Wah, pernyataan Bung Ikram ini soam Wiwid, penulis di Bola, kok menurut saya
gak "way out of line ya". Pernyataan bahwa subjektivitas mengalahkan
profesionalisme itu kok sepertinya perlu dielaborasi lagi supaya lebih jelas.
Kalau dibiarkan menggantung bagaikan "jargon mati" bisa jadi dampaknya akan
seperti menghakimi.
Masalah menyuarakan pendapat media, ini saya kira perlu diluruskan. Dalam media
mana pun ada yang namanya media gatekeeper. Seorang reporter atau wartawan
tidak punya wewenang dan keleluasaan 100% dalam menyuarakan pendapatnya di
media. Ada desk editor, co-managing editor, managing editor, copy editor,
hingga sidang redaksi. Jadi, agak absurd jika dikatakan bahwa ybs. punya media
untuk menyuarakan pendapatnya. Bahkan jikapun Si Wiwid ini bisa melewati
internal gatekeepers tadi, masih ada aspek eksternal yang mesti
dipertimbangkan: media lain, masyarakat luas, pengiklan, religious leaders,
bahkan kita semua, para pembaca. Jadi menurut saya, satu pendapat ya mesti
disikapi sebagai satu pendapat, tanpa caci maki berlebihan.
Selain itu, pemikiran dan pengetahuan manusia sudah berkembang ke satu arah
di mana secara umum orang sudah menyadari bahwa obyektivitas bukan sesuatu yang
sakral dan mutlak ada. Subyektivitas adalah sesuatu yang tak terpisahkan dari
pengetahuan. Subyektivitas adalah bagian tak terpisahkan dari kebenaran.
Keberadaan kebenaran obyektif sudah diragukan. Jadi pendapat memang pasti akan
bersifat subyektif. Itu bukan satu hal yang hina dina dalam kerangka
pengetahuan saat ini. Di dunia ini, tak ada satu pun media yang obyektif dan
netral.
Para tifosi tidak bisa berbuat banyak? Pernyataan ini juga absurd. Maaf saja,
tapi menurut saya para tifosi Milan (ataupun tim Eropa mana pun) di Indonesia
tidak berhak berbuat apa pun soal klub Eropa. Mereka tidak lebih dari sekadar
pasar dalam kerangka strategi pemasaran global klub Eropa. Mereka tidak bisa
dirugika sedikitpun dalam kaitannya dengan Milan, misalnya, karena hubungan
dengan klub Eropa adalah hubungan ilutif, hasil eksploitasio terhadap ilusi
akibagt dari diktum "tanpa batas" khas globalisasi ekonomi. Jangankan suporter
sepakbola Eropa di Indonesia, suporter "beneran" di Eropa sana pun mulai
berteriak-teriak karena ada upaya-upaya sistematis dari beberapa kekuatan
ekonomi untuk memisahkan suporter dari klubnya. Memisahkan? Ya, fakta bahwa
klub saat ini menjelma menjadi "badan usaha" yang profit-oriented membuat para
pengelola menjadi pragmatis dan cenderung mengabaikan aspirasi dan kepentingan
suporter "sejati" yang merupakan stakeholder historis.
Jadi menurut saya, suporter klub Eropa di Indonesia jangan sampai kehilangan
disorientasi dan kebablasanlah. Kita mencermati sepakbola Eropa bukan unuk
menjadi "boneka pasar yang tak cerdas" yang kerap dieksploitasi dalam skema
besar pasar global ini, melainkan untuk menyerap banyak pelajaran penting dari
keunggulan dan kelemahan mereka dalam membangun kapitalisme sepakbola. Itu
lebih penting. Dan itu pula yang dilakukan di Eropa. Selain aspek bisnis, aspek
budaya dan sosial juga dicermati. Kerusakan apa yang dibawa kapitalisme
sepakbola dan kelebihan apa yang diusung dianalisis secara komprehensif (Baca
buku Franklin Foer dan Richard Giulianotti sebagai contoh). Jelas dalam konteks
ini mereka lebih pintar dari kita, yang cenderung larut dan menjadi boneka.
Mereka tidak. Mereka terus berpikir. Dan seharusnya kita juga begitu.
Terima kasih
Salam sepakbola cerdas
AL Sujanto
Arif Ikram <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Gw bisa merasakan 'penderitaan' Steve atas tulisan Wiwid di Bola itu
sih.
Masalahnya, faktor subjektifitas kadang mengalahkan profesionalisme
seseorang even dia seorang yang sangat kawakan sekalipun. Dan berhubung ybs
ada di posisi yang lebih menguntungkan karena punya media untuk menyuarakan
pendapatnya, maka posisi pembaca/pendengar selalu terpojokkan.
Gw juga rada heran tulisan itu dibuat seorang Wiwid, karena gw tau pasti dia
selama ini lebih menangani berita2 Calcio dan secara pribadi gw tau dia
adalah seorang Milanisti sejati.
Tapi mungkin dibikin dalam kapasitas berita bola Eropa, dan gw yakin banget
bahwa segala fakta yg dikemukakan Steve di bawah juga dikuasai oleh ybs.
Posisi tifosi memang gak bisa berbuat banyak. Contoh paling mutakhir adalah
pertandingan MU vs Milan kemarin yang para komentator habis dikomplain dan
di caci maki oleh para Milanisti.
Di RCTI, pasangan Ricky Jo dan Ropan sangat memuakkan. Komentarnya sangat
berpihak dan tidak profesional. Kita gak bisa menyalahkan bahwa sebagai
manusia memang punya keinginan untuk menjadi fans sebuah tim. Tapi saat
tampil di depan publik tentu harus lebih profesional dan netral. Bahkan
keberatan resmi untuk RCTI agar tidak lagi menggunakan (terutama) Ricky Jo
untuk partai 2nd leg Milan nanti sudah disampaikan oleh Milanisti Indonesia.
Gak tau gimana reaksinya.
ESPN sama ajah. Jelas banget bahwa mereka Inggris-minded sampe ikut2an
begitu lemeeeeesss di babak pertama dan ber api2 tapi waspada di babak 2. Gw
gak tau itu sapa, tapi kalau itu Martin Tyler, bisa dibayangin seorang
pembawa acara dengan puluhan tahun pengalaman pun bisa sangat gak objektif.
Ntar di leg 2 udah bisa gw bayangin gimana nada datar mereka kalo MU
tersingkir, atau gimana teriakan orgasme mereka kalau MU yang lolos.
Semoga berkenan.
Forza MILAN
Ciao
Arif ikram - Milanisti Indonesia
On 4/27/07, Steve HP <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Membaca tulisan Dwi Widijatmiko pada BOLA edisi berjudul "Akhirnya. Gol
> Sahih Pertama", saya seolah membaca sebuah berita yang membonceng sebuah
> opini pribadi. Sebagai pembaca tabloid olahraga berskala nasional, saya
> mengharapkan adanya tulisan yang objektif, tanpa tendensi dan pretensi yang
> disisipkan dalam butir-butir fakta yang ditulis. Jikalau pun penulis ingin
> beropini, hendaknya disampaikan dalam bentuk tulisan kolom, dan diberi
> catatan bahwa itu adalah opini pribadi penulis. Namun apa yang terlihat dari
> berita dengan judul di atas itu sama sekali tidak.
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]