TKI di belanda Modal Awalnya Bahasa Tarzan KOMPAS/AHMAD ARIF / Kompas Images Anas Yusuf (35), saat ditemui dalam perjalanan dengan Kereta Api Amsterdam-Den Haag, Minggu (19/10). Lelaki asli Lawang, Malang, Jawa Timur, ini sudah empat tahun menjadi TKI di Belanda.
Rabu, 5 November 2008 | 03:00 WIB Ahmad Arif Kereta api Amsterdam-Den Haag nomor 552263 dalam hitungan menit segera berangkat. Seorang lelaki berwajah Asia dengan rambut dikuncir bergegas naik sambil menenteng tas besar yang terlihat kosong. Saya tersenyum. Dia menyapa, "Dari Indonesia juga?" Lelaki itu, Anas Yusuf (35), asal Lawang, Malang, Jawa Timur. Dia tinggal dan bekerja di Belanda sejak Mei 2004. Anas sudah kenyang pengalaman bekerja di Belanda. Ia bekerja sebagai pelayan restoran, tukang kayu, hingga tukang bersih-bersih rumah di Negeri Kincir Angin ini. "Kerja di sini dibayar 5-7 euro per jam," tutur Anas. Dipotong sewa kamar 150 euro sebulan dan kebutuhan hidup sehari-hari, Anas bisa mengirim 500-700 euro per bulan kepada istri dan tiga anaknya di Malang. Anas memulai petualangannya di Eropa bermodal tekad dan uang pinjaman dari bank Rp 30 juta. Uang itu untuk membayar paket kunjungan wisata ke Belanda. Dari 12 anggota rombongan, empat di antara mereka termasuk Anas dan adiknyatak kembali ke Indonesia. Selama tujuh bulan pertama di Belanda, Anas hidup prihatin karena kesulitan mencari akses kerja, apalagi dia tak bisa berbahasa Inggris maupun Belanda. "Modal awalnya bahasa Tarzan, pakai isyarat," kata Anas. Sewaktu di Indonesia, tamatan sekolah menengah atas (SMA) ini bekerja sebagai sopir angkutan. Setelah tujuh bulan mencari peluang dan mulai bisa berbahasa Belanda, kerjaan pun mengalir. "Pekerja yang sudah dapat kerja bisa mengoper ke teman yang baru datang asal mau bayar 1.000 euro," kata dia. Sebelum ke Belanda, Anas pernah bekerja di Malaysia. Dia dijanjikan oleh PJTKI yang mengirimnya untuk bekerja di kapal pesiar. Namun, di sana dia dipaksa menjadi nelayan. Anas melarikan diri dan bekerja di perkebunan sawit di Kuching. Enam bulan kemudian, dia dan 40 pekerja kebun lainnya ditangkap polisi Malaysia dan mendekam di penjara selama sebulan, lalu dideportasi. Hanya enam bulan di Indonesia, Anas kemudian pergi ke Belanda. "Polisi di Belanda relatif baik dibandingkan di Malaysia. Tapi, jangan cari perkara. Naik kereta di sini, ya, harus bayar. Jangan cari keributan," ujar Anas. Pelayan hingga kantoran Ribuan orang seperti Anas ada di Belanda. Nuril Anwar (41), misalnya, sudah delapan tahun hidup di Den Haag. Ia bekerja di toko kue, milik taipan asal Indonesia yang telah puluhan tahun menetap di Belanda. Nuril pertama kali memasuki Eropa 15 tahun lalu sebagai mahasiswa Sastra Jerman di Goethe Institute, Jerman. Setamat kuliah, dia berusaha bekerja di Jerman. Namun, pekerjaan yang mengandalkan ijazahnya di negeri orang ternyata tak mudah. Dia pun pergi ke Belanda dan bekerja apa saja. "Di sini lebih mudah mencari kerja. Orang-orang Belanda lebih ramah dan terbuka pada kita, mungkin karena mereka pernah menjajah kita," kata dia. Tak hanya bekerja di sektor bawah, sebagian orang Indonesia di Belanda bekerja kantoran. Sebutlah seperti Michael Putrawenas. Lulusan master dari Rotterdam School of Management- Erasmus University ini berkarier di perusahaan multinasional, Shell. "Saya akan kembali ke Indonesia, tapi nanti. Sekarang mau mengumpulkan modal dan pengalaman karena kondisi ekonomi di negara kita belum memungkinkan," kata dia. Di negeri (bekas) penjajah Kisah orang Indonesia di Belanda sudah sangat tua. Cees van Dijk (Di Negeri Penjajah/ KPG dan KITLV, 2008) menyebutkan, orang Indonesia yang pertama ke Belanda adalah utusan Sultan Aceh, yaitu Abdul Zamat, Sri Muhammad, dan Mir Hasan. Mereka tiba di Belanda akhir Juli 1602 atas undangan Pangeran Maurits. Waktu itu, Belanda masih dalam pertempuran 80 tahun melawan Spanyol dan di Asia mereka sama sekali belum punya kekuatan. Selang tiga tahun setelah kedatangan utusan Aceh itu, VOC merebut Ambon dari Portugis, dan pada 1619 mereka menghancurkan Jakarta. Beberapa orang Belanda di VOC mulai mengirim budak ke Belanda untuk pamer dan VOC sendiri mengirim pangeran pribumi ke Belanda dengan alasan politis. Sejak itu, Belanda menjadi gerbang orang Indonesia ke Eropa. Anas adalah tipe terkini orang Indonesia di Belanda. "Kami ingin mengubah hidup. Biarlah ayah mereka yang merasakan pahit getir hidup di negara orang asal anak-anak bisa sekolah," kata Anas. Ia belum pernah pulang ke Indonesia sejak di Belanda empat tahun silam. Tekad Anas ini mengingatkan pada kisah yang kontradiktif tentang "Homo Bataviensis", istilah yang dikenalkan De Haan (Oud Batavia, 1935) dan dikutip Bernard HM Vlekke (Nusantara: A History of Indonesia, 1961). Homo Bataviensis merupakan perkembangan dari "Homo Batavus" atau orang Belanda asli yang telah bermigrasi ke Batavia. Di negara asalnya, Belanda, kebanyakan mereka termasuk kelas miskin dan datang ke Hindia Belanda sebagai pelaut atau serdadu. Begitu berhasil, mereka pun enggan pulang ke Belanda. De Haan memperkirakan jumlah Homo Bataviensis ini tak lebih dari 10.000 jiwa, hanya bagian kecil dari penduduk Indonesia. Tetapi, jumlah yang tak seberapa ini berperan dominan dalam politik dan ekonomi Indonesia. Bedanya, di Belanda, perantau asal Indonesia saat ini adalah orang- orang yang tak diperhitungkan dalam struktur perekonomian dan politik negeri itu. Bahkan, banyak di antara mereka yang tanpa izin kerja alias tidak diakui keberadaannya. Barangkali para pekerja lintas negara asal Indonesia di Belanda ini berpikir, dulu para Homo Bataviensis sejak dari Herman Willem Daendels hingga Johannes van Den Bosch juga tak memakai visa kerja saat di Indonesia. Entahlah. Yang pasti, ribuan pekerja dari pelosok Nusantara ini pergi ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Belanda, karena di negara sendiri tak memberi cukup peluang untuk hidup layak. Di Stasiun Leiden, Anas pamit. "Salam buat Indonesia, ya. Semoga negara kita cepat bisa makmur sehingga kami tak perlu merantau hingga ke Belanda," kata dia, sambil bergegas turun. Kereta kembali melaju ke Den Haag. Anas segera tenggelam dalam keramaian Leiden. Keramaian yang mengasingkan Anas jauh dari keluarganya....
