Siksaan mental pindah agama
Revathi Massosai mengatakan dia mendapatkan perlakuan buruk dalam tahanan
Revathi Massosai mengatakan dia mendapatkan perlakuan buruk dalam tahanan
Seorang perempuan Malaysia yang dibebaskan dari enam bulan tahanan di
pusat rehabilitasi Islam mengklaim dia mendapatkan siksaan mental dan
dipaksa memakan daging sapi meskipun dia seorang penganut Hindu.
Perempuan yang diketahui dengan nama Revathi Massosai ditangkap pihak
berwenang Islam bulan Januari ketika dia datang ke pengadilan meminta
dia daiftarkan sebagai Hindu bukan Muslim.
Kasus ini merupakan satu dari sejumlah insiden yang menimbulkan
ketegangan antar umat beragama di Malaysia.
Perempuan yang menjadi pusat perhatian kasus ini lahir dari orang tua
yang pindah kepada agama Islam dan diberi nama Muslim namun dibesarkan
sebagai seorang Hindu oleh neneknya dan selalu menjalankan ajaran Hindu.
Namun berdasarkan hukum Islam Malaysia memiliki orang tua Muslim
menjadikan dia seorang Muslim dan keadaan seperti itu tidak diijinkan
pindah agama atau menikah dengan non Muslim.
Namun Revathi Massosai yang namanya ingin diketahui seperti itu,
menikahi seorang pria Hindu tahun 2004 dan pasangan itu memiliki
seorang anak perempuan.
Ketika bulan Januari dia meminta pengadilan secara resmi menjadikan
dia seorang Hindu, dia ditahan dan dibawa ke pusat rehabilitasi Islam.
Penahanannya dua kali diperpanjang menjadi enam bulan.
Selama itu dia mengatakan, para tokoh agama berusaha agar dia
sembahyang seperti Muslim dan mengenakan kerudung.
Hanya pengadilan Islam yang bisa mengubah agama seseorang di Malaysia
Namun klaim yang dapat mengejutkan umat Hindu adalah di pusat
rehabilitasi itu dia dipaksa makan daging sapi.
Ini merupakan penghinaan bagi Hindu seperti halnya pemaksaan makan
daging babi kepada Muslim dan Yahudi.
Pengacara yang mewakili departemen agama Islam di negara bagian Malaka
yang menangkap Revathi menolak tuduhan itu dan mengatakan para pejabat
percaya dia masih dapat dibujuk memeluk Islam.
Dia tetap bersiteguh sebagai seorang Hindu.
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/07/070707_malayhindu.shtml