Mengenang Situ Aksan

NAPAS Sumanto (70) tersengal-sengal mendorong gerobak berisi air
bersih yang dikemas dalam 10 jeriken berukuran 10 liter. Air bersih
yang ia gunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari bersama keluarganya.
Ia mengeluarkan uang setidaknya Rp 6.000,00 sampai Rp 14.000,00 untuk
membeli air dari tetangganya yang memiliki sumur bor.

KOLAM sebagai simbol atas keberadaan Situ Aksan di Kompleks Permata
Hijau Kel. Sukahaji Kec. Bandung Kulon Kota Bandung. Situ Aksan
beralih fungsi sekitar tahun 1976 menjadi permukiman dan pabrik.* LINA
NURSANTY/"PR"

Jika ia membeli air sebanyak itu dua hari sekali saja, Sumanto harus
merogoh koceknya sekitar Rp 90.000,00 hingga Rp 210.000,00 yang
berarti hampir setengahnya dari penghasilan dia sebagai penjaga gedung
di salah satu sekolah dasar. "Dulu tahun 1970-an mah gak sampai kayak
gini untuk dapet air. Sekarang susah sekali dapat air bersih," ujar
kakek yang juga akrab disapa Pak Jangkung itu ketika ditemui di
sekitar tempat tinggalnya di Jln. Suryani Dalam III, Kel.
Warungmuncang, Kec. Bandung Kulon, Kota Bandung.

Pak Jangkung tiba di Kota Bandung pada tahun 1970. Ia memilih wilayah
yang berdekatan dengan Situ Aksan (di Jln. Jend. Sudirman
sekarang-red.). Pada saat itu, kenang dia, wilayah tersebut masih
merupakan daerah asri. Situ Aksan seluas 3 hektare dikelilingi
pepohonan rindang adalah daya tarik tersendiri bagi Jangkung yang asli
Purbalingga itu.

Salah satu pesona lain dari Situ Aksan yang masih menancap di benak
Jangkung adalah perahu-perahu kecil yang kerap dinaiki para sejoli
yang sedang memadu kasih. Ya, memang Situ Aksan pada waktu itu juga
difungsikan menjadi tempat wisata hutan dalam kota yang asri.

Pada waktu itu, lanjut Pak Jangkung, hanya dengan menggali sumur
sedalam 10 meter, air bersih melimpah. Perlahan, keadaan itu lenyap.
Kini, orang harus menggali hingga lebih dari seratus meter dulu baru
bisa memperoleh air bersih. Sedemikian buruknya persediaan air tanah
di wilayah tempat tinggal Pak Jangkung.

Lingkungan yang kian tak ramah seperti yang dirasakan Pak Jangkung
juga dirasakan Ai (45). Ibu paruh baya yang mengaku turun-temurun
tinggal di wilayah itu kian merasa tidak nyaman. Selain sulit
memperoleh air bersih, hujan yang turun sedikit saja kerap membuat
rumahnya kebanjiran.

Hujan turun tak begitu deras ketika "PR" bertandang ke rumahnya di Gg.
Nawawi RT 05 RW 10 No. 171, Kel. Sukahaji, Kec. Babakan Ciparay, Kota
Bandung. Akan tetapi, dalam waktu sekejap saja, lantai rumahnya
tergenang air hujan. "Selalu seperti ini kalau turun hujan," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Ai menunjukkan lantai rumahnya yang tiba-tiba
menyembul setinggi sekitar 30 sentimeter hingga membuat tegelnya
berantakan. Dari sembulan itu, muncul air kotor yang menggenangi
rumahnya. Kini, tegelnya sudah diperbaiki, tetapi retakan di tegelnya
tidak pernah bisa hilang. Air selalu keluar dari sela-sela retakan
tegelnya itu hingga kini.

Seingat Pak Jangkung dan Ai, keadaan itu mulai terasa seiring dengan
hilangnya Situ Aksan dan hutan kecil di sekitarnya pada tahun 1976.
Wilayah situ seluas 5,5 hektare itu diratakan untuk pembangunan
kawasan pemukiman mewah dan pabrik-pabrik.

Seolah kehilangan daerah penangkapnya, air hujan yang turun itu
membabi buta memasuki pemukiman warga yang tidak dilengkapi fondasi
beton yang kuat seperti pabrik dan rumah mewah di sekitarnya.

Menurut keterangan yang berhasil dihimpun "PR", Situ Aksan adalah situ
buatan yang diperkirakan dibuat sebelum Revolusi 17 Agustus 1945.
Semula, situ sedalam 70 sentimeter sampai 1,5 meter itu adalah bekas
galian tanah untuk keperluan membuat bata merah.

Luasnya meliputi wilayah yang digunakan sebagai perumahan Situ Aksan
dan Permata Hijau sampai Pasar Cangkring sekarang. Tersohor, karena
Situ Aksan sering digunakan muda-mudi sejoli memadu kasih. "Didieu sok
diangge lalayaran nganggo parahu, salian ti eta, seueur oge nu mancing
da laukna gampang dipancing (Di sini sering digunakan untuk berperahu,
selain itu juga banyak yang memancing karena ikannya mudah didapat),"
ujar warga Jln. Suryani Dalam III RT 03 RW 02, Kel. Warungmuncang,
Kec. Bandung Kulon, Tarwa (56), mengenang.

Seingat Tarwa, Situ Aksan diubah menjadi pemukiman pada tahun 1975.
Pohon-pohon yang menjulang tinggi di sekitar situ pun ditebang habis.
Dampaknya ia rasakan beberapa tahun kemudian, berupa kesulitan
memperoleh air. "Sekarang, tanam pipa sedalam 18 meter juga, tidak
bisa memperoleh air," katanya. Kini, ia dan warga lainnya terpaksa
membeli air bersih untuk minum.

Menurut salah satu mantan penjaga pintu masuk menuju Situ Aksan ketika
masih menjadi tempat wisata, Masri Sambas (73), sang pemilik lahan,
Alm. Haji Aksan, mengubahnya menjadi situ dengan memanfaatkan aliran
air dari Sungai Cikapundung yang melintasi Cibadak hingga wilayah
Husein Sastranegara.

Menurut Masri, di selatan situ, terdapat curug (air terjun) yang kini
berubah menjadi Masjid Al Jihad, menambah situasi lengkap sebagai
hutan kota. Kemarau datang tak membuat air situ menjadi surut sehingga
hasil tangkapan ikan bisa mencapai lebih dari satu ton per bulannya.
Situ Aksan dijual pada tahun 1974 pada masa kepemimpinan Gubernur
Jabar, Aang Kunaefi.

Selain itu, di dekat situ terdapat panggung hiburan. Deretan artis
ternama yang pernah bertandang ke Situ Aksan Masri sebut satu per
satu. Artis nasional seperti Benyamin S., Titik Sandora, Tantowi
Yahya, Rachmat Hidayat, disebut Masri pernah "manggung" di sana. Tidak
ketinggalan, seni tradisional masih mendominasi pagelaran, di
antaranya seni calung oleh Darso cs. "Kang Ibing komo paling remen
didieu," ujarnya.

Kolam peninggalan situ hingga saat ini memang masih ada. Masyarakat
sekitar melestarikannya sebagai penanda bahwa wilayah tersebut semula
adalah sebuah situ. Kolam yang kini ditembok itu berukuran sekitar 7 x
14 meter, berbentuk angka delapan. Kolam peninggalan tersebut tampak
tak terawat karena digenangi air hujan dan lumut hijau. "Ayeuna sesa
situ aya keneh dijantenkeun kolam renang di Kompleks Permata Hijau
supados ulah ical (Sekarang sisa-sisa situ masih ada, dibangun kolam
renang di Kompleks Permata Hijau supaya tidak hilang)," ujarnya.

Dalam buku Gids Van Bandoeng en Middn Priyangan yang diterbitkan tahun
1927, setidaknya terdapat lima buah situ yang ada di wilayah
administratif Kota Bandung saat ini, yakni Situ Garunggang, Situ
Cibitung, Situ Aras, Situ Saeur, dan Situ Gunting. Situ Aksan tidak
disebutkan dalam buku tersebut kemungkinan besar karena belum dibuat,
mengingat Situ Aksan adalah situ buatan.

Situ Aras terletak di daerah Karasak sekarang, Situ Saeur yang kini
menjadi Rumah Sakit Immanuel, Situ Gunting terletak di antara Jln.
Babakan Ciparay dan Jln. Peta, Situ Garunggang terletak di wilayah
Cihampelas dan empang di Cipaganti. Sementara itu, Situ Cibitung tidak
diketahui kini menjadi apa dan di wilayah mana.

Buku yang ditulis oleh S.A. Reitsma dan W.A. Hoogland itu berisi
panduan wisata di Bandung pada saat itu. Para bangsawan Eropa sangat
membanggakan situ-situ sebagai ciri khas daerah tropis yang sangat
tidak mungkin dinikmati di daratan Eropa.

Alih fungsi situ, kolam, dan empang terus berlanjut di Kota Bandung.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kota Bandung, luas kolam
dan empang pada tahun 2005 hanya 0,38% dari total luas lahan kota atau
sekitar 63 hektare. Menurun dari semula 69 hektare pada tahun 2001.

Padahal, menurut staf ahli Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi
Kelautan (PPPGL), Ir. Tjoek Azis Soeprapto, M.Sc., fungsi situ, kolam,
maupun empang, di antaranya sebagai penyimpan cadangan air. Menurut
dia, alih fungsi situ menjadi pemukiman dan daerah industri ikut
berkontribusi dalam penurunan volume air tanah, arah arus air tanah,
bahkan kelembapan udara. (Lina Nursanty/"PR")***

Kirim email ke