Catatan Awal Tahun

Catatan atas Catatan
Yahya C Staquf

Tuhan 
memperingatkan, "Takutlah 
kalian pada bencana yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim kalian 
saja." Artinya, ada bencana "sapu bersih" yang melahap semua, tak peduli 
orang-orang saleh. Ini ancaman "baru", mulai berlaku sejak kerasulan Musa AS. 
Sebelum itu, orang-orang saleh tidak pernah  tidak diselamatkan. Ancaman baru 
itu berkaitan dengan suatu perintah baru. 
.
Sejak "paruh kedua" periode 
kerasulan Musa AS, yaitu setelah Firaun  ditenggelamkan dan Musa beserta para 
pengikutnya diseberangkan dengan aman,  Tuhan mewajibkan manusia untuk 
bertindak 
ketika terjadi kezaliman. Sebelum itu, Tuhan senantiasa "turun tangan sendiri": 
penentang Nabi Nuh 
ditenggelamkan banjir, penentang Nabi Saleh ditelan bumi, 
penentang Nabi  Luth diuruk batu, dan seterusnya, sampai dengan karamnya 
Firaun. 
Sesudah itu, orang saleh yang harus bertindak, berjuang sendiri mengoreksi 
kezaliman dan memperbaiki kerusakan yang diakibatkannya. Setelah turun perintah 
baru,  Tuhan mengancam akan menimpakan bencana "sapu bersih" jika, menurut 
Rasulullah SAW, kerusakan merajalela, sedangkan orang-orang saleh berpangku 
tangan pura-pura tidak tahu. "Untuk mencapai kemenangannya di muka bumi, 

bagi setan cukup dengan orang baik tidak berbuat apa-apa," kata Edmund  
Burke, seorang filsuf. Kita hidup bersama ibarat menumpang perahu yang 
sama. Jika ada orang zalim kita biarkan membocori perahu kita, semua orang akan 
tenggelam meskipun tidak ikut-ikutan zalim. Mungkin semangat inilah yang  
mengilhami kegiatan-kegiatan (politik) bertajuk "Catatan Akhir Tahun" yang 
memenuhi hari-hari terakhir 2007 ini. Dalam kegiatan-kegiatan itu, sebagian 
besar wacananya berisi kritik, gugatan, bahkan umpatan terhadap pemerintah. 


Memang wajar saja, dan barangkali pemerintah pantas menerimanya. Tapi 
akan tidak adil dan tidak maslahat jika orang lupa bahwa rakyat pun perlu 
dikritik dan digugat. Kalau mau jujur, sebenarnya kelakuan pemerintah dan 
mayoritas rakyat itu setali tiga uang. Ini niscaya mengingat pemerintah  adalah 
"produk" mayoritas rakyat. Mencemooh pemerintah sama halnya menepuk air di 
dulang. Nyiprat-nya ke muka kita-kita juga. Sungguh sahih sabda Rasulullah SAW, 
"Sesuai dengan apa adamu, 
dijadikanlah penguasa atasmu." Rakyat lurus menghasilkan pemerintahan 
lurus, rakyat bengkok pemerintahnya pun bengkok. Tak perlu kaget kalau 
pemerintah mengabaikan golongan miskin. 

Bukankah sebagian besar kita 
juga begitu? Jangan kata yang kaya terhadap  yang miskin, sesama miskin saja 
tak 
saling peduli. Pejuang-pejuang pembela orang miskin senantiasa minoritas di 
antara kita. Kalau pemerintah sering bersikap tega terhadap yang lemah, 
menggusuri yang gurem-gurem,  menelantarkan masa depan ribuan korban kezaliman, 
rakyat pun tak jauh beda: bersikap sewenang-wenang terhadap minoritas, mengusir 
mereka dari tempat  berkumpulnya, bahkan menganiaya dengan kekerasan. 
Pemerintah 
memanjakan si kaya, rakyat pun menjadikan mereka idola. Lihat saja, pada setiap 
pemilihan pejabat publik oleh rakyat, si kaya selalu jadi pilihan utama. 
Pemerintah mempraktikkan tebang pilih dalam penegakan hukum? Rakyat toh sering 
juga  hanya mau tahu keadilan untuk 
kelompoknya sendiri. Kalau perlu, mereka ramai-ramai berdemo membela teman 
separtai atau seorganisasi atau seagama walaupun salah. 


Pemerintah sembrono menunjuk pejabat? Mengapa heran? 
Bukankah 
pemerintah itu sendiri hasil kesembronoan rakyat menentukan  pilihan? Demikian 
juga akan terasa "normal" takluknya pemerintah kepada kekuatan asing jika kita 
akui juga mentalitas kita yang masih suka memuja  buatan luar negeri sambil 
merendahkan karya bangsa sendiri. Tambahkanlah  contoh  sebanyak-banyaknya. 
Pasti tidak sulit karena hampir semua yang dengan geram kita kecam dari 
kelakuan 
orang lain (pemerintah) , kita temukan juga pada diri kita sendiri. Pemerintah 
bodoh, kita bodoh. Pemerintah lamban, kita lamban. Pemerintah brengsek, kita 
brengsek. Dan seterusnya. 

Hanya satu hal yang masih muskil bagi saya, 
yaitu tuduhan bahwa pemerintah ini peragu. 
Muskil karena saya belum melihat 
imbangannya dari sisi rakyat. Tampaknya, rakyat kita tidaklah peragu. 
Tindakan-tindakan paling ngawur pun amat sering mereka nekat melakukannya. 
Lebih 
dari itu, peragu itu makqamnya orang berilmu. Hanya orang pintar yang bisa 
bimbang. Orang bodoh bisanya bingung. 

Persis seperti keadaan mayoritas 
rakyat hari ini. Maka, jangan-jangan pemerintah pun belum sampai ke maqam 
bimbang, tapi baru bingung. Di atas semua itu, saya hanya ingin mengatakan 
bahwa 
kritik, termasuk dalam rangka catatan-catatan akhir tahun ini, akan lebih 
bijaksana dan maslahat jika dilakukan dalam nuansa introspeksi. Cita-cita 
memiliki pemerintah yang baik hanya mungkin terwujud jika rakyat juga 
sungguh-sungguh berusaha menjadi baik. Ketidakberesan tak boleh dibiarkan. Tapi 
pastilah tindakan yang diperlukan bukan hanya "memberesi orang lain", tapi 
harus 
pada saat yang sama "memberesi diri sendiri". Lebih lanjut, tidakkah kita ingat 
bahwa yang kita perlukan adalah perubahan, bukan pertarungan, apalagi 
penghancuran? 

Jika Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa di antara kalian 
melihat kemungkaran, 
hendaklah ia mengubahnya (falyughoyyirhu) ?," maka benar-benar yang 
beliau maksudkan adalah mengubah, bukan menggasak pelakunya. Saudara-saudara 
kita yang kalap melihat kesesatan sekelompok kecil orang 
lalu menyerbu, 
menyegel tempat-tempat ibadah, merusak rumah-rumah, jelas keblinger. Mereka 
tidak mengubah (menuju perbaikan), tapi menambah kerusakan. Respons yang benar 
terhadap ketidakberesan haruslah memenuhi sejumlah syarat yang dapat menjamin 
bergulirnya proses menuju perubahan. 
Antara lain: rasional, tidak emosional; 
terencana dengan baik, tidak ngawur; terorganisasi rapi, tidak asal jalan; 
dalam 
kebersamaan, tidak berebut jadi pahlawan kesiangan; dan seterusnya. Di atas 
segala-galanya, yang paling mendasar bagi orang beriman adalah "keikutsertaan" 
Tuhan. Ketidakberuntungan pemerintah kita saat iniâ?"begitu banyak bencana, 
begitu banyak masalahâ?"dikarenaka n "salah kampanye". "Bersama kita bisa!" 
begitu slogan utama mereka dulu. Seolah-olah hanya dengan bersama-sama di 
antara 
mereka 
saja sudah bisa. Tuhan tidak diajak. Jangan salahkan Tuhan kalau 
sekarang Dia tidak mau tahu.

Penulis adalah Pengajar di Pondok Pesantren 
Raudlatut Thalibin, Rembang 

 





Tiada kata akhir untuk belajar seperti juga tiada kata akhir untuk 
kehidupan 


(Annemarie Schimmel)







Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke