stuju. tanpa banyak berkomentar,
begitulah adanya....

On 11/22/07, Firdauf Achmad Dhewata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Inggris Memang Tak Pantas Lolos
> Andi Abdullah Sururi - detikcom
>
> Jakarta, Sudah ditolong orang lain, Inggris masih gagal pula. Akan
> lebih memalukan kalau dinihari tadi Steven Gerrard dkk sampai
> ditolong juga oleh Andorra. Jadi, Inggris memang tak pantas lolos.
>
> Terdaftar di Grup E babak kualifikasi Euro 2008, dari reputasinya,
> saingan Inggris hanya Kroasia dan Rusia. Tapi dari reputasi itu pula
> Inggris semestinya lebih baik daripada dua negara dari Eropa Timur
> itu.
>
> Banyak embel-embel yang membuat posisi Inggris di belantikan
> sepakbola dunia selalu ada di kelas atas. Mereka tim juara dunia
> (satu kali, 1966), punya kompetisi liga yang disebut-sebut terbaik
> di dunia, sampai klaim kebanggaan sebagai ibu yang melahirkan
> sepakbola.
>
> Jadi, jika Frank Lampard kk mengalahkan Andorra, Macedonia, Estonia,
> bahkan Kroasia dan Rusia, hal tersebut semestinya bukanlah hal
> istimewa. Faktanya, Rusia mampu menundukkan mereka pula di Moskow (2-
> 1, 17 Oktober 2007), dan Kroasia bahkan dua kali mempecundangi "Tiga
> Singa" (2-0 di Zagreb, dan 3-2 di London).
>
> Jangankan Rusia dan Kroasia, pasukan Steve McClaren malahan bisa
> ditahan imbang tanpa gol oleh Israel dan Macedonia (!). Jadi, jelas
> bahwa Inggris tidak kompetitif untuk mencari satu tempat di putaran
> final Piala Eropa tahun depan di Austria-Swiss.
>
> Karena tak mampu membuka jalannya sendiri, tak heran kalau Inggris
> sampai mengandalkan orang lain untuk mengais harapan. Akhir pekan
> lalu semua orang di Kerajaan Ratu Elizabeth II berdoa agar Israel
> dapat menghentikan Rusia dan Guus Hiddink-nya.
>
> Doa tersebut terkabul. Israel menang di menit-menit akhir. Saking
> girangnya, seorang kaya raya di Inggris siap mengirimi sang pencetak
> gol kemenangan Israel, Omer Golan, sebuah mobil mewah -- tapi yang
> bersangkutan menolak.
>
> Setelah pertolongan tersebut Inggris kembali harus mengurus dirinya
> sendiri. Sayang, mereka seperti lantas jumawa. Pers-pers setempat
> belum apa-apa sudah mengklaim Inggris akan lolos, salah satunya
> karena Kroasia dipercaya takkan terlalu serius karena sudah
> mengantongi tiket tersebut.
>
> Tapi yang terjadi kemudian adalah sebuah petaka dan ironi. Di
> kandang kebesarannya, di stadion yang terkenal keramat yang telah
> dipugar pula menjadi salah satu yang termewah dan termegah di dunia,
> Wembley, Inggris takluk 2-3.
>
> Alih-alih mendominasi permainan, Inggris malah tertinggal dua gol
> lebih dulu dalam kurun waktu enam menit di babak pertama. Ups! Maka
> anak-anak McClaren mulai kalang kabut.
>
> Untuk sesaat mereka sempat berhasil. Tendangan penalti Lampard dan
> gol spektakuler Peter Crouch memanjangkan lagi nafas Inggris.
> Sialnya, kemampuan mencetak dua gol balasan tersebut tidak
> dilengkapi dengan upaya memperbaiki buruknya lini belakang mereka
> sejak menit pertama.
>
> Akibatnya, di menit 77 Kroasia kembali mengoyak gawang Scott Carson
> dan kembali memimpin 3-2. Inggris pun sekarat lagi karena
> pertandingan tidak tersisa banyak dan jauh di sana Rusia sudah
> unggul 1-0 atas Andorra.
>
> Barangkali ketika sampai menit 90 Inggris belum bisa lagi menjebol
> gawang Kroasia, sebagian fans mereka berdoa lagi supaya Andorra
> memberi kejutan dengan mencetak gol balasan ke jala Rusia. Jika
> pertandingan itu seri, maka Inggris-lah yang lolos karena menang
> head-to-head atas Rusia.
>
> "Untunglah", skenario "murahan" macam itu tidak terjadi. Sungguh,
> takkan lebih memalukan apabila Inggris lolos ke Austria-Swiss hanya
> karena mendapat bantuan dua kali dari tim medioker Israel dan salah
> satu tim terlemah di Eropa, Andorra.
>
> Tak terbayangkan jika hari ini koran-koran Inggris memasang headline-
> nya besar-besar, "Thank God We Have Israel and Andorra!" Karena
> jalannya demikian, tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Inggris
> memang tak pantas lolos.
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke