ingin negara ikut campur mengatur agama. Negara harus mewajibkan
pelajaran agama di sekolah-sekolah. Di zaman Sukarno, di sekolah dasar
negeri tidak dibolehkan adanya pelajaran agama apapun. Tapi setelah
zaman Orde Baru, dalam rangka memberi angin pada Islam, maka diadakan
pelajaran agama di sekolah-sekolah. Sebenarnya, ini kebijakan yang
keliru. Itu membuat negara makin lama makin kacau. Akibatnya muncul
korupsi, karena negara ini terlalu banyak mengatur.

Dalam pengembaraan Anda melihat ekspresi keberagamaan beragam
masyarakat di hampir seluruh Indonesia, apakah agama dianggap cukup
penting?

O, ya. Di Indonesia, agama itu cukup penting. Tapi di Indonesia yang
mana dulu, tentu harus kita tanya. Indonesia begitu beragam. Secara
geografis, Indonesia punya empat bahkan lima time zone: WIB, WITA, dan
WIT. Seharusnya ada lima. Nah, di lima kawasan ini, dari Aceh sampai
Papua, ada lebih dari 500 bahasa. Di Pulau Miangas yang dekat dengan
Mindanao misalnya, ada bahasa Talaut, bahasa Tomea, bahasa Binongko,
bahasa Rote, dan lain-lain. Jadi kalau Negara mau ngurusin agama, saya
kira yang pertama-tama terjadi adalah penindasan terhadap agama-agama
kecil seperti Kaharingan, Batak, Jawa, dan lain-lain. Kedua, itu akan
jadi sumber korupsi.

Mas Andreas, ada semacam stereotipe yang menyebut orang Tionghoa agak
tertutup dalam pergaulan dengan etnis lain. Apa penjelasan Anda?

Ada dua teori untuk menjawab soal ekslusivitas orang minoritas. Saya
mulai dari cerita. Saya pernah mengajar di IAIN Al-Raniry Banda Aceh.
Nah, di Banda Aceh itu ada semboyan yang mengatakan bahwa bangsa
Indonesia itu sebetulnya tidak ada. Yang ada adalah "bangsa Jawa"
dengan nama samaran "bangsa Indonesia". Dan, Jawa itulah yang menjajah
Aceh. Nah, di Aceh juga ada banyak transmigran dari Jawa. Pada suatu
saat, salah satu mahasiswa saya tanya. Mereka biasanya panggil saya
Teuku. "Teuku Andreas, mengapa orang-orang Jawa tidak mau bergaul
dengan orang lain? Kalau ngomong, meski di luar Jawa, mereka tetap
pakai bahasa Jawa. Bahkan, kawin pun harus dengan orang Jawa. Mereka
juga tidak mau bergaul," katanya.

Lalu saya jawab, "Ya biasa, orang minoritas itu, ya begitu!" Mereka
pertama-tama harus bergelut lebih kuat dibanding yang mayoritas. Itu
karena posisi mereka kecil. Dan mereka harus bekerja lebih keras.
Kalau kita lihat para pendatang di Papua, baik dari suku Bugis, Batak,
Jawa, dan lain-lain, mereka juga termasuk pekerja-pekerja keras.
Kebanyakan berhasil. Di mana-mana, orang minoritas itu seperti itu.
Karena bekerja terlalu keras, mereka lupa bersosialisasi.

Tapi di Aceh, banyak sekali orang Jawa yang bisa bahasa Aceh. Sama
halnya dengan orang Tionghoa yang bisa bahasa Jawa, Sunda, dan
seterusnya. Jadi biasalah itu. Meskipun kadang kita jengkel juga kalau
melihat orang Tionghoa yang hanya mikirin kerja dan seterusnya. Tapi
yang penting, mereka tidak bunuh orang, tidak melakukan kekerasan. Itu
yang penting.

Tapi selalu ada perasaan tidak aman gitu ya?

Ya, tentu. Itu terjadi di mana-mana. Misalnya orang-orang Madura di
Kalimantan Selatan. Mereka didiskriminasikan secara luar biasa. Tidak
ada diskriminasi yang lebih besar di Indonesia sehebat yang dialami
orang Madura di Kalimantan Selatan. Dari Pontianak sampai Samarinda.
Tapi mereka juga bekerja keras. Dan saya tahu, betapa kerasnya mereka
bekerja. Kadang-kadang sampai disalahmengerti tetangganya. Ya, mereka
dianggap tidak peduli dengan tetangga, karena jarang bergaul.

Bagaimana Anda memandang Pancasila sebagai ideologi bernegara?

Esensinya, saat Indonesia hendak didirikan, terjadi perdebatan keras
sekali soal dasar negara. Ada yang mengatakan Islam, karena
perdebatannya berlangsung di Jawa dan penduduk Jawa mayoritas Islam.
Kalau saat itu Indonesia berpusat di Minahasa, mungkin dasar yang akan
diangkat juga Kristen. Tapi kira-kira, waktu itu yang diangkat adalah
Islam. Itu pertama.

Paham kedua namanya sekularisme. Tapi karena ada kompromi
nasionalisme, maka ideologi itu dinamakan Pancasila. Tapi esensinya
adalah sekularisme, yaitu keinginan agama dan negara dipisahkan. Kalau
agama dan negara dicampur, maka negara akan tidak netral dan menjadi
rebutan banyak orang. Islam akan merebut, Kristen akan merebut, Hindu
akan protes, dan sebagainya.

Saya melihat, semua negara yang menyatu dengan agama tidak ada yang
beres. Anda bisa perhatikan itu di tingkat dunia. Misalnya Afganistan,
Pakistan, Arab Saudi, Iran, dan lainnya. Persoalan yang muncul selalu
soal minoritas. Dalam suatu negara, selalu ada banyak agama minoritas.
Nah, isunya adalah bagaimana memperlakukan mereka kalau salah satu
agama dijadikan dasar bernegara. Saat itu juga akan ada agama lain
yang menjadi kelas dua.

Dan, perlakuan negara terhadap salah satu agama sebagai agama kelas
dua adalah bentuk diskriminasi. Kalau suatu negara sudah melakukan
diskriminasi, pasti itu sudah tak beres. Dulu, di Indonesia ada
perdebatan tentang Piagam Jakarta. Soekarno juga melarang
sekolah-sekolah agama. Tapi untuk kompromi politik, dia tetap
mengizinkan adanya Departemen Agama. Yang meminta waktu itu adalah
almarhum bapaknya Gus Dur. Katanya untuk menjembatani urusan agama dan
negara. Tapi sebetulnya, urusannya hanya soal Islam, karena kebetulan
yang meminta juga orang Islam.

Ada 4 orang penting di masa itu; KH Wahid Hasyim, Kasman Singodimejo,
Abikoesno (Ketua Muhamadiyah), dan Mohamad Hasan dari Aceh. Mereka
minta dibikin Departemen Agama pada 19 Agustus 1945. Tapi akhirnya
tidak beres. Sekarang malah masih ada SKB (surat keputusan bersama)
menteri yang membuat orang membangun, terutama gereja-gereja, sangat
susah. Di Indonesia, selalu ada pembakaran gereja antara tahun
1945-1997. Jumlahnya sekitar 350-an gereja. 80 persennya terjadi di
pulau Jawa.

Di Papua, Flores, maupun Minahasa, kalau orang Islam ingin bangun
masjid, asal punya duit, ada tanah, ada izin bangunan (bukan izin
pendirian tempat ibadah), ya nggak apa-apa. Di Jawa, urusan gereja itu
susah sekali. Itu sebenarnya diskriminasi. Itu adalah contoh kehidupan
agama dan negara yang dicampur-baur. Akbiatnya, kehidupan kenegaraaan
kita jadi rumit.

Anda banyak bersinggungan dengan pelbagai agama dan budaya. Dari
sekian banyak agama, mana yang paling cocok bagi Anda?

Hari ini saya belum bisa menjawab. Ini adalah perjalanan yang masih
panjang. Istri saya yang sekarang adalah seorang muslim dari Madura.
Ayah saya seorang Tinghoa beragama Konghucu. Ibu tiri saya Jawa
pemeluk Protestan. Tapi kebanyakan agama orang Jawa itu juga
campur-campur. Kebetulan di keluarga, saya agak dituakan. Jadi agak
susah bagi saya kalau harus berpihak kepada salah satu dari mereka.
Jadi saya belum dapat menjawab. Mungkin saya akan memberi jawaban
kelak kalau saya mau meninggal.

Ada cara-cara pribadi seperti ritual agama yang sering dilakoni?

Pertanyaan yang bagus! Kalau masih ditanya juga soal apa agama saya,
saya akan jawab: agama saya adalah jurnalisme. Saya percaya bahwa
jurnalisme sangat berguna untuk kebaikan masyarakat.

Karena itu Anda pernah menulis bahwa jurnalisme juga mengandung
spiritualitas?

Kutipan itu sebenarnya bukan pendapat saya. Ini adalah pendapat Bill
Kovach. Dia adalah seorang guru wartawan asal Albania yang sangat
dihormati. Dia seperti saya. Bapaknya muslim, ibunya Kristen ortodok.
Dia sendiri menikah dengan seorang Kristen kulit putih yang sangat
dihormati. Beliau berpendapat: makin bermutu jurnalisme di dalam
masyarakat, maka makin bermutu pula informasi yang didapat masyarakat
bersangkutan. Terusannya, makin bermutu pula keputusan yang akan
dibuat. Saya percaya, apabila jurnalisme di Indonesia bermutu, maka
kehidupan masyarakat kita juga akan makin bermutu. Persoalannya, di
Indonesia ini, semua medianya masih di bawah standar mutu jurnalisme
internasional.

Dalam pengamatan Anda, agama itu faktor integrasi atau sebaliknya?

Yang saya tahu, di Indonesia banyak sekali orang bunuh-membunuh dengan
mengatasnamakan agama. Itu yang membuat saya sedih. Jangan kira karena
orang Aceh yang sama-sama muslim tidak saling bunuh-bunuhan. GAM dan
TNI itu kan sama-sama muslim. Tapi mereka bunuh-bunuhan.

Akomodasi agama atas budaya lokal bagaimana?

Setiap agama yang diimpor dari luar, ketika sampai ke daerah baru,
pasti akan diadaptasikan. Tidak pernah ada agama yang bisa murni
seperti mulanya. Agama impor pasti akan diadaptasi. Jangan salah, para
wali Islam itu dakwahnya juga menggunakan wayang dan gamelan. Beragama
juga bukan soal zero sum game. Jadi kalau saya yang tadinya Konghucu
pindah Kristen, itu tidak akan meninggalkan tradisi Konghucu
sepenuhnya. Orang Jawa yang masuk Islam juga tak akan bisa murni
meninggalkan kejawen. Selalu ada adaptasi. Jadi campur. Tidak ada yang
murni.

Anda sering menyaksikan agama-agama suku di Indonesia. Apa penilaian Anda?

Kebanyakan kecil. Tapi mereka kadang lebih khusyuk dalam beragama. Mau
motong pohon saja ada ritualnya. Mau pergi ada doanya. Bahkan saya
pernah memperhatikan sebagian mereka sangat dekat dan baik sekali
dengan alam. Kalau orang Jakarta ini kan jahat sekali sama alam. Semua
orang pakai mobil, semua pakai pendingin udara. Akibatnya, Jakarta tak
layak ditempati 8 juta rakyat. Jakarta hancur. Akhirnya orang kena
asma dan macam-macam lagi. Ini semua karena orang tidak beragama
dengan baik.

Tapi religiusitas orang suku itu lebih sering disebut kearifan lokal,
tidak dianggap agama. Karena itu, sering diekspansi...

Itu kan anggapan orang luar. Orang menganggap Sunda Wiwitan itu
sebagai kearifan lokal. No! Apa hak kita atas nama agama-agama impor
ini untuk mengecam agama lokal itu?! Mereka sama-sama punya hak hidup.
Karena itu, saya tak setuju di KTP ada agamanya. Itu suatu bukti
tentang intervensi negara di dalam kehidupan agama kita. 

Kirim email ke